-
Warga Teheran mengalami trauma psikologis hebat dan kelangkaan obat penenang pasca serangan udara.
-
Gencatan senjata dua minggu memberikan ketenangan sementara di tengah ketidakpastian masa depan Iran.
-
Kelompok disabilitas menjadi pihak paling menderita akibat kehilangan donasi dan trauma suara ledakan.
Suara.com - Kehidupan masyarakat sipil di Iran kini berada pada titik nadir akibat tekanan psikologis yang sangat hebat.
Serangan udara masif selama 40 hari terakhir telah menyisakan trauma kolektif yang sulit disembuhkan dalam waktu dekat.
Dikutip dari Skynews, meskipun gencatan senjata sedang berlangsung, bayang-bayang kembalinya pesawat pengebom terus menghantui setiap sudut ibu kota tersebut.
Warga kini terjebak dalam dilema antara kebencian pada rezim domestik dan ketakutan akan kehancuran akibat intervensi asing.
Kondisi ini menciptakan jurang pemisah yang dalam di tengah masyarakat yang sedang berjuang bertahan hidup.
Leila, seorang penduduk setempat berusia 30-an, mengungkapkan bagaimana ketakutan telah mengubah rutinitas harian menjadi perjuangan bertahan hidup.
"Setiap malam aku hanya bersembunyi di kamar mandi. Aku membawa semua yang kubutuhkan ke dalam - lampu, baterai, makanan, dan anjing-anjingku. Mereka tidak bisa makan dan mereka mengalami stres berat," ungkapnya menggambarkan situasi mencekam tersebut.
Kebutuhan akan bantuan medis untuk kesehatan mental meningkat tajam seiring dengan eskalasi konflik yang merusak stabilitas jiwa.
Obat-obatan seperti fluoxetine, asentra, dan citalopram kini menghilang dari rak-rak apotek di seluruh kota Teheran.
Baca Juga: Orang Dekat Donald Trump Pastikan Selat Hormuz Tidak Bakal Dibuka Sampai Ini Terjadi
Lonjakan harga obat yang tidak terkendali menunjukkan bahwa sebagian besar populasi mengalami gangguan kecemasan serupa akibat perang.
"Aku perlu menggunakan pil-pilku (tetapi) obat-obatan dan pil di Iran sangat, sangat mahal saat ini dan itu menunjukkan sebagian besar orang berpikir persis seperti aku. Kamu tidak bisa menemukan fluoxetine, Asentra, citalopram, dan obat (anti-kecemasan) lainnya di apotek. Itulah mengapa aku pikir sebagian besar orang berada dalam situasiku," kata Leila dengan jujur mengenai dampaknya.
Kontradiksi Emosi di Balik Reruntuhan Bangunan
Sentimen publik terhadap otoritas teokrasi Iran tetap dingin meskipun negara sedang berada dalam ancaman militer dari luar.
Kematian pemimpin tertinggi Ali Khamenei dalam salah satu serangan udara justru disambut dengan perasaan lega yang pahit oleh sebagian warga.
"Dari balkonku di Teheran, aku melihat mereka mengebom rumah (pemimpin tertinggi) Ali Khamenei. Aku, yah, senang ketika dia meninggal karena dia membunuh begitu banyak dari kami selama kepemimpinannya. Aku berharap dia melihat putra-putranya sekarat karena dia telah membunuh begitu banyak putra orang lain," ujar Leila mengenang momen tersebut.
Berita Terkait
Terpopuler
- Menkeu Purbaya Dikabarkan Bakal Dicopot Kamis Hari Ini
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Diperiksa Kejagung, Lodewyk Pusung dan Sony Sanjaya Ikut Diciduk
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Dijemput Kejagung, 2 Lainnya Dikejar untuk Ditangkap
- 5 HP dengan Kamera Telefoto Terbaik untuk Konten Media Sosial
- 3 HP Murah Samsung Terlaris Global Q1 2026: Mulai Sejutaan, Kamera Sudah OIS
Pilihan
-
Terbukti Korupsi! Immanuel Ebenezer 'Noel' Dijatuhi Hukuman 4,5 Tahun dan Denda Rp200 Juta
-
Purbaya Bantah Kabar Akan Dicopot dari Kursi Menteri Keuangan
-
Menkeu Purbaya Dikabarkan Bakal Dicopot Kamis Hari Ini
-
Wamen Imipas Silmy Karim Ditahan KPK, Terborgol Pakai Rompi Oranye Usai Drama Menyerahkan Diri
-
Mengejutkan! Ini Pesan Terakhir Wamen Imipas Silmy Karim Sebelum Dicari KPK Terkait OTT Imigrasi
Terkini
-
Siap Bahas Revisi UU Pemilu, Komisi II DPR Bakal Safari Minta Masukan Partai Politik
-
AJI dan PBHI Soroti Batalyon Teritorial Pembangunan: Demokrasi Dipersempit, Pers Terancam Dibungkam
-
Istana Jadwalkan Pelantikan Pimpinan BGN Nanik S Deyang Dkk Pekan Depan
-
Prasetyo Hadi Ungkap Alasan Prabowo Pilih Nanik S Deyang Pimpin BGN
-
Roman Politik di Balik Harlah Pancasila, Kenapa Jokowi Tak Diundang?
-
Konflik Lahan Rumpin vs TNI AU Belum Tuntas, Warga Kembali Mengadu di Aksi Kamisan
-
Said Iqbal Dikabarkan Masuk Kabinet Prabowo, Tinggal Tunggu Pelantikan?
-
KPK Bongkar Transaksi Aneh Anak Buah Silmy Karim: Bayar Rumah Mewah Pakai Kepingan Emas
-
Modus Licin Staf Imigrasi, Pakai Rekening OB dan Cleaning Service Buat Tampung Duit Suap Izin WNA
-
Kejagung Diminta Usut Tuntas Korupsi MBG Dadan Cs dan Dugaan Monopoli Dapur