-
Perang Iran memicu kelangkaan avtur dunia yang berdampak pada kenaikan harga tiket pesawat.
-
Maskapai besar mulai memangkas jadwal penerbangan akibat biaya bahan bakar yang melonjak drastis.
-
Blokade Selat Hormuz menghambat distribusi 20 persen pasokan bahan bakar pesawat secara global.
Suara.com - Kelangkaan avtur global akibat eskalasi perang di Iran kini mengancam operasional maskapai di seluruh dunia.
Blokade jalur distribusi energi membuat risiko pembatalan penerbangan dan pemangkasan jadwal menjadi kenyataan pahit bagi pelancong.
Dikutip dari CNN, meskipun Amerika Serikat memiliki cadangan minyak besar, lonjakan harga bahan bakar tetap menghantam margin keuntungan maskapai domestik.
Situasi ini memaksa perusahaan penerbangan menghapus tarif murah demi menutupi pembengkakan biaya operasional yang tak terkendali.
Bahkan jika ketegangan di Selat Hormuz mereda hari ini, dampak buruk pada sektor pariwisata tetap sulit dihindari.
United Airlines telah mengambil langkah drastis dengan mengurangi sekitar 5 persen dari total jadwal penerbangan mereka.
Pemulihan pasokan minyak diprediksi memakan waktu berbulan-bulan hingga distribusi kembali ke level normal bagi pasar internasional.
“Ini akan memakan waktu setidaknya sampai Juli,” ujar Matt Smith, kepala analis AS di firma konsultan energi Kpler.
“Dan itu pun mungkin sudah terdengar optimis saat ini,” tambah Matt Smith dalam analisisnya terkait krisis.
Baca Juga: AS Dinilai Tak Realistis Soal Nuklir, Perdamaian dengan Iran Sulit Terwujud
Bagi maskapai, bahan bakar merupakan beban finansial terbesar kedua setelah biaya tenaga kerja di struktur pengeluaran.
Pesawat komersial lorong tunggal mengonsumsi sekitar 800 galon bahan bakar setiap jam, sementara pesawat berbadan lebar jauh lebih boros.
Empat maskapai raksasa Amerika Serikat menghabiskan rata-rata 100 juta dolar AS per hari hanya untuk keperluan avtur.
Delta memprediksi adanya tambahan pengeluaran sebesar 2 miliar dolar AS untuk kebutuhan bahan bakar pada tahun ini.
“United bisa menghabiskan tambahan 11 miliar dolar AS untuk bahan bakar tahun ini jika kondisi tetap seperti sekarang,” kata CEO United Scott Kirby.
Data Deutsche Bank menunjukkan harga tiket perjalanan mendadak ke destinasi wisata populer telah melonjak hingga 74 persen.
Berita Terkait
Terpopuler
- Sejumlah Harga BBM Naik Hari Ini, JK: Tidak Bisa Tahan Lagi Negara Ini, Keuangannya Defisit
- 10 Bulan di Laut, 4000 Marinir di Kapal Induk USS Gerald Ford Harus Ngantri Buat BAB
- 5 Tinted Sunscreen yang Bagus untuk Flek Hitam dan Melasma
- 7 Bedak Compact Powder Anti Luntur Bikin Glowing Seharian, Cocok Buat Kegiatan Outdoor
- Kecewa Warga Kaltim hingga Demo 21 April, Akademisi Ingatkan soal Kejadian Pati
Pilihan
-
Gempa 7,5 M Guncang Jepang, Peringatan Tsunami hingga 3 Meter Dikeluarkan
-
Respons Santai Jokowi Soal Pernyataan JK: Saya Orang Kampung!
-
Pemainnya Jadi Korban Tendangan Kungfu, Bos Dewa United Tempuh Jalur Hukum
-
Penembakan Massal Louisiana Tewaskan 8 Anak, Tragedi Paling Berdarah Sejak Awal Tahun 2024
-
Viral Tendangan Kungfu ke Lawan, Eks Timnas Indonesia U-17 Terancam Sanksi Berat
Terkini
-
Di Balik Ambisi B50 Dikritik: Diklaim Hemat Energi, Tapi Bebani Lingkungan dan Rakyat
-
Tinjau Sekolah Rakyat Sigi, Gus Ipul Pastikan Laptop Dimanfaatkan untuk Kegiatan Belajar
-
KPK Limpahkan Suap Impor Bea Cukai ke Pengadilan Tipikor, Nilai Lebih Rp40 Miliar
-
Kasus Korupsi Kuota Haji Kemenag, KPK Periksa Staf PBNU Syaiful Bahri
-
Presiden Xi Jinping Telepon Pangeran Arab Saudi Desak Selat Hormuz Dibuka
-
Bos FBI Klaim Punya Bukti Kecurangan Pemilu 2020, Joe Biden Bakal Ditangkap?
-
Begini Respons Kopassus Usai Beredar Isu Orang Istana Digampar Pangkopassus
-
Polisikan Ade Armando dan Abu Janda, Advokat Maluku Bawa Bukti Pelintiran Video JK
-
Konflik Berdarah di Gurdwara Moers Jerman, 11 Orang Luka Parah Rebutan Duit Kuil
-
Ogah Bolak-balik Digugat ke MK, Dasco Minta RUU Pemilu Tak Diburu-buru: Biar Sempurna