News / Nasional
Minggu, 19 April 2026 | 10:35 WIB
Mantan Wakil Presiden RI ke 10 dan 12 Jusuf Kalla. [SuaraSulsel.id/Tim Media JK]
Baca 10 detik
  • Jusuf Kalla membantah isu yang menyebut dirinya meramalkan Indonesia akan mengalami kekacauan pada Juli atau Agustus mendatang.
  • JK menegaskan bahwa ia hanya memberikan saran konstruktif mengenai kondisi ekonomi kepada Presiden dan Menko Perekonomian.
  • Pernyataan mengenai potensi kekacauan negara tersebut secara keliru dikaitkan dengan JK, padahal disampaikan oleh pihak lain.

Suara.com - Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK), memberikan klarifikasi tegas terkait isu yang menyebut dirinya meramalkan Indonesia akan mengalami kekacauan (chaos) atau kolaps pada bulan Juli atau Agustus mendatang.

Ia menepis kabar tersebut dan menantang pihak-pihak yang menyebarkannya untuk membuktikan kebenaran kutipan tersebut di media.

"Ada lagi isu Pak JK bilang Agustus collapse negara, chaos. Boleh periksa semua media, pernah enggak saya bilang di media? Anda ini puluhan media nih, coba cari pernah enggak saya bilang begitu? Yang bilang begitu Said Didu," ujar JK dalam konferensi persnya di Kediamannya di Kawasan Jakarta Selatan, Sabtu (18/4/2026).

JK menjelaskan, bahwa dirinya memang memberikan pandangan kritis mengenai kondisi ekonomi negara, namun dalam koridor saran konstruktif kepada pemerintah.

Ia menekankan bahwa prediksinya bukan soal "chaos", melainkan potensi masalah keuangan jika pemerintah tidak segera melakukan penyesuaian kebijakan.

"Saya tidak pernah ngomong satu pun bahwa negara ini akan (chaos). Saya ngomong negara ini bermasalah kalau tidak naik BBM, kalau tidak MBG (Makan Bergizi Gratis) dikurangi, kalau tidak koperasi jangan terlalu besar jugalah. Kita ngomong begitu bersama para ekonom dan ahli daerah," jelasnya.

Sebagai bentuk tanggung jawab seorang negarawan, JK mengaku telah mengirimkan dokumen resmi berisi kajian dan saran kepada Presiden serta Menko Perekonomian.

Dalam surat tersebut, JK memperingatkan pemerintah untuk mengantisipasi situasi ekonomi yang diprediksi mulai menekan pada bulan Juli.

"Saya kirim ke Bapak Presiden, saya kirim ke Menko Ekonomi. Ada kata-kata isinya: Pemerintah pusat perlu mengantisipasi situasi yang diperkirakan akan mulai muncul pada bulan Juli. Tidak mengatakan chaos. Sekali lagi, yang ngomong chaos itu Said Didu, coba tanya dia," tegasnya.

Baca Juga: Sejumlah Harga BBM Naik Hari Ini, JK: Tidak Bisa Tahan Lagi Negara Ini, Keuangannya Defisit

JK menegaskan, bahwa masukan yang ia berikan merupakan hak dan kewajiban setiap warga negara, terlebih bagi dirinya yang telah berpengalaman selama 20 tahun di pemerintahan.

Ia menolak jika sarannya dianggap sebagai bentuk perlawanan terhadap pemerintah atau upaya menjatuhkan kekuasaan.

"Saya tidak lawan pemerintah. Saya kasih saran pemerintah benar. Saya tidak pernah mengatakan jatuhkan pemerintah, tidak pernah. Bahwa lima halaman, enam halaman kita berikan pandangan sebagai warga negara itu kewajiban, apalagi saya 20 tahun di pemerintahan," tuturnya.

JK menutup dengan menyatakan bahwa pengalaman puluhan tahun di birokrasi membuatnya terpanggil untuk memberikan peringatan dini agar masalah yang ia lihat tidak menjadi kenyataan.

"Buat apa saya di sini masih hidup, punya 20 tahun (pengalaman) di pemerintah, kalau tidak kasih saran sesuai pengalaman? Itu yang terjadi," pungkasnya.

Sebelumnya, dalam acara diskusi yang diunggah Edy Mulyadi di akun YouTube @BANGEDYCHANNEL, pada Minggu (22/3/2026), Said Didu mengatakan kekhawatiran JK tersebut berkaitan dengan tekanan ekonomi dan situasi global.

Load More