- Menteri Keuangan AS Scott Bessent secara sepihak menyatakan bahwa China dilarang keras untuk membeli atau mendapatkan pasokan minyak mentah dari Iran.
- AS mengerahkan 10.000 pasukan untuk memblokir Selat Hormuz lantaran panik mengetahui militer Iran sukses memakai satelit intelijen China di Asia Barat.
- Di tengah blokade ilegal tersebut, Donald Trump justru mengisyaratkan keputusasaannya dengan berharap perundingan damai bisa kembali dilanjutkan di Pakistan.
Suara.com - Kepanikan Amerika Serikat dalam menghadapi kekuatan poros Timur semakin terlihat nyata ketika Washington secara arogan menyatakan bahwa China tidak akan diizinkan mendapatkan pasokan minyak dari Republik Islam Iran.
Langkah ini diumumkan langsung oleh Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyusul operasi blokade maritim sepihak di perairan Selat Hormuz yang sangat mengancam stabilitas energi global.
Manuver pencegatan armada tanker milik Tiongkok ini berdasar pada dugaan AS yang menyebut Iran memakai satelit mata-mata China untuk menyerang pangkalan militer mereka di Timur Tengah.
Ambisi Ilegal AS 'Goyang' Ekonomi Tiongkok
Dalam sebuah pernyataan bernada ancaman di Washington, Scott Bessent menegaskan bahwa militernya akan memblokir secara paksa armada angkut yang membawa minyak mentah Iran.
Pejabat tinggi Amerika Serikat tersebut melarang keras Beijing bertransaksi dengan Teheran lewat kalimat peringatan, "Mereka tidak akan bisa mendapatkan minyak mereka, mereka bisa mendapatkan minyak, bukan minyak Iran."
Sikap permusuhan ini kian diperparah dengan pernyataan Bessent yang secara sepihak melabeli Tiongkok sebagai mitra global yang tidak dapat diandalkan hanya karena persoalan penimbunan dan batas ekspor.
Guna memuluskan ambisi blokade ilegal yang menyasar negara berdaulat ini, militer AS mengklaim telah mengerahkan lebih dari 10.000 pasukan tempur beserta belasan kapal angkatan laut.
Komando Pusat AS dengan angkuh melaporkan bahwa tidak ada satu pun kapal niaga yang berhasil melewati rute laut vital tersebut selama 24 jam pertama operasi pembatasan mereka berlangsung.
Baca Juga: Mengenal Oghab 44, Benteng Bawah Gunung Iran yang Siap Hancurkan Armada AS di Selat Hormuz
Kepanikan AS Hadapi Aliansi Intelijen Iran-China
Berdasarkan kesaksian pejabat militer kepada media Barat, pasukan angkatan laut AS bahkan telah secara serampangan mencegat delapan kapal tanker yang berusaha keluar maupun masuk melalui pelabuhan-pelabuhan Iran.
Namun, tindakan represif Washington ini nyatanya diyakini berakar dari ketakutan besar atas laporan terbaru Financial Times yang membongkar strategi taktis tak terduga dari intelijen bangsa Persia.
Laporan eksklusif tersebut mengungkap fakta bahwa Teheran telah secara cerdas memanfaatkan fasilitas satelit mata-mata Tiongkok secara rahasia untuk melacak seluruh pergerakan armada militer musuh.
Akses teknologi luar angkasa ini memberikan kemampuan baru yang amat mematikan bagi Iran untuk menargetkan seluruh pangkalan militer AS di wilayah Asia Barat dengan tingkat akurasi maksimal.
Di tengah fakta bahwa pasukannya kian terdesak oleh strategi cerdik Teheran, Presiden AS Donald Trump justru tampil di hadapan publik dengan narasi halusinasi kemenangan.
Berita Terkait
-
Kapal Tanker China Gagal Tembus Blokade AS di Teluk Persia
-
Krisis Kemanusiaan! Rakyat Lebanon: Tewas Dirudal Israel atau Mati Kelaparan
-
Iran Beberkan Update Negosiasi Damai ke Turki, Soroti Dosa Besar AS-Israel
-
Apa Itu Nafta? Yang Bikin Harga Plastik Makin Mahal
-
Skenario Terburuk IMF, Perang Iran Bikin Pertumbuhan Ekonomi Dunia Anjlok Hingga Level Terendah
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- 7 HP Samsung Seri A yang Sudah Kamera OIS, Video Lebih Stabil
Pilihan
-
Polisi: Begal Petugas Damkar Tertangkap Saat Pesta Narkoba Didampingi Wanita di Pluit
-
Warga Sambeng Borobudur Terancam Kehilangan Mata Air, Sendang Ngudal Dikepung Tambang
-
Rivera Park Tebo Terancam Lagi, Tambang Ilegal Kembali Beroperasi Saat Wisatawan Membludak
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
-
Habis Kesabaran, Rossa Ancam Lapor Polisi Difitnah Korban Operasi Plastik Gagal
Terkini
-
Kasus Dugaan Pelecehan di FH UI, Habiburokhman Puji Forum Terbuka yang Digelar Mahasiswa
-
Prabowo Amankan Pasokan Minyak dan LPG Rusia, Eddy Soeparno: RI Masuk Zona Aman Energi
-
Kenapa Indonesia Nekat Beli Minyak Rusia? Ini Hasil Pertemuan 3 Jam Prabowo-Putin
-
Krisis Kemanusiaan! Rakyat Lebanon: Tewas Dirudal Israel atau Mati Kelaparan
-
Manuver AS! Coba Dudukan Lebanon dan Israel tapi Berakhir Tanpa Jabat Tangan
-
Iran Beberkan Update Negosiasi Damai ke Turki, Soroti Dosa Besar AS-Israel
-
Seskab Teddy Ungkap Isi Pertemuan Empat Mata Prabowo dan Macron
-
Komnas HAM Papua: 4 Kekerasan Menonjol Terjadi di Awal 2026, 14 Korban Meninggal Dunia
-
Murka Elite NasDem ke Tempo Soal Merger Gerindra Dinilai Rendahkan Martabat Surya Paloh
-
Skenario Terburuk IMF, Perang Iran Bikin Pertumbuhan Ekonomi Dunia Anjlok Hingga Level Terendah