News / Metropolitan
Kamis, 16 April 2026 | 16:06 WIB
Foto Ilustrasi pembersihan sampah di Sungai Ciliwung. [Istimewa]
Baca 10 detik
  • Ekosistem Sungai Ciliwung di Kalibata menghadapi tantangan ledakan populasi ikan sapu-sapu yang sulit diberantas akibat reproduksi sangat cepat.
  • Ikan sapu-sapu menjadi dilema karena merusak tanggul sungai namun tetap dimanfaatkan warga untuk diolah menjadi produk makanan.
  • Pemprov DKI Jakarta menjadwalkan aksi pembersihan sungai pada 17 April 2026 untuk meminimalisir kerusakan infrastruktur dan risiko banjir.

Suara.com - Kondisi ekosistem Sungai Ciliwung, khususnya di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, kini tengah menghadapi tantangan besar akibat ledakan populasi ikan sapu-sapu.

Para nelayan lokal yang menggantungkan hidup di aliran sungai legendaris ini mengakui bahwa upaya pembersihan atau pemberantasan spesies invasif tersebut hampir mustahil dilakukan secara tuntas.

Kemampuan reproduksi yang luar biasa cepat menjadikan ikan ini sebagai penguasa bawah air yang sulit digoyahkan.

Ajum (39), salah satu nelayan yang sehari-hari beraktivitas di bantaran Ciliwung, memberikan gambaran nyata mengenai kondisi di lapangan.

Menurutnya, meskipun ada upaya pembersihan secara masif, populasi ikan ini seolah tidak pernah berkurang secara signifikan.

"Memang bagus dibersihkan karena hama, tapi enggak bakal bisa habis. Yang sudah biasa cari saja enggak bisa bersihin semuanya," kata nelayan ikan sapu-sapu, Ajum (39) saat ditemui di bantaran Ciliwung, Jakarta, Kamis (16/4/2026).

Pernyataan Ajum tersebut didasari pada pengamatannya selama bertahun-tahun sebagai nelayan urban. Ikan sapu-sapu dikenal memiliki daya tahan tubuh yang sangat kuat, bahkan di air dengan kadar polusi tinggi sekalipun.

Faktor utama yang membuat populasinya meledak adalah siklus reproduksi yang sangat efisien. Dalam satu kali masa bertelur, satu induk ikan sapu-sapu mampu menghasilkan jumlah keturunan yang fantastis.

“Kembang biaknya cepat, satu ekor bisa sampai ribuan kalau menetas,” ucapnya sebagaimana dilansir Antara.

Baca Juga: Tanggul Jakarta Digerogoti Ikan Sapu-Sapu, Pramono Gelar Operasi Besar-besaran Besok

Kondisi ini membuat para nelayan merasa bahwa penangkapan rutin yang mereka lakukan hanya mampu mengambil sebagian kecil dari total populasi yang ada.

Ajum mengibaratkan keberadaan ikan sapu-sapu ini dengan gangguan hama lain yang sudah sangat akrab dengan kehidupan masyarakat di kota besar.

"Seperti nyamuk, dibasmi tetap ada lagi," katanya.

Meskipun menyadari sulitnya memberantas ikan ini hingga nol, Ajum tetap mendukung langkah-langkah pembersihan sungai.

Baginya, menjaga kualitas lingkungan perairan adalah hal yang krusial bagi keberlangsungan hidup warga di sekitar bantaran sungai.

Keberadaan ikan sapu-sapu yang mati dan membusuk di sungai justru akan menambah beban pencemaran yang sudah ada.

Load More