News / Internasional
Senin, 20 April 2026 | 13:09 WIB
Lebanon (Antara)
Baca 10 detik
  • Agresi militer Israel di Lebanon menyebabkan lebih dari 2.000 warga sipil tewas dalam enam minggu.

  • Fasilitas kesehatan utama di Beirut terancam lumpuh akibat blokade logistik dan zona evakuasi paksa.

  • Seperlima populasi Lebanon mengungsi akibat penghancuran sistematis pemukiman dan infrastruktur jalan oleh Israel.

Di antara korban tewas tersebut, tercatat sedikitnya 172 anak-anak dan 91 petugas medis yang gugur saat menjalankan tugas kemanusiaan.

Rumah Sakit Umum Makassed di Beirut juga mulai kehabisan stok obat-obatan esensial akibat blokade dan tingginya arus pasien luka.

Manajer Umum Rumah Sakit Makassed, Joumana Najjar, menyatakan kesiapan personelnya namun sangat mengkhawatirkan ketersediaan logistik medis.

“Jika perang berlanjut, secara fisik kami ada di sini; kami siap. Dokter kami siap; staf kami siap. Tetapi kami memiliki kapasitas terbatas dalam hal persediaan, dalam hal pengobatan. Saya tidak tahu berapa lama perang akan berlangsung dan berapa lama kami dapat mempertahankan perang seperti itu,” kata Joumana Najjar.

Ketidakpastian ini diperparah dengan trauma mendalam yang dialami pasien anak-anak yang harus bersembunyi dari suara ledakan setiap malam.

“Kita harus selalu khawatir dengan Israel. Kita tidak tahu apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Kita melihat apa yang mereka lakukan di Gaza,” tambah Joumana Najjar.

Lumpuhnya Jalur Transportasi dan Isolasi Wilayah

Militer Israel secara sistematis menghancurkan jembatan-jembatan vital yang menghubungkan wilayah selatan dengan pusat pemerintahan di Beirut.

Langkah ini mengisolasi ribuan warga dan memutus jalur distribusi bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan oleh para pengungsi.

Baca Juga: Iran: Damai Boleh, Perang Lagi Gak Masalah, AS-Israel Akan Merugi!

Lebih dari satu juta orang, atau sekitar seperlima populasi Lebanon, terpaksa meninggalkan rumah mereka demi mencari keselamatan yang tidak pasti.

Kondisi di kamp-kamp pengungsian sangat memprihatinkan dengan fasilitas sanitasi yang minim dan keterbatasan ruang gerak bagi warga lansia.

Abu Mohamed, seorang pengungsi berusia 85 tahun, menceritakan kepedihannya kehilangan tempat tinggal yang telah dihuni selama puluhan tahun.

“Situasi kami sangat suram. Kami pergi bahkan tanpa membawa pakaian; kami tidak bisa membawa apa-apa. Mereka menyuruh kami berlindung di sini, dan kami telah berada di sini di tenda-tenda ini sejak saat itu,” tutur Abu Mohamed.

Meskipun menderita, ia menyatakan dukungan moral yang kuat terhadap pihak-pihak yang menjaga kedaulatan tanah air mereka dari pendudukan.

“Kami kehilangan rumah. Jika kami kembali, kami harus membawa tenda kami. Tidak ada yang tersisa,” pungkas Abu Mohamed.

Load More