-
Amerika Serikat menghadapi jalan buntu dalam upaya memenangkan konflik strategis melawan Iran.
-
Perundingan di Islamabad diprediksi gagal karena perbedaan kepentingan kedua negara sangat tajam.
-
Kegagalan menundukkan Iran akan melemahkan posisi tawar Amerika Serikat di hadapan global.
Suara.com - Amerika Serikat diprediksi sulit menemukan celah kesuksesan dalam perseteruan bersenjata melawan kekuatan militer Iran.
Ketimpangan ambisi antara kedua negara menjadi penghambat utama tercapainya kesepakatan damai pada meja perundingan di Islamabad.
Kegagalan diplomasi ini akan memaksa Washington memilih antara melanjutkan blokade maritim atau kembali ke fase peperangan aktif.
“Tidak ada jalur yang mudah menuju kesuksesan bagi AS dalam perang melawan Iran,” kata Malcolm Davis dikutip dari CNN, Selasa (21/4/2026).
Analis Senior Strategi Pertahanan ASPI ini merasa tidak optimis perundingan minggu ini akan membuahkan hasil nyata.
Kesenjangan keinginan yang terlalu lebar antara Washington dan Teheran membuat penyelesaian konflik menjadi sangat mustahil dilakukan.
“Kecil kemungkinan kita akan melihat sesuatu yang dihasilkan dari hal ini yang benar-benar akan menyelesaikan (konflik) ini,” ujar Davies.
Jika pembicaraan buntu, Amerika Serikat hanya memiliki opsi tetap bertahan di Selat Hormuz atau menyerang.
Pengamat militer memperingatkan bahwa serangan udara secara masif bukan jaminan tercapainya target strategis pihak Gedung Putih.
Baca Juga: Purbaya di Depan Investor Global: Pertumbuhan RI Tak Hanya Stabil, Tapi Juga Akan Lebih Produktif
“Tidak ada jaminan bahwa sekadar mengebom Iran akan mencapai tujuan strategis AS,” tegas pakar pertahanan tersebut.
Eskalasi kekerasan yang tidak terkendali justru berpotensi merusak stabilitas tanpa memberikan keuntungan politik apa pun.
Menurutnya, “Ada risiko nyata bahwa perang ini berputar di luar kendali dan tidak membuahkan hasil apa pun.”
Posisi internasional Amerika Serikat terancam melemah di mata rival seperti China dan Rusia jika gagal menang.
Meninggalkan medan perang tanpa berhasil melumpuhkan program nuklir Iran akan dianggap sebagai tanda kelemahan militer.
“Orang-orang Iran pada dasarnya telah menjadi musuh yang lebih tangguh daripada yang saya kira dipikirkan oleh AS,” ungkap Davies.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
FIFA Buka Voting Tim Terbaik Piala Dunia 2026: Argentina Sumbang 5 Pemain, Spanyol?
-
Dari Pameran Kudatuli, Megawati Titip Pesan untuk Generasi Muda Indonesia
-
Kasus Dugaan Penculikan Atlet Golf Jesslyn Wijaya, Polisi Telusuri Perjalanan hingga Kuala Lumpur
-
Bukan Sekedar Catatan Masa Lalu, Peristiwa Kudatuli Merupakan Simbol Perjuangan Lawan Ketidakadilan
-
Usut Aliran Rp 91 Miliar Suap Bea Cukai, KPK Tetapkan Tersangka Baru
-
Korupsi Disebut Kejahatan HAM, Mengapa Hak Korban Belum Jadi Perhatian?
-
Aksesori Estetik Makin Digemari, Ini Tempat Belanja Lengkap Incaran Reseller hingga Jastiper
-
Salah Setting Aplikasi Navigasi, Pemotor RX-King Nekat Masuk Tol Jagorawi
-
Anggaran Jasa Belanja Tenaga Ahli Banten Tembus Rp55,47 Miliar, Kepala BPKAD Mengaku Kaget
-
Jembatan di Serang Mulai Dibangun Andra Soni Usai 25 Tahun Tak Tersentuh Perbaikan