- Menkes Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan adanya jutaan penerima subsidi kesehatan tidak tepat sasaran saat rapat DPR pada April 2026.
- Integrasi data BPS menunjukkan ribuan penerima bantuan iuran berasal dari kelompok ekonomi mampu atau desil 10 terkaya.
- Pemerintah akan menghapus subsidi bagi warga kaya dan mengalihkan kuotanya kepada masyarakat miskin yang lebih membutuhkan bantuan tersebut.
Suara.com - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan, adanya anomali besar dalam penyaluran subsidi kesehatan di Indonesia.
Berdasarkan integrasi data terbaru, ditemukan jutaan penerima bantuan iuran yang justru berasal dari kalangan masyarakat mampu, termasuk mereka yang masuk dalam kategori 10 persen orang terkaya (Desil 10).
Hal tersebut disampaikan Menkes Budi dalam Rapat Kerja bersama Komisi IX DPR RI di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Rabu (15/4/2026).
"Dengan adanya perapihan data oleh BPS yang tersentralisasi ini—duduk antara Kemendagri, Kemensos, dan Kemenkes—kita melihat ada anomali. Bahwa uang yang kita bayarkan, itu tidak semuanya untuk 50% orang termiskin. Ada juga yang 10% orang terkaya pun kita bayarkan sesudah kita konsolidasikan data di BPS," ujar Budi dalam paparannya di dalam rapat
Ia memaparkan, rincian data yang dianggap kurang tepat sasaran setelah dilakukan sinkronisasi.
Dari total 96 juta penerima PBI (Penerima Bantuan Iuran) yang dibayarkan Kemenkes, terdapat sekitar 47 ribu data yang tidak tepat sasaran. Budi bahkan sempat berkelakar mengenai Sekjen Kemenkes yang pernah masuk dalam daftar tersebut.
"Sebagai contoh, PBI yang dibayarkan Kemenkes, itu masih ada dari 96 jutaan itu 47 ribu yang kurang tepat sasaran, ya. Saya—kalau saya boleh bercanda sedikit—Pak Kunta, Sekjen saya, dulu masuk di situ, gitu ya, pernah ya," tuturnya.
Namun, angka yang lebih fantastis ditemukan pada kategori lain. Menkes menyebut ada sekitar 35 juta data PBU (Pekerja Bukan Penerima Upah) Pemda dan 11 juta data PBU BP Kelas 3 yang teridentifikasi salah sasaran berdasarkan data BPS.
Menyikapi temuan tersebut, pemerintah berencana melakukan langkah tegas demi rasa keadilan.
Baca Juga: Cara Mendapatkan Antrean Faskes BPJS Kesehatan Lewat Aplikasi Mobile JKN
Ia menegaskan, bahwa kuota subsidi bagi warga kaya akan segera dihapus dan dialihkan kepada masyarakat yang lebih membutuhkan, khususnya mereka yang berada di kelompok Desil 5 yang selama ini belum tercover PBI.
"Pemerintah melihat bahwa demi keadilan, angka-angka yang kurang tepat sasaran ini mau kita alihkan ke yang lebih membutuhkan. Jadi ada beberapa teman kita di Desil 5 yang belum bisa masuk PBI. Nah, lebih baik kita kurangin yang Desil 10—yang 10% terkaya—kita hapus dia, kita alihkan kuotanya ke yang Desil 5," tegas Budi.
Integrasi data ini diharapkan dapat memastikan distribusi bantuan iuran kesehatan tepat sasaran di masa mendatang.
"Intinya pemerintah, begitu sudah ada integrasi data-data ini, kita ingin mendistribusikan PBI ini ke orang yang berhak, berbasiskan data BPS tadi. Dan itu jumlahnya lumayan besar sehingga kita bisa realokasikan ke orang yang lebih berhak," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 5 Rekomendasi Parfum Lokal yang Wanginya Segar seperti Malaikat Subuh
- 67 Kode Redeem FF Max Terbaru 13 April 2026: Sikat Item Undersea, Evo Draco, dan AK47
Pilihan
-
CFD Ampera Bikin Macet, Akademisi: Ada yang Salah dari Cara Kota Diatur
-
Polisi: Begal Petugas Damkar Tertangkap Saat Pesta Narkoba Didampingi Wanita di Pluit
-
Warga Sambeng Borobudur Terancam Kehilangan Mata Air, Sendang Ngudal Dikepung Tambang
-
Rivera Park Tebo Terancam Lagi, Tambang Ilegal Kembali Beroperasi Saat Wisatawan Membludak
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
Terkini
-
22 Tahun Digantung DPR, Aktivis Sebut Penundaan RUU PPRT Sebagai Ujian Moral Bangsa
-
Hasil Studi IHDC: 1 dari 5 Anak Jakarta Alami Gangguan Memori Akibat Anemia
-
Rekrutmen Nasional 30 Ribu Manajer Koperasi Desa Resmi Dibuka, Ini Syaratnya
-
Rismon Bantah Terima Uang Damai Kasus Ijazah Jokowi, Sebut Tuduhan Tak Masuk Akal
-
RUU PPRT Belum Tuntas usai 22 Tahun, Koalisi Minta Presiden Segera Ambil Sikap
-
Stok Bensin dan Gas LPG Aman? Simak 5 Fakta Indonesia Borong Minyak Rusia
-
Sambil Dekap Buku Jokowis White Paper, Rismon Mengaku Bisa Tidur Nyenyak usai SP3
-
YouTube Hapus Video Lego Kritik Trump, Iran Murka: Pembungkaman Ala Barat
-
Antisipasi Lonjakan ISPA, Sudinkes Jaksel Siagakan Puluhan Fasilitas Kesehatan dan Kader
-
Dunia Sibuk dengan Perang AS-Iran, Korut Diam-diam Percepat Produksi Bom Nuklir