- Koordinator KontraS, Dimas Bagus Arya, mengkritik proses hukum militer atas kasus penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus yang dinilai tidak transparan.
- KontraS mengungkap adanya dugaan keterlibatan enam belas orang dalam operasi terstruktur serta menyoroti minimnya pengusutan komando di lingkungan BAIS.
- KontraS mendesak pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta independen guna memastikan penyelidikan kasus berjalan akuntabel tanpa adanya intimidasi pihak tertentu.
Suara.com - Koordinator KontraS, Dimas Bagus Arya, mengungkap sejumlah kejanggalan dalam penanganan kasus penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus yang hingga kini belum terungkap secara menyeluruh.
Dimas menyatakan, proses hukum yang berjalan di internal militer dinilai tidak sesuai dengan komitmen awal untuk mengungkap kasus secara transparan dan akuntabel, kendati berkas perkara telah dilimpahkan ke pengadilan hari ini.
Namun, KontraS menyayangkan sikap TNI yang belum juga merilis identitas empat tersangka yang diduga terlibat dalam peristiwa tersebut.
“Proses hukum yang berjalan dalam internal Militer tidak sesuai dengan komitmen dan juga janji yang disampaikan di awal oleh pihak TNI untuk mengungkap
kasus ini secara akuntabel dan transparan," kata Dimas dalam pernyataannya, Kamis (16/4/2026).
Selain itu, KontraS juga menilai penyelidikan dan penyidikan yang dilakukan oleh Puspom Mabes TNI belum menguraikan fakta-fakta yang telah disampaikan oleh Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD).
Fakta tersebut mencakup dugaan keterlibatan 16 orang dalam pengintaian, komunikasi, dan koordinasi sebelum kejadian, serta dugaan adanya operasi dan komando struktural yang belum diungkap ke publik.
KontraS juga menyoroti pergantian jabatan di lingkungan Badan Intelijen Strategis (BAIS) yang dinilai menimbulkan tanda tanya, khususnya terkait pertanggungjawaban komando.
Menurut Dimas, pertanggungjawaban tidak hanya bersifat etik, tetapi juga dapat mencakup sanksi pidana bagi atasan yang mengetahui tindakan bawahannya.
Lebih jauh, KontraS mencatat adanya dugaan tindakan teror dan intimidasi terhadap pihak-pihak yang menyatakan solidaritas kepada korban setelah peristiwa penyiraman air keras tersebut.
Baca Juga: Aktivis Mahasiswa Geruduk MK, Minta Kasus Air Keras Andrie Yunus Tak Masuk Peradilan Militer
“Hal ini menguatkan adanya siklus kekerasan dan impunitas,” kata Dimas.
Tak hanya itu, KontraS juga menyoroti pemblokiran konten kampanye solidaritas di media sosial oleh Kementerian Komunikasi dan Digital yang dinilai bertentangan dengan kebebasan berekspresi dan pers.
Selain itu, sikap Komisi III DPR RI juga menjadi perhatian karena dinilai belum mendorong pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) independen.
Dimas menegaskan, pembentukan TGPF penting untuk memastikan pengumpulan fakta dan alat bukti dilakukan secara cepat, transparan, dan bebas dari konflik kepentingan.
KontraS pun mendesak seluruh pihak menjalankan tugas dan fungsi secara transparan dan akuntabel sesuai prinsip demokrasi, hak asasi manusia, dan supremasi hukum.
Berita Terkait
-
Aktivis Mahasiswa Geruduk MK, Minta Kasus Air Keras Andrie Yunus Tak Masuk Peradilan Militer
-
Diskusi HMPM: Kebebasan Sipil Disorot, Kasus Kekerasan dan Pernyataan Politik Picu Alarm Demokrasi
-
Andrie Yunus Berjuang Pulih: Jalani 5 Kali Operasi dan Cangkok Kulit Paha Akibat Teror Air Keras!
-
Menolak Takut! 30 Hari Tragedi Air Keras Andrie Yunus, Aktivis Tandai Lokasi Penyiraman Pakai Mural
-
Kasus Penyiraman Air Keras Andrie Yunus, Komnas HAM Tunggu Izin Panglima TNI Periksa 4 Prajurit
Terpopuler
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Terpopuler: Lipstik Tahan Lama untuk Bibir Hitam, Sepatu New Balance Tanpa Tali untuk Jalan Jauh
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
Pilihan
-
Evaluasi Besar-besaran: 8.182 SPPG Pernah Ditangguhkan, 2.213 Masih Berstatus Suspend
-
Kabar Duka, Eks Menhan Jenderal Ryamizard Ryacudu Meninggal Dunia di RSPAD
-
Strategi Berani John Herdman: Mengapa Piala AFF 2026 Jadi Panggung Khusus Pemain Domestik?
-
Insiden Noni Madueke Tanpa Penalti, Eks Wasit Liga Inggris Buka Suara
-
Drama Final Liga Champions: Sakitnya Arsenal, PSG Back to Back Juara
Terkini
-
Ritual Ganjil Suami di Kendari: Usai Injak Istri hingga Tewas, Jasad Korban Dimandikan dan Disisir
-
Gudang Limbah Membara di Cikarang, Api Sambar Pemukiman dan Truk
-
Presiden Prabowo: Cahaya Kebijaksanaan Waisak Jadi Fondasi Karakter dan Persatuan Bangsa
-
Cikeas Penuh Karangan Bunga, Para Tokoh Beri Penghormatan Terakhir untuk Ryamizard Ryacudu
-
12 Unit Damkar Berjibaku Jinakkan Kebakaran Gudang Limbah di Rawajulang
-
Remaja Pembunuh Gadis 12 Tahun di Makassar Dijerat Pasal Berlapis, Ibu Korban Desak Hukuman Mati
-
Uang Tunai Rp65 Juta Jadi Abu, Tabungan Lansia di Blora Ludes akibat Kebakaran Rumah
-
Presiden Prabowo Berduka atas Kepergian Jenderal Ryamizard Ryacudu
-
Remaja Putri Tewas Terjebak Saat Api Mengamuk di Bengkel Cikupa
-
Evaluasi Besar-besaran: 8.182 SPPG Pernah Ditangguhkan, 2.213 Masih Berstatus Suspend