-
IDF mengonfirmasi tentara Israel terbukti menghancurkan patung Yesus di wilayah Lebanon Selatan.
-
Menlu Israel meminta maaf secara resmi kepada umat Kristen atas aksi memalukan tersebut.
-
Militer berjanji memberikan sanksi tegas dan membantu restorasi patung yang dirusak pelaku.
“Tindakan memalukan ini sepenuhnya bertentangan dengan nilai-nilai kami. Kami meminta maaf atas insiden ini dan kepada setiap orang Kristen yang perasaannya tersakiti,” lanjut sang menteri.
Insiden di Lebanon ini menambah daftar panjang laporan mengenai perilaku tidak pantas, penjarahan, serta perusakan properti oleh personel militer Israel.
Sebelumnya, pengacara top IDF, Mayjen Yifat Tomer-Yerushalmi, pernah memberikan peringatan keras kepada para komandan mengenai fenomena perilaku ilegal di medan tempur.
Tomer-Yerushalmi menyoroti adanya “pernyataan tidak pantas yang mendorong fenomena yang tidak dapat diterima; penggunaan kekerasan yang tidak dapat dibenarkan, termasuk terhadap tahanan; penjarahan, yang mencakup penggunaan atau pengambilan properti pribadi untuk tujuan non-operasional; dan penghancuran properti sipil yang bertentangan dengan protokol.”
Sentimen negatif ini semakin menguat seiring dengan meningkatnya ketegangan antara otoritas Israel dengan para pemimpin gereja di Yerusalem belakangan ini.
Sejumlah yayasan internasional bahkan telah mulai mengumpulkan bukti-bukti dari media sosial untuk menyeret oknum prajurit ke pengadilan pidana internasional.
Peristiwa perusakan patung ini meletus hanya beberapa hari setelah Israel dan Hizbullah menyepakati gencatan senjata yang bersifat sementara.
Konflik bersenjata di wilayah tersebut kembali memanas sejak awal Maret 2026, yang memicu operasi darat besar-besaran oleh pasukan pertahanan Israel ke wilayah Lebanon.
Meskipun kesepakatan damai parsial telah tercapai, situasi di lapangan masih sangat cair dengan adanya ancaman bahan peledak yang masih tersebar.
Baca Juga: Lebanon Berada di Ambang Kolaps Medis Usai Serangan Brutal Israel Hancurkan Infrastruktur Vital
Ketegangan agama juga sempat memuncak saat polisi Israel membatasi akses tokoh-tokoh tinggi Katolik untuk berdoa di Gereja Makam Kudus pada perayaan Minggu Palem.
Pemerintah Israel berupaya meredam kemarahan publik internasional agar isu sensitif ini tidak berkembang menjadi konflik sektarian yang lebih luas di Timur Tengah.
Berita Terkait
Terpopuler
- Sejumlah Harga BBM Naik Hari Ini, JK: Tidak Bisa Tahan Lagi Negara Ini, Keuangannya Defisit
- 10 Bulan di Laut, 4000 Marinir di Kapal Induk USS Gerald Ford Harus Ngantri Buat BAB
- 5 Tinted Sunscreen yang Bagus untuk Flek Hitam dan Melasma
- 7 Bedak Compact Powder Anti Luntur Bikin Glowing Seharian, Cocok Buat Kegiatan Outdoor
- Kecewa Warga Kaltim hingga Demo 21 April, Akademisi Ingatkan soal Kejadian Pati
Pilihan
-
Gempa 7,5 M Guncang Jepang, Peringatan Tsunami hingga 3 Meter Dikeluarkan
-
Respons Santai Jokowi Soal Pernyataan JK: Saya Orang Kampung!
-
Pemainnya Jadi Korban Tendangan Kungfu, Bos Dewa United Tempuh Jalur Hukum
-
Penembakan Massal Louisiana Tewaskan 8 Anak, Tragedi Paling Berdarah Sejak Awal Tahun 2024
-
Viral Tendangan Kungfu ke Lawan, Eks Timnas Indonesia U-17 Terancam Sanksi Berat
Terkini
-
Menguak Peran Ibrahim Arief di Kasus Chromebook, Sengaja Kunci Proyek Demi Monopoli Vendor?
-
Terungkap! Alasan Noel Sebut Bobby Mahendro Sultan Kemnaker, Ternyata Gara-gara 'Leboy'
-
LNHAM Bongkar Dugaan Penyiksaan Massa Aksi Agustus 2025: Wajah Dilumuri Cabai dan Gigit Lonceng
-
Daftar Wilayah Jepang Dihantam Tsunami Hari Ini
-
Apa yang Terjadi Jika Iran Menang Perang? Pengamat Sebut Peta Timur Tengah Akan Berubah
-
Guntur Romli Singgung Pernyataan JK: Jokowi Dinilai Berkhianat ke Banyak Tokoh
-
Gedung Bina Pemdes di Pasar Minggu Terbakar, Kemendagri Pastikan Dokumen Strategis Aman!
-
Jepang Cek PLTN Onagawa dan Fukushima Daini Usai Gempa Besar dan Tsunami Hari Ini
-
Tim Independen LNHAM Ungkap Dugaan Pelanggaran HAM Oleh Negara Saat Demo 2025
-
RUU Advokat Dibahas, Usulan Dewan Pengawas hingga Standar Nasional Jadi Sorotan DPR