- Wamenkomdigi Nezar Patria menyatakan kelompok lansia sangat rentan menjadi korban disinformasi akibat rendahnya literasi digital terhadap teknologi AI.
- Teknologi Generative AI mampu memanipulasi data visual dan audio secara presisi sehingga membingungkan masyarakat dalam membedakan informasi asli.
- Pemerintah mendorong penggunaan watermark pada konten AI serta berkolaborasi dengan perusahaan teknologi untuk menciptakan ekosistem digital yang aman.
Suara.com - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria, menyoroti meningkatnya risiko kelompok lanjut usia (lansia) menjadi korban disinformasi. Apalagi di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
"Nah memang kita melihat mereka yang lansia ini juga rawan menjadi korban hoaks sekarang ini dan disinformasi," kata Nezar saat ditemui di UGM, Jumat (17/4/2026).
Keterbatasan literasi digital dalam membedakan keaslian sebuah informasi di tengah gempuran konten yang diproduksi secara otomatis oleh teknologi mutakhir menjadi penyebab utama.
"Kita tahu ada banyak orang-orang tua kita yang mungkin tidak mengikuti proses perkembangan digital dan agak sulit membedakan apakah misalnya produk-produk informasi yang dihasilkan di jagat digital itu, itu benar atau tidak," ujarnya.
Menurut Nezar, tantangan terbesar saat ini adalah kemampuan Generative AI yang dapat memanipulasi data visual dan audio dengan sangat presisi.
Teknologi ini mampu menciptakan konten yang tampak nyata meskipun fakta di baliknya adalah rekayasa. Sehingga berpotensi menyesatkan masyarakat, terutama para orang tua.
"Karena kita tahu ada Generative AI yang bisa menghasilkan foto dengan sangat mirip, dengan suara orang yang tidak pernah mengucapkan itu pada kenyataan sehari-hari tapi dihadirkan demikian di jagat digital ya, sehingga itu cukup membingungkan," tuturnya.
Sebagai solusi untuk mengatasi kerancuan informasi tersebut, Wamenkomdigi mendesak para pengembang teknologi dan pengguna AI untuk memiliki kesadaran etis.
Salah satu langkah konkret yang diusulkan adalah kewajiban menyertakan watermark atau tanda khusus pada konten AI sebagai identitas pembeda bagi publik.
Baca Juga: Heboh Mahasiswi ITB Jadi Korban Foto AI Telanjang, Wamenkomdigi Ingatkan soal Etika
"Nah di sinilah pentingnya para pengembang ya dan juga para pemakai AI itu untuk bisa memberikan satu tanda ya atau watermark bahwa ini adalah produk AI," tandasnya.
Di sisi lain, Nezar turut menjelaskan mengenai perkembangan regulasi PP Tunas. Ia menegaskan bahwa untuk saat ini fokus utamanya memang masih pada ekosistem digital bagi anak-anak, bukan untuk kelompok lansia.
"PP Tunas memang dikhususkan, didedikasikan untuk untuk pengaturan lanskap digital yang sehat buat anak. Jadi memang tidak menyasar yang tua-tua," ujarnya.
Hingga saat ini, pemerintah terus menjalin komunikasi intensif dengan berbagai perusahaan teknologi raksasa seperti Google, Meta, hingga TikTok.
Kerja sama ini bertujuan agar aturan-aturan terkait keamanan digital, termasuk pembatasan usia, dapat segera diimplementasikan secara menyeluruh dalam waktu dekat.
"Ya, PP Tunas kita masih terus berkomunikasi dengan sejumlah tech companies ya terutama yang memiliki platform-platform ini dan kita mengapresiasi respons mereka yang cukup kolaboratif untuk bisa mengadopsi peraturan-peraturan yang ada di PP Tunas termasuk pembatasan usia dan memberikan solusi-solusi teknologi yang konkret," tandasnya.
Berita Terkait
-
Heboh Mahasiswi ITB Jadi Korban Foto AI Telanjang, Wamenkomdigi Ingatkan soal Etika
-
Mengapa Wikipedia Terancam Diblokir Pemerintah? Ini Penjelasan dan Dampak Seriusnya
-
Komdigi Akan Blokir Wikipedia Sepekan Lagi Jika Ultimatum Tidak Diacuhkan
-
Kritik Manajer Riot Games ke IGRS: Keamanan Rentan, SDM Komdigi Sedikit dan Tak Memadai
-
Memalukan! Malapetaka IGRS Komdigi Bikin Developer Game Rugi Miliaran Rupiah
Terpopuler
- Janji Ringankan Kasus, Oknum Jaksa di Banten Ancam Korban Bayar Rp2 Miliar atau Dihukum Berat
- 5 HP Murah Terbaru Lolos Sertifikasi di Indonesia, Usung Baterai Jumbo hingga 7.800 mAh
- 6 Bedak Tabur Tahan Air, Makeup Tetap Mulus Meski Keringatan Seharian
- 69 Kode Redeem FF Max Terbaru 14 April 2026: Ada Skin Chromasonic dan Paket Bawah Laut
- 5 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Kulit Wajah di Indomaret dan Harganya
Pilihan
-
Timnas Indonesia U-17 Diganyang Malaysia, Kurniawan Ungkap Borok Kekalahan
-
Beban Ganda Wanita Saat WFH: Terjebak Laptop dan Pekerjaan Rumah Tangga
-
Hore! Jogja Berlakukan Perpanjangan STNK Tanpa KTP Asli, Calo PajakMakin Terhimpit
-
Daftar Starting XI Timnas Indonesia U-17 vs Malaysia: Dava Yunna Masih Jadi Tumpuan!
-
Jateng Belum Ikut-ikut Kebijakan KDM, Bayar Pajak Kendaraan Masih Pakai KTP Pemilik Lama
Terkini
-
Pemerintah AS Kaji Ulang Aturan Daur Ulang Plastik, Lingkungan Terancam?
-
Pemerintah Buka 30.000 Posisi Manajer Koperasi Desa! Cek Syarat dan Cara Daftarnya di Sini
-
Amerika Serikat Klaim Gencatan Senjata Lebanon-Israel Dapat Diperpanjang
-
Diduga Akibat Korsleting Listrik, Satu Keluarga Tewas Akibat Kebakaran di Tanjung Duren Jakbar
-
Pihak Andrie Yunus Pastikan Absen Sidang Perdana di Pengadilan Militer 29 April, Ini Alasan Kontras
-
Setelah AS, Giliran Jerman Mau Ikut Campur di Selat Hormuz
-
Wamenkes Dante Blak-blakan: AI Percepat Diagnosis Penyakit, Tapi RI Masih Bergantung Impor
-
Heboh Mahasiswi ITB Jadi Korban Foto AI Telanjang, Wamenkomdigi Ingatkan soal Etika
-
Ancaman Taktik Adu Domba Trump di Balik Pengumuman Genjatan Senjata di Lebanon
-
Pramono Turun ke Kali, Ikut Angkat Ikan Sapu-Sapu yang Kuasai Perairan Jakarta