-
Indonesia dikabarkan memberi izin terbang bebas bagi militer Amerika Serikat di wilayah udara nasional.
-
Kebijakan baru ini berpotensi menggeser doktrin politik luar negeri bebas aktif Indonesia saat ini.
-
Dampak akses ini memicu kekhawatiran kedaulatan serta potensi reaksi keras dari pemerintah China.
Suara.com - Langkah berani diambil Presiden Prabowo Subianto yang dikabarkan telah mencapai kesepahaman strategis dengan Presiden Donald Trump mengenai akses udara.
Kebijakan ini memungkinkan pesawat militer Amerika Serikat melintasi dan singgah di wilayah udara Indonesia tanpa perlu persetujuan kasus per kasus.
Hal itu dikatakan analis kebijakan pertahanan Murray Hunter dalam Eurasiareview.
"AS Berupaya Mendapatkan Hak Penerbangan Militer di Atas Wilayah Udara Indonesia: Ini Akan Mengubah Keseimbangan Kekuatan Regional Secara Dramatis," begitu judulnya opininya di media tersebut yang dipublish, Rabu (15/4/2026).
Menurut dia, informasi ini mulai terkuak menyusul kunjungan Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin ke markas besar Departemen Pertahanan AS baru-baru ini.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth melalui sebuah unggahan di platform X mengonfirmasi adanya peningkatan status hubungan kedua negara tersebut.
Hegseth menyatakan, “AS dan Indonesia meningkatkan hubungan mereka menjadi Kemitraan Kerja Sama Pertahanan utama.”
Selama puluhan tahun Indonesia dikenal sangat ketat dalam mengatur penggunaan ruang udara nasional bagi kepentingan militer asing.
Bahkan untuk penerbangan sipil internasional pun Indonesia biasanya mewajibkan izin terbang yang harus diajukan jauh-jauh hari sebelumnya.
Baca Juga: Investor Masa Bodoh dengan Perang, Wall Street Terus Meluncur Naik
Namun kini Jakarta tampaknya sedang bersiap memberikan pengaturan akses militer paling krusial bagi Washington di wilayah Asia Tenggara.
Kesepakatan ini diprediksi memiliki bobot strategis yang serupa dengan perluasan pangkalan militer AS di Filipina dan Australia Utara.
Dengan izin ini pesawat militer Amerika Serikat akan memperoleh jalur bebas menuju Laut China Selatan serta Selat Malaka.
Operasi Kontinjensi di Selat Malaka
Berdasarkan dokumen internal Departemen Pertahanan AS ke akses ini bertujuan untuk memperlancar misi tanggap krisis di seluruh Indonesia.
Dokumen berjudul “Operasionalisasi Overflight AS” tersebut merinci bahwa akses selimut ini menggantikan sistem persetujuan manual yang selama ini berlaku.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- 7 HP Samsung Seri A yang Sudah Kamera OIS, Video Lebih Stabil
Pilihan
-
Warga Sambeng Borobudur Terancam Kehilangan Mata Air, Sendang Ngudal Dikepung Tambang
-
Rivera Park Tebo Terancam Lagi, Tambang Ilegal Kembali Beroperasi Saat Wisatawan Membludak
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
-
Habis Kesabaran, Rossa Ancam Lapor Polisi Difitnah Korban Operasi Plastik Gagal
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
Terkini
-
Menaker: Pemanfaatan AI Tertinggal, Kemnaker Perkuat Kompetensi Pekerja
-
BPOM Bantah Isu Penolakan Industri di Balik Aturan Label SehatTidak Sehat pada Makanan
-
Usai dari Rusia, Prabowo Temui Macron di Paris: Bahas Alutsista hingga Energi Bersih
-
Militer AS 18 Kali Langgar Wilayah RI Tanpa Maaf, Kini Berpotensi 'Terbang Seenaknya'
-
Pastikan Santunan Bagi Ahli Waris PHL, BPJS Ketenagakerjaan Tegaskan Negara Hadir Lindungi Pekerja
-
Surat Kemlu Bocor: Izin 'Terbang Bebas' Militer AS Berisiko Jadikan Indonesia 'Medan Perang'
-
Terseret Dugaan Kasus Korupsi, Nadiem Makariem Akui Kurang Pahami Budaya Birokrasi
-
Trump Kritik Paus Leo XIV hingga Lecehkan Yesus, Presiden Iran: Gak Bisa Dimaafkan!
-
China Bantah Pasok Senjata untuk Iran, Fitnah Tak Berdasar
-
China Bantah Tuduhan Suplai Senjata ke Iran: Laporan Itu Dibuat-Buat!