News / Internasional
Jum'at, 17 April 2026 | 14:28 WIB
Selat Hormuz. (freepik)
Baca 10 detik
  • Sekitar 40 negara berkumpul di Paris pada 17 April 2026 untuk membahas stabilitas keamanan di Selat Hormuz.
  • Pertemuan ini dipimpin Prancis dan Inggris guna memulihkan navigasi pelayaran serta menjamin keselamatan ribuan pelaut di kawasan.
  • Diskusi bertujuan membentuk misi militer defensif untuk menekan dampak ekonomi global akibat penutupan jalur distribusi minyak tersebut.

Suara.com - Sekitar 40 negara dijadwalkan berkumpul pada Jumat (17/4/2026) untuk membahas situasi terkini di Selat Hormuz, jalur strategis yang kini terdampak konflik geopolitik.

Pertemuan ini dipimpin oleh Prancis dan Inggris dengan fokus utama mengembalikan kebebasan navigasi di kawasan tersebut.

Agenda diskusi tidak hanya menyentuh aspek keamanan, tetapi juga dampak ekonomi yang dirasakan industri pelayaran global.

Selain itu, keselamatan lebih dari 20 ribu pelaut yang masih tertahan di sekitar perairan Selat Hormuz juga menjadi perhatian utama.

Ketegangan di jalur ini bermula setelah Iran menutup akses Selat Hormuz pasca serangan militer dari Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari.

Penutupan tersebut langsung berdampak pada lonjakan harga energi global, mengingat sekitar 20 persen distribusi minyak dan gas dunia melewati jalur ini.

Kapal macet di Selat Hormuz (TOI)

Situasi semakin kompleks setelah Amerika Serikat ikut menerapkan blokade pada 13 April, menyusul kegagalan negosiasi damai dengan Iran di Pakistan.

Presiden Donald Trump bahkan mendorong negara sekutu untuk ikut serta dalam langkah tersebut guna meningkatkan tekanan terhadap Teheran.

Namun, sejumlah negara Eropa menolak terlibat langsung dalam blokade karena dinilai berpotensi memperluas konflik.

Baca Juga: Ancaman Taktik Adu Domba Trump di Balik Pengumuman Genjatan Senjata di Lebanon

Meski begitu, mereka menyatakan kesiapan untuk membantu menjaga keamanan jalur pelayaran jika situasi sudah lebih kondusif.

Dalam dokumen undangan, pertemuan ini juga akan membahas rencana pembentukan misi militer multinasional yang bersifat defensif.

Tujuannya adalah memastikan jalur pelayaran tetap aman tanpa memperkeruh ketegangan.

Menariknya, pembicaraan ini tidak melibatkan Amerika Serikat maupun Iran. Meski demikian, diplomat Eropa menilai koordinasi dengan kedua negara tetap diperlukan untuk efektivitas langkah ke depan.

Sejumlah pemimpin dunia dijadwalkan hadir langsung di Paris, termasuk Presiden Emmanuel Macron, Perdana Menteri Keir Starmer, Kanselir Jerman Friedrich Merz, serta Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni.

Sementara itu, China turut diundang dalam pertemuan ini, meski belum ada kepastian apakah akan berpartisipasi.

Load More