-
Iran mengarahkan rudal ke kapal perang Amerika Serikat sebagai balasan atas blokade ekonomi laut.
-
Penasihat militer Iran mengancam akan menenggelamkan kapal induk Abraham Lincoln di Selat Hormuz.
-
Ketegangan meningkat karena kegagalan negosiasi damai dan kebijakan pembatasan ekspor minyak oleh AS.
Suara.com - Ketegangan di Selat Hormuz mencapai titik kritis setelah militer Iran mengarahkan sistem persenjataan rudal mereka secara langsung ke armada kapal perang Amerika Serikat.
Langkah provokatif ini muncul sebagai respons keras terhadap strategi blokade maritim yang dilancarkan Washington untuk melumpuhkan ekonomi Teheran melalui penghentian ekspor minyak.
Dikutip dari times of Suriname, Teheran menegaskan bahwa kehadiran militer Amerika di jalur perairan paling strategis di dunia tersebut kini berada dalam posisi yang sangat rentan.
Penasihat militer pemimpin tertinggi Iran secara terbuka menyatakan bahwa seluruh kapal perang lawan telah masuk dalam radar penguncian target serangan.
Pengerahan peluncur rudal ke titik-titik strategis di pesisir menjadi sinyal bahwa konflik terbuka dapat pecah sewaktu-waktu di kawasan Teluk.
Mohsen Rezai, penasihat militer Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, mengungkapkan kesiapan tempur pasukannya melalui sebuah rekaman video terbaru.
“Peluncur-peluncur itu kemungkinan besar telah dipindahkan oleh saudara-saudara kita dan sekarang ditujukan ke Abraham Lincoln dan semua kapal perang Amerika,” ujar Rezai.
Pernyataan ini menegaskan bahwa mobilitas unit artileri Iran telah meningkat secara signifikan sejak eskalasi blokade laut dimulai oleh pihak Amerika.
Rezai juga melontarkan peringatan keras mengenai potensi kehancuran total bagi unit angkatan laut lawan yang beroperasi di wilayah perairan tersebut.
Baca Juga: Hotel Burj Al Arab Dubai Tutup Total Selama 18 Bulan, Dampak Serangan Drone Iran
“Mereka semua berada di bawah peluncur kami sekarang dan kami akan menenggelamkan mereka semua. Kami tidak akan membiarkan satu pun melarikan diri dari kami,” tegasnya.
Dampak Blokade Maritim Amerika
Langkah militer Iran ini merupakan balasan langsung atas tindakan Amerika Serikat yang memulai blokade terhadap lalu lintas maritim di pelabuhan-pelabuhan Iran.
Pasukan Amerika Serikat menyatakan komitmen mereka untuk menghadang atau memutar balik setiap kapal yang berniat menuju atau meninggalkan pesisir Iran.
Kebijakan ini dirancang secara khusus oleh Washington untuk memutus aliran pendapatan utama Teheran yang bersumber dari perdagangan minyak mentah dunia.
Meskipun melakukan blokade, Amerika mengeklaim tetap mengizinkan kapal dengan tujuan negara lain untuk melintasi jalur pelayaran internasional Selat Hormuz tersebut.
Washington sangat mengandalkan kekuatan armada tempur laut mereka untuk mengendalikan akses logistik serta menekan stabilitas ekonomi pemerintah Iran secara menyeluruh.
Situasi yang memanas ini terjadi setelah para negosiator dari kedua belah pihak tidak berhasil mencapai kata sepakat dalam upaya mengakhiri peperangan.
Konflik bersenjata ini sebenarnya telah berlangsung sejak 28 Februari lalu, namun saat ini posisi kedua pihak berada dalam masa gencatan senjata.
Gencatan senjata selama dua minggu yang sedang berjalan tampak sangat rapuh seiring dengan meningkatnya aktivitas militer di sepanjang koridor Selat Hormuz.
Presiden Donald Trump sendiri memiliki agenda besar untuk memberikan tekanan ekonomi maksimal kepada Iran melalui dua sektor penggerak ekonomi yang utama.
