News / Internasional
Kamis, 23 April 2026 | 10:52 WIB
Ilustrasi perusahaan panen cuan saat perang AS vs Iran [Suara.com/AI]
Baca 10 detik
  • Konflik AS-Israel dan Iran memicu penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi global oleh IMF akibat terganggunya distribusi energi dunia.
  • Sektor keuangan, pertahanan, dan teknologi mencatat lonjakan laba signifikan karena meningkatnya permintaan global di tengah situasi perang.
  • Ketidakpastian geopolitik mendorong banyak negara mempercepat transisi energi bersih untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil konvensional.

Lonjakan ekspor semikonduktor dari Asia Timur menjadi indikator kuat bahwa permintaan teknologi tetap tinggi.

Bahkan, perusahaan seperti OpenAI dan Anthropic disebut tengah bersiap melantai di bursa tahun ini.

Di sisi energi, konflik justru mempercepat transisi ke sumber terbarukan.

International Energy Agency mencatat lebih dari 150 negara kini memiliki kebijakan untuk mendorong energi bersih dan nuklir.

Krisis ini menjadi pemicu bagi banyak negara untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Indeks S&P Global Clean Energy Transition bahkan melonjak lebih dari 70%, mencerminkan optimisme investor terhadap sektor ini.

Meski demikian, para analis mengingatkan bahwa keuntungan sektor-sektor tersebut tidak menghapus risiko besar terhadap ekonomi global.

Ketidakpastian berkepanjangan justru bisa memperdalam krisis, terutama bagi negara dengan daya tahan ekonomi yang lemah.

Load More