-
Iran memberlakukan aturan khusus di Selat Hormuz untuk merespons blokade militer Amerika Serikat.
-
Perundingan damai di Pakistan gagal mencapai kesepakatan gencatan senjata antara kedua negara.
-
Angkatan Laut Amerika Serikat mulai mencegat kapal tanker minyak yang keluar dari Iran.
Suara.com - Pemerintah Iran secara resmi mulai merancang regulasi ketat bagi seluruh lalu lintas kapal yang melintasi kawasan strategis Selat Hormuz.
Langkah ini diambil sebagai bentuk pertahanan kedaulatan setelah upaya diplomasi dengan Amerika Serikat menemui jalan buntu di Pakistan.
Dikutip dari Sputnik, Teheran kini memposisikan jalur perairan tersebut sebagai instrumen tawar utama dalam menghadapi tekanan militer global yang kian meningkat.
Ketegangan ini menjadi babak baru dalam konfrontasi terbuka yang mengancam stabilitas distribusi energi dari wilayah Timur Tengah.
Blokade fisik yang diluncurkan Washington memaksa Iran untuk menggunakan legitimasi hukum internasional atas wilayah perairannya sendiri.
Juru bicara pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani, menegaskan bahwa Selat Hormuz merupakan aset nasional yang sangat vital bagi mereka.
Mohajerani menyatakan kebijakan ini penting untuk menjaga posisi tawar negara dalam dinamika hubungan internasional yang sedang memanas.
"Selat Hormuz adalah aset strategis negara kami. Seperti halnya aset yang digunakan sebagai alat tawar dalam hubungan dengan negara lain, perlu dibuat aturan khusus," kata Mohajerani.
Pemerintah Iran memastikan akan menggerakkan seluruh sumber daya demi menjamin penghormatan dunia terhadap kedaulatan wilayah tersebut.
Baca Juga: Kapal Tanker China Gagal Tembus Blokade AS di Teluk Persia
Teheran menilai intervensi asing di koridor maritim tersebut telah melampaui batas kewajaran hukum laut internasional saat ini.
Kegagalan Diplomasi di Islamabad
Situasi memburuk setelah perundingan langsung antara perwakilan Iran dan Amerika Serikat di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan apa pun.
Padahal, pertemuan yang dimulai pada 11 April tersebut diharapkan mampu memperpanjang napas gencatan senjata yang sebelumnya diinisiasi Donald Trump.
Wakil Presiden AS, JD Vance, mengonfirmasi bahwa delegasi mereka meninggalkan meja perundingan dengan hasil yang nihil pada hari berikutnya.
Kegagalan ini langsung direspons oleh Gedung Putih dengan perintah penghentian total seluruh akses kapal dari dan menuju Iran.
Berita Terkait
Terpopuler
- AMPB Pulang Usai Audiensi DPR, Relawan Ojol Curiga Ada Kesepakatan Transaksional
- Setelah Pelatih Giliran Suporter FC Twente Usir Mees Hilgers: Pemain Malas
- Cara Membersihkan Bunga Es dengan Aman dan Cepat Tanpa Merusak Freezer
- Daihatsu Kenalkan Mobil 120 Jutaan, 1 Liter Jalan 27 Km
- Di Bursa Capres 2029: Elektabilitas Dedi Mulyadi Tembus 42 Persen, Ungguli Prabowo
Pilihan
-
Diseret dari Gang ke Jalan! Kronologi Pedagang Cermin Tewas Dikeroyok Saat Demo Ricuh
-
Senayan Kondusif: Tol Dalam Kota Normal dan Blokade Jalan Dibuka Pasca Bentrok 27 Agustus
-
Ada Isu Aksi Demo Lanjutan, BEI Minta Investor Tak Panik
-
Admin Medsos dan Pengkritik Jadi Target Penangkapan Jelang Demo Agustus
-
3 Pesawat Tempur F16 'Rally' di Langit Jakarta Jumat Pagi, Ini Klarifikasi TNI AU
Terkini
-
5 Temuan Kasus Febrie Adriansyah: Beraksi 8 Tahun, Kumpulkan 'Harta' Luar Biasa
-
Carmen Hearts2Hearts Cetak Sejarah, Bawa Nama Indonesia di KWDA 2026
-
Pedagang Tewas Dikeroyok Brutal Pakai Bambu, Dugaan Keterlibatan 'Ormas' menguat
-
Asapi Lawan di Sprint Race Aragon, Marc Marquez Jaga Asa Juara MotoGP 2026
-
5 Cara Cek Karhutla Lewat HP, Pantau Hotspot hingga Sebaran Asap
-
Adu Nyali di Sirkuit Gery Mang Subang! Kejurnas MotoPrix 2026 Siap Lahirkan Pembalap Masa Depan
-
4 Rekomendasi Lip Oil untuk Melembapkan Bibir Kering Sekaligus Memberi Warna
-
Axioo Hadir di Agres Karnaval Gadget 2026 Yogyakarta dengan Aktivitas AI dan Gaming
-
Review Drama No Tail to Tell, Kisah Asmara Atlet Sepak Bola dan Gumiho Gen Z
-
Tak Sekadar Pamer Produk, ADVAN Ajak Pengunjung Karnaval Gadget Jogja Coba Langsung