-
Minat warga China terhadap budaya Iran melonjak akibat kerusakan situs sejarah oleh serangan militer.
-
Pameran artefak kuno Iran di Hohhot menjadi simbol solidaritas masyarakat China di tengah perang.
-
Warga mempelajari sejarah Iran untuk memahami dampak konflik terhadap pasokan energi global saat ini.
Suara.com - Gelombang keingintahuan warga China terhadap identitas dan sejarah Iran mencapai titik tertinggi akibat eskalasi konflik perang Amerika Serikat di Timur Tengah.
Masyarakat di Negeri Tirai Bambu kini melihat Iran bukan sekadar wilayah konflik, melainkan cermin peradaban yang setara.
Dilaporkan CNN, ketertarikan ini muncul sebagai respons emosional atas rusaknya berbagai situs bersejarah di Iran akibat gempuran militer.
Banyak warga mulai memburu literatur dan pameran seni untuk memahami esensi negara yang kini menjadi pusat perhatian dunia.
Fenomena ini mencerminkan adanya ikatan solidaritas baru yang terbentuk melalui jalur budaya dan sejarah kuno.
Di tengah dentuman bom, ratusan artefak Persia justru tersimpan aman dalam pameran di wilayah Hohhot, China Utara.
Dong Bibing, seorang kurator museum, mengelola lebih dari 150 barang antik mulai dari kaca bermotif hingga karpet rumit.
Pameran ini mendadak populer karena warga ingin melihat langsung bukti kemegahan budaya yang kini terancam punah di asalnya.
Akibat antusiasme yang luar biasa, jadwal pameran yang seharusnya berakhir Maret terpaksa diperpanjang hingga bulan April.
Baca Juga: Timnas Iran Tegaskan Tetap Main di Piala Dunia 2026, Skenario Playoff Darurat Batal
Dong mengaku merasa hancur saat mendengar kabar Istana Golestan di Teheran mengalami kerusakan parah akibat serangan perang.
Dorongan Insting Melindungi Warisan Dunia
"Tetapi sekarang, tepat di depan mata saya, ada koleksi artefak Iran yang benar-benar luar biasa," ujar Dong Bibing dengan haru.
Interaksi pengunjung dengan benda-benda bersejarah tersebut menciptakan gerakan organik di media sosial untuk saling mengajak berkunjung.
Setiap sudut pameran menjadi ruang kontemplasi bagi masyarakat China tentang betapa rapuhnya sebuah peradaban di bawah bayang-bayang senjata.
Kurator merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga benda-benda tersebut agar tetap utuh bagi generasi mendatang.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 67 Kode Redeem FF Max Terbaru 13 April 2026: Sikat Item Undersea, Evo Draco, dan AK47
- 5 Rekomendasi Parfum Lokal yang Wanginya Segar seperti Malaikat Subuh
Pilihan
-
Jateng Belum Ikut-ikut Kebijakan KDM, Bayar Pajak Kendaraan Masih Pakai KTP Pemilik Lama
-
Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Jadi Tersangka Kejagung, Tangan Diborgol
-
Bukan Hanya soal BBM, Kebijakan WFH Mengancam Napas Bisnis Kecil di Magelang
-
Solidaritas Tanpa Batas: Donasi WNI untuk Rakyat Iran Tembus Rp9 Miliar
-
CFD Ampera Bikin Macet, Akademisi: Ada yang Salah dari Cara Kota Diatur
Terkini
-
Manuver Diam-diam Jepang demi Selat Hormuz, Hubungi Iran Minta Hal Ini
-
Jangan Diam! Siulan dan Chat Mesum Bisa Dipidana, Begini Cara Lapor Kekerasan Seksual Verbal
-
Yasonna Laoly Minta Warga Berani Lapor Pelecehan Seksual, Termasuk yang Verbal
-
Bantu Zarof Ricar Cuci Uang, Produser Film Sang Pengadil Agung Winarno Resmi Tersangka
-
Iran Ancam Tutup Jalur Ekspor Impor Laut Merah, Hal Mengerikan Ini Bisa Terjadi
-
Wajah Anggota BAIS Penyiram Air Keras Andrie Yunus Masih Misteri, TNI: Lihat Saja Nanti di Sidang!
-
Panas! Kapal Perusak Angkatan Laut AS Cegat Tanker Berbendera Iran yang Mau Menghindari Blokade
-
Kapuspen TNI: Sidang Kasus Andrie Yunus Akan Terbuka, Kita Sampaikan Secara Profesional
-
Ribuan Desa Belum Berlistrik, Bisakah , PLTMH Jawab Krisis Listrik di Wilayah Terpencil?
-
Dugaan Pelecehan 5 Santri Syekh Ahmad Al Misry, DPR Desak Polri Gandeng Interpol Seret SAM ke RI