- Kebakaran hebat melanda permukiman warga di Jalan Kemayoran Gempol, Jakarta Pusat, pada Senin malam, 1 Juni 2026.
- Musibah ini menghanguskan banyak rumah serta mengakibatkan warga harus mengungsi di tenda darurat tanpa bantuan memadai.
- Para korban, termasuk Nileh dan Sila, kini kehilangan tempat tinggal dan harta benda akibat peristiwa kebakaran tersebut.
Suara.com - Api bukan lagi bencana, melainkan trauma berulang yang kembali datang. Nileh, ibu yang bekerja sebagai asisten rumah tangga di Apartemen Palazzo Kemayoran, baru pulang ke rumahnya sekitar pukul 20.00 WIB di RT 4, area permukiman Jalan Kemayoran Gempol, Kebon Kosong, Kemayoran, Jakarta Pusat, Senin (1/6/2026).
Belum sempat melepas penat, ibu berusia 50 tahun ini mendapati kawasan tempat tinggalnya sudah ramai dan dipenuhi asap pekat akibat kobaran api yang sudah membesar.
"Aku pulang kerja jam 8, udah rame aja. Udah gede apinya," kata Nileh dalam wawancara dengan Suara.com di tenda tempatnya mengungsi di Lapangan Jusuf Hamka, Jalan Benyamin Suaeb, Kemayoran, Jakarta Pusat, pada Selasa (2/6/2026).
Rumah Nileh berada persis di bagian belakang gang kecil yang membatasi wilayah RT-nya di RW 4 dengan wilayah anaknya yang tinggal di RW 5.
Di tengah kepanikan, Nileh tidak sempat menyelamatkan harta bendanya, termasuk pakaian. Fokus utamanya saat itu adalah keselamatan keluarga, anak, dan cucu.
Setelah menyelamatkan keluarganya, Nileh bergegas mengamankan surat-surat berharga, televisi, dan kasur ke area depan kios tempatnya mengontrak untuk berdagang minuman es selepas bekerja.
"Bingung. Saya bingung. Keluar ke mana, nih? Dagangan berantakan," ucapnya. Sekitar 12 orang membantu Nileh mengeluarkan barang-barang tersebut.
Kebakaran ini menjadi lebih memilukan bagi keluarga besar Nileh yang berjumlah tujuh bersaudara karena bulan depan keluarga mereka berencana mengadakan peringatan satu tahun (mendhak sepisan) meninggalnya sang ibunda.
Kini, semua rencana itu tertutup abu. Musibah ini menjadi kebakaran keempat yang dialami Nileh sejak ia kecil hingga memiliki cucu di tanah kelahirannya tersebut.
Baca Juga: Kebakaran Kemayoran Hanguskan 304 Bangunan, Rano Karno: Listrik Harus Dijaga!
Nileh mengalami musibah kebakaran sebanyak tiga kali sebelum kejadian ini, yakni pada 1988, 2007, dan 2024. Setelah kebakaran pada 1988, ia sempat pindah ke Rumah Susun Dakota Kemayoran. Namun, rusun itu dijual ibunya dan ia kembali lagi ke Kemayoran Gempol.
"Setiap kebakaran hangus. Semua habis semua, mas. Empat kali," ucapnya dalam wawancara sembari menggendong cucunya.
Bertahan Pakai Tenda
Berdasarkan informasi yang ia dengar dari tetangga sekitar, api diduga berawal dari area depan dekat warung mi ayam atau penjual kasur di kawasan permukiman Jalan Kemayoran Gempol. Api lalu dengan cepat berputar dan merembet ke belakang karena bangunan didominasi bahan dasar kayu.
Saat rumahnya terbakar, Nileh mengaku kesal karena air dari mobil pemadam kebakaran yang datang sudah habis.
"(Pemadam) datang, airnya malah abis. Ngapain datang?" ucapnya dengan nada kesal. Padahal, ia berharap bila pemadam bisa segera memadamkan api, rumahnya tidak akan terbakar.
Meskipun bantuan logistik berupa makanan terus mengalir tanpa henti di posko pengungsian, Nileh mengaku bantuan krusial lain seperti pakaian layak pakai dan kasur tidur masih sangat minim.
Berita Terkait
-
Kebakaran Kemayoran Hanguskan 304 Bangunan, Rano Karno: Listrik Harus Dijaga!
-
674 Korban Kebakaran Kemayoran Mengungsi, Posko Bantuan dan Layanan Kesehatan Disiagakan
-
Kebakaran Kebon Kosong: 3 Warga Terluka, Suparno Dirujuk ke RSCM usai Rumah Ludes
-
Rumah Ludes Dalam Sekejap, 620 Warga Korban Kebakaran Kebon Kosong Mengungsi
-
Kebakaran Kebon Kosong Kemayoran: 250 Rumah Hangus, Ratusan Warga Kini Mengungsi di Tenda Darurat
Terpopuler
- 5 Sunscreen Lokal untuk Hempas Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harganya
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- 5 Motor yang Jadi Mimpi Buruk Mekanik, Montir Langsung Pura-Pura Sibuk
- realme C100i Jadi Andalan Anak Muda, Baterai Awet 6 Tahun dan Reverse Charging
- Akhir Dilema PCX vs Vario: Skutik Baru Honda Hadir Bawa Kamera Dashcam dan Mesin Lebih Buas
Pilihan
-
674 Korban Kebakaran Kemayoran Mengungsi, Posko Bantuan dan Layanan Kesehatan Disiagakan
-
Kebakaran Kemayoran: Ratusan KK Terdampak, Korban Dievakuasi ke RS Hermina
-
Atma Jaya Yogyakarta Temukan Empat Mahasiswa Terlibat Kasus Riset AI, Kampus Siapkan Sanksi
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
-
Prabowo Tabuh Genderang Perang: Kita Lawan Kelompok Anti Tanah Air
Terkini
-
Donald Trump Bentak Netanyahu: Kamu Gila?
-
Syarat Gencatan Senjata Permanen Iran, Israel Wajib Angkat Kaki dari Lebanon
-
Infrastruktur Uzur, Rano Karno Sebut Jalanan di Jakarta Masih Rawan Amblas
-
Rencana MBG di Arab Saudi, DPR: Jangan Ngide, Benahi Dulu yang Amburadul!
-
Klaim Investasi Seskab Teddy Dipreteli Guntur Romli: Menyesatkan Publik
-
Ironi Korupsi Haji: Bos Maktour Absen Diperiksa KPK Karena Sedang Ibadah di Arab Saudi
-
Tak Sesuai Fakta, Seskab Teddy Dinilai Overclaim Soal Nilai Investasi Buah Diplomasi Prabowo
-
Revisi UU Polri Disebut Tak Banyak Berubah, DPR Fokus pada 8-9 Pasal
-
Kompolnas Nilai Sanksi Saat Ini Belum Bikin Jera Polisi Terlibat Narkoba
-
Berkas Lengkap! Roy Suryo dan dr Tifa Segera Disidang Kasus Ijazah Palsu Jokowi