-
Geografi Selat Hormuz memberikan Iran keunggulan strategis untuk melawan blokade ekonomi Amerika Serikat.
-
Penurunan drastis lalu lintas kapal terjadi akibat risiko ranjau dan serangan rudal pesisir.
-
Perusahaan pelayaran internasional memilih menghindari selat hingga ada jaminan keamanan yang benar-benar solid.
Suara.com - Garis pantai yang curam dan posisi strategis membuat Iran tetap mendominasi Selat Hormuz meski di bawah tekanan besar.
Upaya Amerika Serikat menutup akses pelabuhan Iran justru dibalas dengan penguatan kontrol fisik pada jalur distribusi energi global.
Dikutip dari Washington Post, ketegangan ini meningkat drastis setelah wacana gencatan senjata selama dua minggu gagal memberikan kepastian keamanan navigasi laut.
Kondisi geografis yang unik memungkinkan Teheran untuk terus mendikte siapa saja yang boleh melintasi wilayah perairan tersebut.
Bahkan tanpa kekuatan armada laut konvensional yang setara, Iran mampu menciptakan zona larangan melintas melalui taktik gerilya laut.
Hanya segelintir kapal yang berani melintas setiap harinya dibandingkan dengan kondisi normal sebelum pecahnya konflik bersenjata ini.
Data menunjukkan penurunan drastis aktivitas pelayaran dari ratusan kapal menjadi angka satuan akibat tingginya risiko serangan ranjau.
“De facto, gencatan senjata tidak melakukan apa pun untuk mengubah situasi [di selat]. Tidak ada sama sekali,” kata Lars Jensen dari Vespucci Maritime.
Ketakutan akan serangan mendadak menjadi faktor utama yang melumpuhkan nadi perdagangan minyak dan gas alam cair dunia.
Baca Juga: Militer AS 18 Kali Langgar Wilayah RI Tanpa Maaf, Kini Berpotensi 'Terbang Seenaknya'
Hormuz memegang peranan krusial karena mengalirkan sekitar 20 persen konsumsi minyak mentah global setiap harinya ke pasar internasional.
Keuntungan Medan Tempur bagi Teheran
Kedalaman air yang dangkal memaksa kapal raksasa masuk ke jalur sempit yang sangat mudah dipantau oleh radar darat.
Posisi ini membuat kapal tanker berukuran masif menjadi sasaran empuk bagi unit-unit kecil angkatan laut yang bergerak lincah.
Selain faktor teknis pelayaran, ancaman psikologis dari keberadaan ranjau laut yang tersebar secara acak menghambat proses evakuasi.
“Ranjau adalah masalah psikologis sekaligus masalah nyata,” ujar Frank Galgano, seorang profesor geografi dari Villanova University.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- 7 HP Samsung Seri A yang Sudah Kamera OIS, Video Lebih Stabil
Pilihan
-
Warga Sambeng Borobudur Terancam Kehilangan Mata Air, Sendang Ngudal Dikepung Tambang
-
Rivera Park Tebo Terancam Lagi, Tambang Ilegal Kembali Beroperasi Saat Wisatawan Membludak
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
-
Habis Kesabaran, Rossa Ancam Lapor Polisi Difitnah Korban Operasi Plastik Gagal
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
Terkini
-
Blokade Selat Hormuz AS Paksa 6 Kapal Tanker Iran Putar Balik di Teluk Oman
-
Respons Arogansi AS, Iran Siapkan Metode Pertempuran Mematikan
-
Media Eropa-Asia: Jika Pesawat Perang AS Bebas di Udara Indonesia akan Ubah Peta Kekuatan Regional
-
Menaker: Pemanfaatan AI Tertinggal, Kemnaker Perkuat Kompetensi Pekerja
-
BPOM Bantah Isu Penolakan Industri di Balik Aturan Label SehatTidak Sehat pada Makanan
-
Usai dari Rusia, Prabowo Temui Macron di Paris: Bahas Alutsista hingga Energi Bersih
-
Militer AS 18 Kali Langgar Wilayah RI Tanpa Maaf, Kini Berpotensi 'Terbang Seenaknya'
-
Pastikan Santunan Bagi Ahli Waris PHL, BPJS Ketenagakerjaan Tegaskan Negara Hadir Lindungi Pekerja
-
Surat Kemlu Bocor: Izin 'Terbang Bebas' Militer AS Berisiko Jadikan Indonesia 'Medan Perang'
-
Terseret Dugaan Kasus Korupsi, Nadiem Makariem Akui Kurang Pahami Budaya Birokrasi