-
Iran menuntut pertanggungjawaban internasional atas kejahatan perang yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel.
-
Dialog perdamaian di Islamabad resmi gagal setelah kedua belah pihak tidak mencapai kesepakatan.
-
Eskalasi konflik meningkat tajam pasca serangan militer yang menewaskan tokoh penting di Teheran.
Suara.com - Kementerian Luar Negeri Iran secara resmi mendesak komunitas global untuk menyeret Amerika Serikat dan Israel ke jalur hukum internasional.
Langkah ini diambil menyusul eskalasi serangan militer yang menargetkan pejabat tinggi dan kedaulatan wilayah Iran secara provokatif.
Dikutip dari Anadolu, Teheran menilai aksi kedua negara tersebut bukan sekadar agresi biasa melainkan ancaman nyata terhadap stabilitas keamanan dunia saat ini.
Esmaeil Baqaei menegaskan bahwa diamnya dunia terhadap tindakan ini akan mencederai prinsip hukum humaniter yang telah disepakati bersama.
Kedaulatan hukum internasional kini dipertaruhkan jika aktor intelektual di balik serangan mematikan tersebut tidak segera diadili secara transparan.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyampaikan tuntutan keras ini melalui saluran komunikasi resmi kepada media internasional.
"Kita harus melakukan ini. Bukan hanya Iran, tetapi seluruh komunitas internasional menuntut pertanggungjawaban. Apa yang dilakukan AS dan Israel adalah kejahatan terhadap perdamaian dan keamanan internasional, serta kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan," kata Baqaei.
Pernyataan tersebut menyoroti betapa parahnya dampak serangan udara yang telah merenggut nyawa serta merusak fasilitas sipil di Teheran.
Argumentasi Iran bersandar pada Pasal Umum 1 Konvensi Jenewa 1949 sebagai landasan yuridis untuk menuntut pertanggungjawaban kolektif negara-negara dunia.
Baca Juga: Ancaman Taktik Adu Domba Trump di Balik Pengumuman Genjatan Senjata di Lebanon
Pelanggaran terhadap konvensi ini dianggap sebagai penghinaan terhadap norma global yang mengatur etika perang dan perlindungan terhadap kemanusiaan.
Seruan Untuk Anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa
Baqaei menekankan bahwa kewajiban menghormati hukum internasional berada di pundak seluruh negara anggota tanpa terkecuali termasuk negara adidaya.
"Karena tindakan AS dan Israel melanggar prinsip tersebut, saya percaya semua negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa harus menyerukan pertanggungjawaban mereka," katanya.
Iran berharap PBB tidak menutup mata terhadap pola serangan sistematis yang dilakukan oleh koalisi Amerika Serikat dan Israel.
Kehancuran yang terjadi pada akhir Februari lalu menjadi bukti konkret adanya pelanggaran serius terhadap kedaulatan sebuah negara yang berdaulat.
Hingga kini, publik internasional terus memantau respons dari dewan keamanan terkait eskalasi yang semakin tidak terkendali di kawasan tersebut.
Ketegangan mencapai puncaknya ketika Amerika Serikat dan Israel meluncurkan operasi militer gabungan pada tanggal 28 Februari yang lalu.
Target serangan tersebut mencakup beberapa titik strategis di Teheran yang mengakibatkan kerusakan infrastruktur parah serta merenggut nyawa warga sipil.
Peristiwa tragis ini memicu kemarahan publik Iran yang merasa hak-hak dasar mereka sebagai manusia telah dirampas secara paksa.
Dunia dikejutkan dengan kabar gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei, yang dilaporkan menjadi korban dalam operasi militer tersebut.
Kematian tokoh sentral ini mengubah peta politik Timur Tengah dan memicu gelombang perlawanan yang jauh lebih besar dari sebelumnya.
Pembalasan Militer dan Eskalasi di Timur Tengah
Sebagai respons langsung atas gugurnya sang pemimpin, Iran melancarkan serangan balasan yang massif ke wilayah pertahanan Israel.
Tidak hanya Israel, fasilitas militer milik Amerika Serikat yang tersebar di wilayah Timur Tengah juga menjadi sasaran rudal-rudal Iran.
Adu kekuatan militer ini menciptakan kekhawatiran akan terjadinya perang terbuka yang lebih luas dan melibatkan banyak negara di kawasan.
