News / Internasional
Kamis, 23 April 2026 | 12:19 WIB
Donald Trump (IG Donald Trump)
Baca 10 detik
  • Donald Trump mengklaim kepemimpinan Iran terpecah, namun para pakar justru melihat konsolidasi kuat.

  • Iran membentuk struktur komando perang kolektif demi menghadapi ancaman eksistensial dari Amerika Serikat.

  • Mohammad Bagher Ghalibaf menjadi tokoh sentral yang memimpin diplomasi Iran dengan sikap terpadu.

Mereka juga menuduh Washington tidak memiliki keseriusan dalam mencari solusi diplomatik yang adil bagi kedua belah pihak.

Republik Islam kini menonjolkan sosok Mohammad Bagher Ghalibaf sebagai representasi tunggal persatuan nasional mereka di kancah internasional.

Ketua Parlemen sekaligus mantan komandan Garda Revolusi ini memimpin tim negosiasi dengan komposisi pejabat yang sangat beragam.

Mehdi Tabatabai, wakil juru bicara kepresidenan Iran, menegaskan bahwa isu keretakan hanyalah alat propaganda lawan yang sudah usang.

“Pembicaraan tentang perpecahan di antara pejabat senior adalah taktik politik dan propaganda yang melelahkan oleh musuh-musuh Iran,” tulis Tabatabai di media sosial X.

“Persatuan dan konsensus antara medan perang, publik, dan diplomat saat ini telah luar biasa dan patut diperhatikan,” tegasnya lagi.

Perubahan Mekanisme Pengambilan Keputusan Strategis

Kondisi Supreme Leader yang baru, Mojtaba Khamenei, yang dikabarkan cedera atau bersembunyi, mengubah cara kerja sistem birokrasi Iran.

Tanpa instruksi harian yang spesifik, para pejabat tinggi kini memiliki ruang manuver yang lebih luas dalam memutuskan kebijakan.

Baca Juga: Trump Sempat Mau Pencet Tombol Senjata Nuklir, Tapi Dihalangi Jenderal Caine

Hamidreza Azizi dari German Institute for International and Security Affairs menyebut sistem lama yang bergantung pada satu individu telah bergeser.

“Sistem ini sekarang beroperasi dengan cara yang berbeda. Di masa lalu kita memiliki institusi… yang seharusnya mendiskusikan masalah strategis dan menyajikan catatan penasihat kepada pemimpin tertinggi untuk dia membuat keputusan akhir,” ujar Azizi.

“Akses ke pemimpin tertinggi tidak bisa teratur sebagaimana mestinya,” katanya sembari menekankan bahwa ini memberikan keleluasaan bagi pejabat lain.

Konflik antara Amerika Serikat dan Iran memasuki fase kritis setelah serangkaian operasi militer yang melumpuhkan struktur kepemimpinan tradisional Teheran.

Di bawah tekanan pemerintahan Donald Trump, Iran dipaksa melakukan reorganisasi kekuasaan secara cepat dari sistem sentralistik di bawah Ayatollah Ali Khamenei menjadi struktur komando perang kolektif.

Ketidakhadiran fisik Mojtaba Khamenei di ruang publik menciptakan dinamika baru di mana para elit politik dan militer harus bersatu demi menghindari kekalahan total sambil menghadapi tekanan dari kelompok garis keras domestik.

Load More