-
Sebanyak 399 tentara Amerika Serikat terluka sejak dimulainya serangan militer gabungan terhadap Iran.
-
Amerika Serikat berhasil menutup total jalur perdagangan laut menuju pelabuhan Iran dalam 36 jam.
-
Kegagalan negosiasi di Pakistan memicu berlakunya blokade maritim ketat di Selat Hormuz.
Pernyataan resmi ini menegaskan besarnya risiko yang dihadapi pasukan dalam menjalankan misi blokade maritim tersebut.
Meskipun memakan korban jiwa kekuatan militer Amerika Serikat berhasil menguasai jalur logistik strategis di perairan Teluk.
Seluruh perdagangan maritim yang terafiliasi dengan Iran berhasil dihentikan total dalam waktu yang sangat singkat.
Pasukan laut Amerika Serikat hanya membutuhkan waktu kurang dari 36 jam untuk menutup akses keluar masuk.
Aksi penutupan jalur ini dilakukan terhadap semua kapal tanpa memandang bendera negara asal yang menuju pelabuhan.
Kebijakan tegas ini mulai diberlakukan secara efektif sejak awal pekan ini melalui instruksi langsung komando tertinggi.
Navigasi Selat Hormuz Dan Kapal Tanker
Walaupun melakukan blokade ketat militer Amerika tetap menjamin kebebasan navigasi bagi kapal menuju pelabuhan non-Iran.
Selat Hormuz tetap dibuka terbatas hanya untuk lalu lintas komersial yang tidak berkaitan dengan kepentingan ekonomi Teheran.
Baca Juga: Ada Transfer Teknologi Alutsista? Ini 5 Fakta Kemitraan Indonesia dan Departemen Urusan Perang AS
"Pasukan AS tidak akan menghalangi kebebasan navigasi bagi kapal yang melintas di Selat Hormuz menuju dan dari pelabuhan non-Iran," tegas Brad Cooper.
Laporan terbaru menunjukkan tidak ada satu pun kapal yang mampu menembus barikade militer pada hari pertama.
Sejumlah kapal dagang memilih untuk memutar balik demi menghindari konfrontasi langsung dengan kapal perang Amerika Serikat.
Angkatan Laut Amerika Serikat juga dilaporkan telah mencegat delapan unit kapal tanker minyak yang mencoba melintas.
Kapal-kapal pengangkut energi tersebut diketahui sedang menuju atau baru saja meninggalkan dermaga di wilayah pelabuhan Iran.
Tindakan ini bertujuan untuk memutus urat nadi ekonomi lawan yang sangat bergantung pada ekspor komoditas minyak.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- 7 HP Samsung Seri A yang Sudah Kamera OIS, Video Lebih Stabil
Pilihan
-
CFD Ampera Bikin Macet, Akademisi: Ada yang Salah dari Cara Kota Diatur
-
Polisi: Begal Petugas Damkar Tertangkap Saat Pesta Narkoba Didampingi Wanita di Pluit
-
Warga Sambeng Borobudur Terancam Kehilangan Mata Air, Sendang Ngudal Dikepung Tambang
-
Rivera Park Tebo Terancam Lagi, Tambang Ilegal Kembali Beroperasi Saat Wisatawan Membludak
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
Terkini
-
Disenggol Soal Paus Leo XIV hingga Tak Dibantu di Selat Hormuz, Trump Tantrum ke PM Italia
-
Anak Palestina Dilarang Sekolah, Israel Tembak Gas Air Mata ke 55 Siswa SD
-
Usai Kasus Foto AI PPSU, Pramono Benahi Sistem JAKI dan Batasi Akses Laporan ASN
-
Senyap, Iran Siap-siap Stok Rudal dan Drone di Tengah Gencatan Senjata
-
Bukan di Bawah Menteri, Baleg DPR Sepakat Bentuk Badan Baru Untuk Kelola Satu Data Indonesia
-
Petisi Tembus 1 Juta Tanda Tangan, Warga Eropa Desak Uni Eropa Putus Hubungan dengan Israel
-
Kasus ISPA Sempat Naik, Pancoran Perkuat Edukasi Kesehatan Lewat 125 Kader
-
Lobi Prabowo ke Putin Berhasil Amankan Pasokan BBM, Eddy Soeparno: Indonesia Masuk Zona Aman
-
Iran Perketat Aturan Selat Hormuz Hadapi Blokade AS di Teluk Persia
-
Polemik Ijazah Jokowi Kembali Ramai usai Nama JK Disebut, Pengamat Soroti Perang Narasi