-
Serangan Israel menewaskan empat warga Gaza termasuk seorang anak saat masa gencatan senjata.
-
Militer Israel mengklaim serangan dilakukan karena warga dianggap melanggar batas aman garis kuning.
-
Total 765 warga tewas sejak gencatan senjata Oktober 2025 akibat pelanggaran militer berulang.
Suara.com - Kesepakatan gencatan senjata yang seharusnya membawa kedamaian justru kembali ternoda oleh aksi militer Israel yang mematikan.
Empat warga Palestina termasuk seorang bocah dilaporkan tewas dalam serangkaian serangan terpisah di Jalur Gaza pada Kamis.
Dikutip dari Anadolu, insiden berdarah ini menambah panjang daftar pelanggaran komitmen damai yang telah berlaku sejak Oktober tahun lalu.
Padahal warga sangat berharap stabilitas keamanan dapat segera pulih sepenuhnya setelah konflik yang berkepanjangan selama bertahun-tahun.
Kejadian terbaru ini menunjukkan betapa rapuhnya garis keamanan yang ditetapkan di wilayah kantong yang terkepung tersebut.
Dua bersaudara menjadi korban langsung dari serangan pesawat tak berawak milik militer Israel di wilayah utara Gaza.
Jenazah Abdelmalek dan Abdel Sattar al-Attar segera dievakuasi ke Rumah Sakit Al-Shifa pasca ledakan terjadi.
Saksi mata di lapangan menegaskan bahwa lokasi ledakan berada di luar zona kontrol militer Israel yang disepakati.
Pihak militer Israel berdalih bahwa mereka melihat pergerakan mencurigakan yang mendekati pasukan di lapangan secara agresif.
"Pasukan mengidentifikasi dua warga Palestina yang melintasi apa yang disebut 'garis kuning' dan mendekati pasukan dengan cara yang menimbulkan 'ancaman langsung'," klaim tentara Israel.
Penembakan Membuta Di Permukiman Padat
Kekerasan tidak berhenti di utara karena peluru tajam juga menyasar lingkungan Zeitoun di sisi timur Kota Gaza.
Saleh Badawi yang baru berusia sembilan tahun harus kehilangan nyawanya akibat tembakan brutal aparat keamanan Israel.
Selain korban jiwa terdapat beberapa warga sipil lainnya yang mengalami luka-luka serius dalam insiden yang sama tersebut.
Kematian anak kecil ini memicu kemarahan publik atas ketidakmampuan mekanisme pengawasan gencatan senjata dalam melindungi warga.
Berita Terkait
Terpopuler
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- 5 Sunscreen Lokal untuk Hempas Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harganya
Pilihan
-
Kebakaran Kemayoran: Ratusan KK Terdampak, Korban Dievakuasi ke RS Hermina
-
Atma Jaya Yogyakarta Temukan Empat Mahasiswa Terlibat Kasus Riset AI, Kampus Siapkan Sanksi
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
-
Prabowo Tabuh Genderang Perang: Kita Lawan Kelompok Anti Tanah Air
-
Prabowo Pidato 1 Juni 2026: Lawan Asing, Waktunya Kembali ke Ekonomi Pancasila
Terkini
-
Kebakaran Kemayoran: Ratusan KK Terdampak, Korban Dievakuasi ke RS Hermina
-
Teddy ke Dino Patti Djalal: Jangan Kaburkan Fakta Hasil Lawatan Prabowo
-
Teddy: Lawatan Luar Negeri Prabowo untuk Bangun Kedekatan dengan Pemimpin Dunia
-
Kebakaran Melanda Permukiman Padat di Kemayoran, 33 Mobil Damkar Dikerahkan
-
Dihadiri Wamen Ekraf, Borobudur Peace & Prosperity Festival Gaungkan Persatuan Lintas Budaya
-
DPRD DKI Minta Ragunan Evaluasi Total Sistem Keamanan Usai Anak Jatuh ke Kandang Gajah
-
Bukan Sekadar Seremonial, Seskab Teddy Beberkan 7 Prestasi Diplomasi Prabowo: Investasi Rp 2.430 T
-
Tim Jibom Temukan 'Granat Maut' di Lokasi Ledakan Biak, Olah TKP Terpaksa Ditunda
-
Seskab Teddy: Lawatan Luar Negeri Bukan Gagah-gagahan, Prabowo Tanggung Kelebihan Biaya
-
Jalan Lenteng Agung Ditutup hingga Selasa Pagi