-
Konflik Iran memutus pasokan LPG India yang bergantung pada jalur Selat Hormuz.
-
Jutaan buruh migran melakukan migrasi balik karena industri tutup dan harga gas melonjak.
-
Cadangan energi India yang menipis mengancam stabilitas ekonomi dan kesejahteraan pekerja harian.
Kesenjangan antara upah buruh dan harga kebutuhan pokok di pasar gelap membuat kelangsungan hidup di kota besar menjadi mustahil bagi migran.
Chandan, pekerja muda di industri suku cadang motor, menceritakan bagaimana seluruh tabungan nikahnya habis hanya untuk membeli gas eceran.
"Sebelum krisis gas yang tidak terduga ini, saya biasa membeli sepiring nasi seharga 50 rupee (sekitar setengah dolar), tetapi semua tempat makan telah melipatgandakan harga untuk piring yang sama, mengklaim kenaikan yang sama pada gas komersial di pasar gelap. Saya berpenghasilan sekitar 500 rupee sehari ($6), dan saya tidak mampu membeli satu kilo gas seharga 400 rupee ($4),” ujar Chandan.
Upaya pemerintah memberikan instruksi darurat kepada kilang minyak untuk memaksimalkan produksi dianggap belum mampu membendung krisis biaya hidup.
Sistem regulasi yang membatasi pembelian gas bagi warga di luar domisili resmi kian menyulitkan para perantau untuk mendapatkan bahan bakar legal.
Walaupun kuota tabung lima kilogram telah ditambah, distribusi di lapangan masih sangat terbatas dan sulit diakses oleh masyarakat kelas bawah.
Bayang-bayang Trauma Pandemi yang Terulang
Para pengamat sosial melihat pola migrasi ini serupa dengan kejadian kelam saat penguncian wilayah akibat Covid-19 beberapa tahun silam.
Sunil Kumar Aledia dari Centre for Holistic Development mengkritik sikap pemerintah yang dianggap membiarkan para migran berjuang sendirian tanpa bantuan nyata.
Baca Juga: Respons Arogansi AS, Iran Siapkan Metode Pertempuran Mematikan
“Mereka menghadapi beban krisis LPG. Meskipun tampaknya dampaknya bertahap, pemerintah belum menawarkan bantuan apa pun,” tutur Aledia.
Ia memperingatkan bahwa jika penanganan tetap lamban, gejolak sosial ini akan membesar dan merusak stabilitas ekonomi pedesaan yang tidak siap menampung limpahan tenaga kerja.
Tekanan pada ekonomi desa akan meningkat tajam karena hilangnya kiriman uang dari kota yang selama ini menghidupi keluarga di pelosok.
Profesor S Irudaya Rajan menekankan bahwa kerusakan ekonomi kali ini berpotensi lebih parah dibandingkan resesi global tahun 2008.
“Bukan hanya India, tetapi orang-orang dari beberapa negara lain di Asia Tenggara menghasilkan persentase pengiriman uang yang signifikan dari negara-negara Teluk yang melebihi pendapatan dari keterlibatan tenaga kerja domestik. Saat orang-orang mulai bermigrasi dari negara-negara yang dilanda perang, dampak migrasi internal akan diperparah oleh migrasi balik internasional ini,” jelas Rajan.
Di stasiun kereta api New Delhi, keputusasaan terlihat jelas dari wajah para pekerja yang rela membayar tiket dengan harga berkali lipat demi bisa pulang.
Sintu Kumar Bhagat adalah salah satu dari sekian banyak orang yang harus meninggalkan mimpinya di kota setelah menganggur lebih dari satu bulan.
Perasaan gagal pun menyelimuti para kepala keluarga yang pulang tanpa membawa hasil dari perantauan panjang mereka.
"Saya telah melakukan perjalanan 1.000 km dari desa saya di Jharkhand ke Delhi untuk menghidupi keluarga saya yang terdiri dari lima orang, sekarang pulang ke rumah dengan tangan hampa terasa seperti kutukan," ucap Ashok Kumar Chaudhary sambil menggendong ranselnya.
Krisis ini bermula dari konflik militer di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel, yang berujung pada penutupan Selat Hormuz.
Jalur ini merupakan urat nadi energi dunia, di mana India menggantungkan sebagian besar impor LPG-nya dari Qatar, UEA, dan Arab Saudi melalui rute tersebut.
Pemerintah India melaporkan bahwa cadangan minyak strategis mereka hanya cukup untuk lima hari, sementara cadangan LPG hanya bertahan sekitar 20 hari dalam kondisi darurat, yang memicu kepanikan pasar dan lonjakan harga di tingkat konsumen.
Berita Terkait
Terpopuler
- LHKPN Tembus Rp7,2 Miliar, Kendaraan Plt Jampidsus Rudi Margono Cuma Motor Honda Seharga Rp5 Juta
- HP Murah Tapi Bagus HP Apa? Ini 9 Rekomendasi Terbaik Mulai Rp1 Jutaan
- 5 Sepatu Kanky Warna Putih Mulai Rp160 Ribuan, Nyaman dan Stylish
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- Tan Kian Orang Terkaya ke Berapa di Indonesia?
Pilihan
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
-
Hari Pertama Sekolah Mencekam! SDN Srengseng Sawah 15 Diteror Bom, Gegana dan Densus 88 Turun Tangan
Terkini
-
Bukan Buang Duit, Ini Alasan Sewa Mobil Dinas Tangsel Lebih Hemat Ketimbang Beli
-
Kapolri Temui Jaksa Agung dan Panglima TNI, Redam Friksi Kasus Febrie Adriansyah
-
Terungkap! Motif Siswa Padang Ledakkan Bom, Dendam Dibully Sejak SD
-
Adian Napitupulu Terima Buku Anotasi KUHAP, Ini Fungsinya
-
Tragedi di Balik Tembok Pesantren: Mengurai Kasus Santri Dibakar di Lombok
-
Bupati Mojokerto Berangkatkan 30 Siswa Sekolah Rakyat ke Kediri untuk Tahun Ajaran 2026/2027
-
Rugikan Masyarakat, Gubsu Bobby Minta Pertamina Bereskan Persoalan Distribusi BBM Dalam Dua Hari
-
Menhut Raja Juli Soal Inpres Gajah: 9 Menteri Wajib Jaga Habitat Nona Seroja dan Bang Domang
-
Legislator PDIP Tegaskan RUU Perampasan Aset Jalan Terus: Kita Geber Sampai Sah!
-
Teror Bom di SD Srengseng, Wakil Ketua Komisi X Desak Polisi Usut Tuntas