News / Internasional
Minggu, 19 April 2026 | 15:38 WIB
Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menegaskan negaranya tetap membuka jalur diplomasi, namun siap menghadapi perang kapan saja. [Suara.com/Syahda]
Baca 10 detik
  • Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menyatakan kesiapan militer negaranya menghadapi perang meski tetap membuka peluang jalur diplomasi.
  • Iran mengklaim keberhasilan militer dalam mencegat drone dan menjatuhkan jet tempur canggih selama konflik sejak akhir Februari lalu.
  • Teheran menegaskan kendali penuh atas Selat Hormuz dan menolak segala bentuk tekanan atau ancaman dari pihak Amerika Serikat.

Suara.com - Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menegaskan negaranya tetap membuka jalur diplomasi, namun siap menghadapi perang kapan saja.

Qalibaf menyebut Iran tidak menaruh kepercayaan pada lawan-lawannya dan telah bersiap untuk segala kemungkinan.

Dalam pidato yang disiarkan televisi nasional, Qalibaf menuding konflik terbaru dipicu tipu daya Amerika Serikat di tengah proses negosiasi.

Qalibaf juga menyinggung pengalaman perang sebelumnya, termasuk konflik 12 hari pada Juni 2025 yang menjadi bekal strategi Iran.

Qalibaf mengklaim Iran unggul dalam perencanaan dan eksekusi militer di medan tempur.

Meski mengakui Amerika Serikat memiliki kekuatan lebih besar, ia menegaskan Teheran merasa menang berdasarkan hasil operasi di lapangan.

Qalibaf mengungkapkan pasukan Iran berhasil mencegat sekitar 170 hingga 180 drone dalam konflik melawan AS dan Israel sejak 28 Februari.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf ancam Rezim Zionis Israel terkait serangan ke Lebanon. Ia sebut waktu hampir habis dan siap beri reaksi keras.[ncr-iran.org]

Selain itu, Iran juga mengklaim mampu menjatuhkan jet tempur canggih melalui pengembangan sistem pertahanan yang intensif.

Menurut Qalibaf, keberhasilan Iran tidak hanya ditentukan oleh persenjataan, tetapi juga kesiapan dan strategi.

Baca Juga: Donald Trump Disulap Jadi Minion! Iran Olok-olok AS Tak Bisa Buka Selat Hormuz

“Musuh terus salah menghitung kekuatan rakyat dan strategi militer Iran,” ujarnya dilansir dari Tasnim News.

Ia menyebut pendekatan Teheran sebagai diplomasi kekuatan, yakni menggabungkan negosiasi dengan kesiapan militer penuh.

Qalibaf menegaskan eskalasi dapat terjadi sewaktu-waktu meski pembicaraan masih berlangsung.

Lebih lanjut, ia mengatakan sejumlah proposal disampaikan melalui negara-negara perantara, termasuk Pakistan, dan telah dibahas oleh Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.

Iran, kata Qalibaf, menolak tekanan dan merespons ancaman secara tegas, termasuk ultimatum dari Presiden AS Donald Trump.

Qalibaf juga menyoroti blokade laut yang dilakukan AS sebagai langkah keliru.

Load More