- Anggota DPRD DKI Jakarta Kevin Wu menolak wacana penjualan hak penamaan fasilitas publik kepada partai politik pada Selasa (14/4/2026).
- Kevin mengusulkan optimalisasi konsep Transit-Oriented Development untuk meningkatkan jumlah penumpang serta pendapatan tiket transportasi umum di Jakarta.
- Pemprov DKI disarankan menambah pendapatan melalui penyewaan ruang usaha kepada tenant komersial dan penempatan iklan perusahaan swasta di stasiun.
Suara.com - Kevin Wu, anggota Komisi A DPRD DKI Jakarta dari Fraksi Partai Solidaritas Indonesia, mengusulkan solusi alternatif bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD).
Usulan ini muncul sebagai respons atas wacana Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung yang membuka peluang partai politik membeli hak penamaan atau naming rights di stasiun dan halte.
Kevin menyatakan memahami kebutuhan Jakarta akan tambahan pemasukan, tetapi menjual nama fasilitas publik kepada partai politik bukan satu-satunya jalan.
"Saya memahami bahwasanya DKI Jakarta juga membutuhkan tambahan PAD. Tapi, ini bukan satu-satunya cara untuk memperoleh pendapatan tambahan. Apalagi, kita membicarakan sektor transportasi publik yang sebenernya sangat potensial," ungkap Kevin dalam keterangan tertulis yang diterima Suara.com, Selasa (14/4/2026).
Ia mendorong agar Pemprov DKI lebih serius menggarap konsep Transit-Oriented Development (TOD) yang selama ini kerap dibahas.
Menurut Kevin, optimalisasi integrasi antara transportasi umum dan gedung-gedung di sekitarnya akan lebih efektif mendongkrak pendapatan melalui peningkatan jumlah penumpang.
"Tinggal dikembangkan, misalnya memperluas integrasi transum dengan bangunan-bangunan di sekitar halte dan stasiun-stasiun. Ketika keterhubungan itu tercipta, maka akan ada lebih banyak lagi yang akan menggunakan transum. Ini bisa mendongkrak pendapatan tiket," jelasnya.
Selain sektor tiket, Kevin menilai peluang besar juga datang dari penyediaan ruang usaha bagi tenant di area fasilitas transportasi.
"Sekarang di banyak halte-halte bus dan stasiun-stasiun, ada juga lapak-lapak yang bisa disewakan. Ini yang harus dikembangkan. Bagaimana caranya kemudian Pemprov DKI menarik lebih banyak lagi tenant-tenant masuk ke dalam," kata Kevin.
Baca Juga: Pramono Buka Peluang Partai Politik Ikut Naming Rights Halte, Asal Tak Ganggu Wajah Kota
Ia juga mengusulkan perbaikan tata letak atau layout di stasiun dan halte agar arus penumpang dapat memberikan keuntungan maksimal bagi para pedagang yang menyewa tempat.
"Bahkan, masih terbuka ruang yang cukup luas juga untuk menarik iklan-iklan dari perusahaan-perusahaan swasta di Jakarta," paparnya.
Kevin menilai langkah-langkah profesional dan komersial murni seperti itu jauh lebih elegan ketimbang melibatkan atribut politik di fasilitas umum.
Legislator PSI itu optimistis pendapatan daerah bisa ditingkatkan tanpa memicu polemik di tengah masyarakat.
"Ini semua memperlihatkan bahwa ada alternatif untuk menambah PAD Jakarta di sektor transportasi publik, tanpa menimbulkan huru-hara di tengah masyarakat," pungkas Kevin.
Berita Terkait
-
Pramono Buka Peluang Partai Politik Ikut Naming Rights Halte, Asal Tak Ganggu Wajah Kota
-
Pramono Sebut Parpol Bisa Beli Nama Halte, NasDem Langsung Incar Naming Rights Gondangdia
-
Jakarta Tempati Peringkat 17 Dunia dalam Transportasi Umum Terbaik
-
Sentil Pemprov DKI Soal Preman Tanah Abang, Kevin Wu: Jangan Baru Gerak Kalau Sudah Viral!
-
Lindungi Aset Umat, BPN DKI dan PWNU Jakarta Percepat Sertifikasi Tanah Wakaf
Terpopuler
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Gugurkan Klaim Santriwati 'Hamil Tanpa Hubungan Badan', Polisi Tangkap Kiai di Pekalongan
- Persija Sudah Temukan Pengganti Mauricio Souza, Target Juara Super League Musim Depan
- 5 Sepatu Adidas Tanpa Tali yang Serbaguna, Anti Pegal Dipakai Jalan Seharian
Pilihan
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
-
Live 'Pocong Jadi-Jadian' Hebohkan Warga Sragen, 3 Pelajar Diamankan Polisi
Terkini
-
Prabowo Akhiri Kunjungan Kenegaraan di Prancis, Bertolak Kembali ke Jakarta
-
Mangkir dari Pemeriksaan Gas 'Whip Pink', Influencer ZNM dan Dua Saksi Lain Dijemput Paksa Polisi
-
Dulu Diminta Balik ke Barak, Ray Rangkuti Kritik TNI Kini 'Kepung' Ranah Sipil
-
Modus Pungli dan Titipan dalam SPMB 2026, dari Uang Bangku hingga Rekayasa Domisili
-
Tragedi Jip Wisata Bromo: Rem Blong di Tikungan Letter S Wonokitri, Dua Orang Tewas
-
Bahaya Gas N2O Whip Pink: Konsumen Alami Lumpuh Temporer hingga Kerusakan Saraf Tepi
-
Polisi Ungkap Kronologi dan Penyebab Sementara Ledakan PT MCCI Cilegon
-
Polemik Kurban Uang Negara: Dasar Hukum, Pandangan MUI, dan Alasan Pemerintah
-
Geger Eks Pegawai Sudin LH Jakpus Tewas Usai Diduga Lompat dari Jembatan Cawang
-
Gen Z Lebih Berani dan Tak Kenal Takut Dibanding Generasi Orde Baru