Upaya diplomasi sempat muncul ke permukaan sebagai upaya terakhir untuk meredam api konflik yang terus berkobar di sana.
Kedua belah pihak mencoba mencari celah untuk berdialog meskipun rasa saling percaya di antara mereka telah mencapai titik terendah.
Pertemuan diplomatik tingkat tinggi akhirnya digelar di Islamabad pada 11 April antara perwakilan Iran dan delegasi Amerika Serikat.
Dialog ini dilakukan setelah Presiden AS Donald Trump memberikan janji mengenai kemungkinan adanya gencatan senjata selama periode dua pekan.
Harapan dunia sempat melambung tinggi melihat adanya peluang perdamaian melalui meja perundingan di ibu kota Pakistan tersebut.
Namun sayangnya, harapan itu sirna ketika Wakil Presiden AS JD Vance memberikan pernyataan resmi yang sangat mengecewakan pada 12 April.
Vance menyatakan bahwa delegasi Amerika Serikat harus pulang tanpa hasil karena tidak tercapainya titik temu dalam negosiasi yang alot.
Konflik ini berakar pada perselisihan panjang mengenai dominasi pengaruh politik dan keamanan di kawasan strategis Timur Tengah selama beberapa dekade.
Peningkatan ketegangan militer tahun ini bermula dari serangan udara gabungan AS-Israel yang menargetkan fasilitas energi dan pertahanan di Iran.
Ketidaksepakatan dalam perundingan nuklir serta sanksi ekonomi yang berkepanjangan turut memperkeruh hubungan diplomatik antara Teheran dan Washington.
Kegagalan pertemuan di Islamabad kini menempatkan kedua negara pada posisi yang sangat rentan terhadap potensi konflik bersenjata kembali.
Iran tetap pada pendiriannya bahwa perdamaian hanya bisa tercapai jika ada keadilan bagi korban agresi militer yang dilakukan pihak lawan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Janji Ringankan Kasus, Oknum Jaksa di Banten Ancam Korban Bayar Rp2 Miliar atau Dihukum Berat
- 5 HP Murah Terbaru Lolos Sertifikasi di Indonesia, Usung Baterai Jumbo hingga 7.800 mAh
- 6 Bedak Tabur Tahan Air, Makeup Tetap Mulus Meski Keringatan Seharian
- 69 Kode Redeem FF Max Terbaru 14 April 2026: Ada Skin Chromasonic dan Paket Bawah Laut
- 5 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Kulit Wajah di Indomaret dan Harganya
Pilihan
-
Timnas Indonesia U-17 Diganyang Malaysia, Kurniawan Ungkap Borok Kekalahan
-
Beban Ganda Wanita Saat WFH: Terjebak Laptop dan Pekerjaan Rumah Tangga
-
Hore! Jogja Berlakukan Perpanjangan STNK Tanpa KTP Asli, Calo PajakMakin Terhimpit
-
Daftar Starting XI Timnas Indonesia U-17 vs Malaysia: Dava Yunna Masih Jadi Tumpuan!
-
Jateng Belum Ikut-ikut Kebijakan KDM, Bayar Pajak Kendaraan Masih Pakai KTP Pemilik Lama
Terkini
-
Kelola Selat Hormuz, Iran Proyeksikan Pendapatan Hingga Rp258 Triliun
-
Tak Ingin Publik Curiga, TB Hasanuddin 'Wanti-wanti' Sidang Militer Kasus Andrie Yunus Harus Terbuka
-
Kawal Kasus di UI, Menteri Brian Tegaskan Tak Ada Toleransi bagi Pelaku Pelecehan Seksual
-
Kisi-kisi Negosiasi AS - Iran di Pakistan Putaran Kedua
-
Tak Lagi Gratis, Pemprov DKI Bakal Atur Ulang Skema Pajak Kendaraan Listrik
-
Ikan Sapu-Sapu Jakarta Bisa Pupuk Organik, KKP Ingatkan Bahaya Jika Dikonsumsi
-
Wamenkomdigi: Generative AI Bikin Lansia Bingung, Konten Rekayasa Wajib Watermark
-
Pemerintah AS Kaji Ulang Aturan Daur Ulang Plastik, Lingkungan Terancam?
-
Pemerintah Buka 30.000 Posisi Manajer Koperasi Desa! Cek Syarat dan Cara Daftarnya di Sini
-
Amerika Serikat Klaim Gencatan Senjata Lebanon-Israel Dapat Diperpanjang