-
Iran menetapkan status siaga seratus persen untuk menghadapi potensi serangan baru Amerika Serikat.
-
Penyitaan kapal kargo di Teluk Oman oleh Amerika Serikat dianggap melanggar gencatan senjata.
-
Teheran memastikan akan melancarkan aksi balasan terhadap blokade laut yang dilakukan Amerika Serikat.
Suara.com - Iran kini menetapkan status siaga tertinggi guna menangkal potensi serangan susulan dari militer Amerika Serikat.
Kewaspadaan ini muncul karena Washington dinilai belum mencapai target perangnya meski telah melenyapkan sejumlah pejabat teras Teheran.
Dikutip dari CNN, pemerintah Iran mendeteksi adanya indikasi kuat bahwa serangan baru akan dilancarkan dalam waktu dekat ini.
Langkah preventif diambil dengan memperketat seluruh lini pertahanan untuk menjaga kedaulatan wilayah dari ancaman luar.
Prioritas utama saat ini adalah memastikan kesiapan personel dan alutsista berada pada level seratus persen.
Kepala Peradilan Iran, Gholamhossein Mohseni Ejei, menegaskan bahwa negara harus berada dalam posisi siap sedia sepenuhnya.
"Pertahankan kesiapan 100%," tegas Ejei merujuk pada kemungkinan Amerika Serikat meluncurkan serangan-serangan baru.
Ejei memandang ada peluang besar terjadinya eskalasi militer karena ambisi perang Amerika Serikat belum sepenuhnya terpenuhi.
"Ada kemungkinan kuat akan adanya serangan lebih lanjut," ujar Ejei menambahkan bahwa tujuan perang lawan belum tercapai.
Baca Juga: Purbaya di Depan Investor Global: Pertumbuhan RI Tak Hanya Stabil, Tapi Juga Akan Lebih Produktif
Kondisi ini memaksa Teheran untuk tidak mengendurkan pengawasan terhadap setiap pergerakan armada militer asing di sekitarnya.
Fokus ketegangan kini meluas ke wilayah perairan menyusul insiden penyitaan kapal kargo berbendera Iran.
Tindakan Amerika Serikat di Teluk Oman pada hari Minggu tersebut dianggap sebagai bentuk provokasi yang nyata.
Teheran secara resmi melabeli penyitaan kapal tersebut sebagai bentuk pelanggaran serius terhadap kesepakatan gencatan senjata.
Ejei memastikan bahwa otoritas Iran tidak akan tinggal diam melihat aset strategis mereka dikuasai pihak lawan.
Sikap tegas ini diambil sebagai bentuk perlindungan terhadap hak navigasi internasional dan kedaulatan ekonomi negara.
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- 7 Sepeda Terbaik untuk Pemula Mulai Rp1 Jutaan: dari Hybrid, Lipat hingga City Bike
- Lipstik Wardah yang Bagus Apa? Ini 4 Pilihan Paling Tahan Lama untuk Dipakai Seharian
Pilihan
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
-
Sudaryono, Mantan Ajudan Prabowo Akan Gantikan Nanik Jadi Kepala BGN
-
Nanik Mundur dari Kepala BGN, Ini Alasannya
-
Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN, Prabowo Minta Tetap Awasi MBG
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
Terkini
-
Jaga Sumber Air dari Hulu hingga ke Hilir, AMDATARA Tanam 250 Mangrove di Pesisir Jateng
-
134 Karya Siswa Sekolah Rakyat Semarakkan Lomba Fotografi Awan Cerah 2026 di TIM
-
Jaksa Agung Rotasi Besar-besaran, Posisi Dirdik Jampidsus Hingga 8 Kajati Resmi Berganti
-
Review Jujur Drunken Molen: Humor Absurd yang Diam-Diam Menertawakan Hidup
-
Bos Whip Pink Ayah dan Anak Jadi Tersangka, Bareskrim Bongkar Bisnis Gas Tertawa Ilegal
-
Apakah Serum Viva Gold Bisa Menghilangkan Flek Hitam? Kenali Kandungan dan Manfaatnya
-
Wamensos Tekankan Pentingnya Pengelolaan Sarpras Sekolah Rakyat
-
Atap Stadion Pakansari Usai Diperbaiki, Kabupaten Bogor Siap Sambut Piala AFF 2026
-
Penampakan Desain Flyover Simpang Panam, Sarat Ornamen Khas Melayu
-
Berkas Perkara Taufik Hidayat Resmi Masuk Kejati Jabar