Target utama Amerika adalah menghentikan pungutan tol yang sangat besar di Selat Hormuz serta menghapus pendapatan Iran dari penjualan minyak mentah.
Tuduhan Pembajakan dan Respon Kawasan
Dalam wawancaranya dengan Fox News, Trump menegaskan bahwa pihaknya tidak akan membiarkan Iran meraih keuntungan finansial dari perdagangan minyak secara sepihak.
Trump menyatakan tujuannya adalah menerapkan kebijakan akses yang ketat bagi saluran pengiriman krusial tersebut guna memastikan kepentingan keamanan nasional Amerika Serikat.
Pemerintah Iran bereaksi keras dengan melabeli tindakan blokade laut yang dilakukan oleh militer Amerika Serikat sebagai aksi pembajakan internasional.
Teheran juga memberikan peringatan bahwa mereka akan melakukan aksi balasan serupa dengan menargetkan pelabuhan-pelabuhan di negara-negara sekitar Teluk Arab.
Ancaman ini memperluas risiko konflik yang semula bersifat bilateral menjadi potensi krisis keamanan regional yang melibatkan banyak negara di Timur Tengah.
Krisis ini berakar dari perselisihan panjang mengenai kendali atas Selat Hormuz, yang merupakan jalur distribusi energi global paling vital di dunia.
Perselisihan memuncak setelah serangkaian serangan udara yang melibatkan pihak Amerika Serikat dan Israel, yang kemudian dibalas Iran dengan menutup akses selat.
Gagalnya diplomasi baru-baru ini memperparah ketidakpastian keamanan, sementara blokade ekonomi yang dilakukan AS dianggap Iran sebagai tindakan perang terbuka secara finansial.
Dunia kini menyoroti apakah gencatan senjata yang tersisa mampu mencegah konfrontasi langsung antara peluncur rudal Iran dan kapal induk Amerika Serikat.
Ketidakstabilan di kawasan ini diprediksi akan memicu lonjakan harga komoditas energi global jika eskalasi militer di Selat Hormuz benar-benar meledak menjadi pertempuran.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 67 Kode Redeem FF Max Terbaru 13 April 2026: Sikat Item Undersea, Evo Draco, dan AK47
- 5 Rekomendasi Parfum Lokal yang Wanginya Segar seperti Malaikat Subuh
Pilihan
-
Bukan Hanya soal BBM, Kebijakan WFH Mengancam Napas Bisnis Kecil di Magelang
-
Solidaritas Tanpa Batas: Donasi WNI untuk Rakyat Iran Tembus Rp9 Miliar
-
CFD Ampera Bikin Macet, Akademisi: Ada yang Salah dari Cara Kota Diatur
-
Polisi: Begal Petugas Damkar Tertangkap Saat Pesta Narkoba Didampingi Wanita di Pluit
-
Warga Sambeng Borobudur Terancam Kehilangan Mata Air, Sendang Ngudal Dikepung Tambang
Terkini
-
Zulhas Bongkar Penyebab Minyakita Langka, Ternyata Bukan Soal Stok
-
Bukan Rudal Iran! Warga Israel Kocar-kacir Diserang Hewan Kecil yang Diistimewakan Alquran
-
33 Hari Kasus Andrie Yunus, KontraS Soroti Lambannya Penanganan dan Minim Transparansi
-
AS Diminta Pakai Logika Jika Ingin Negosiasi Ulang dengan Iran
-
7 Fakta Panas Sengketa Lahan Tanah Abang: Adu Klaim Menteri Maruarar Sirait vs Hercules
-
Deadline Seminggu, Kasatgas Tito Minta Pemda Percepat Pendataan Huntap Beserta Klasifikasinya
-
Batalyon Netzah Yehuda, Tentara Religus Israel yang Bawa Taurat saat Melakukan Kekejaman
-
Padahal Dijaga Ketat, Kapal Tanker Berhasil Tembus Blokade Ketat Militer AS di Selat Hormuz
-
Update Muktamar NU 2026: Jadwal, Lokasi, dan Teka-teki Calon Ketua Umum
-
KontraS Ungkap Sejumlah Kejanggalan Kasus Andrie Yunus, Soroti Dugaan Impunitas