- Mantan Ketua Komnas Perempuan Yuniyanti Chuzaifah mengkritik fenomena politik lambung yang melumpuhkan daya kritis masyarakat sipil di Indonesia.
- Diskusi di UIN Jakarta pada 23 April 2026 menyoroti kebijakan populis pemerintah yang mengikis kesadaran kritis masyarakat akar rumput.
- Yuniyanti menegaskan bahwa perbedaan pandangan politik tidak boleh dikriminalisasi demi menjaga kebebasan berpendapat dalam negara demokrasi.
Suara.com - Mantan Ketua Komnas Perempuan periode 2010-2014, Yuniyanti Chuzaifah, melontarkan kritik pedas terhadap kondisi demokrasi dan kebebasan akademik di Indonesia saat ini.
Ia menilai, Indonesia tengah terjebak dalam fenomena "Politik Lambung" atau Gastro-Politics yang melumpuhkan daya kritis masyarakat sipil.
Hal tersebut disampaikan Yuniyanti dalam Serial Diskusi FISIP UIN Jakarta bertajuk "Politik dan Kebebasan Akademik" di Auditorium Prof. Bahtiar Effendy pada Kamis (23/4/2026).
Mengaitkan dengan momentum Hari Kartini, Yuniyanti menyebut bahwa semangat literasi yang dibawa RA Kartini di masa lalu sebenarnya adalah bentuk subversi pengetahuan terhadap kolonialisme. Namun, jika semangat itu dibawa ke konteks Indonesia hari ini, nasibnya bisa berbeda.
"Kalau Kartini lahir sekarang, jangan-jangan dia dituduh makar. Karena Kartini mengkritik isu-isu soal pajak, dulu soal upeti-upeti yang dibebankan kepada rakyat kecil," ujar Yuniyanti di hadapan peserta diskusi.
Menurutnya, Kartini mengajarkan huruf kepada perempuan proletar agar kekuasaan pengetahuan tidak dimonopoli oleh kelompok tertentu. "Ini subversi pengetahuan," tegasnya.
Fenomena 'Politik Lambung' dan Matinya Kritisisme
Yuniyanti menyoroti bagaimana program-program populis seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan bantuan sosial (bansos) justru menjadi alat untuk "menidurkan" kesadaran kritis rakyat. Ia menyebutnya sebagai upaya pengelompokan demokrasi di lapisan akar rumput.
"Civil society itu sekarang terperangkap karena politik yang saya namanya gas-politik, atau politik lambung. Rakyat dikenyangkan dengan program-program MBG dan lain sebagainya yang mengikis kritisisme," ungkap Yuniyanti.
Baca Juga: Melawan Narasi Dangkal: Cara Keliru Membaca Tokoh Bangsa Hari Ini
Kondisi ini, menurutnya, terlihat jelas di lapangan. Aktivis masyarakat sipil kini justru sering ditanya soal bantuan materi ketimbang gagasan perubahan.
"Kawan-kawan civil society yang datang ke lapangan itu selalu ditanya oleh masyarakat bawah, 'Bawa bansos apa?', 'Bawa makanan apa?'. Jadi kesadaran kritis tidak dibangun. Ada pengeroposan demokrasi di layar terbawah dan orang merasa bahagia seakan-akan ini dikenyangkan," lanjutnya.
Dampak Kebijakan pada Perempuan
Berdasarkan temuannya di lapangan sebagai "anggota radikal bebas" (aktivis independen), Yuniyanti membeberkan dampak nyata dari kebijakan pemerintah yang dianggap tidak berbasis data. Ia mencontohkan bagaimana program MBG di beberapa daerah justru membebani kesehatan perempuan.
"Di Tasik, perempuan-perempuan kehilangan gas, mereka tidak punya gas lagi untuk bisa memasak... mereka juga cerita bagaimana MBG ini membuat mereka harus bekerja dari jam 12 malam sampai pagi sehingga mereka sakit GERD, batuk-batuk, dan lain sebagainya," tuturnya.
Ia juga menyentil klaim pemerintah yang menyebut Indonesia sebagai negara bahagia. Fakta di lapangan, menurutnya, justru menunjukkan tingkat keputusasaan yang tinggi akibat sulitnya lapangan kerja.
Berita Terkait
-
Melawan Narasi Dangkal: Cara Keliru Membaca Tokoh Bangsa Hari Ini
-
Perjuangan 75 Kartini Penjelajah Pakai Kebaya, Kibarkan Merah Putih Raksasa di Puncak Gunung
-
Kartini dan Perempuan Hari Ini: Menulis sebagai Ruang Aman untuk Bersuara
-
Perempuan Dominasi Posisi Strategis di BRI, Bukti Nyata Kesetaraan di Sektor Perbankan
-
Pelindo Group Buka Jalan UMKM Perempuan Menuju Transformasi Digital
Terpopuler
- 7 SD Swasta Terbaik di Palembang dan Estimasi Biayanya, Panduan Lengkap Orang Tua 2026
- Begini Respons Kopassus Usai Beredar Isu Orang Istana Digampar Pangkopassus
- Sepeda Dewasa Merek Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Pilihan Terbaik untuk Harian
- 7 Pilihan Lipstik yang Awet 12 Jam, Anti Pudar Terkena Air dan Minyak
- Aksi Kritik Gubernur Rudy Mas'ud 21 April, Massa Diminta Tak Tutup Jalan Umum
Pilihan
-
Garap Kasus Haji, KPK Panggil Ustaz Khalid Basalamah Hari Ini
-
Merantau ke Kota Kecil, Danu Tetap Sulit Cari Kerja: Sampai Melamar Pawang Satwa
-
Purbaya Copot Febrio dan Luky dari Dirjen Kemenkeu
-
Heboh! Gara-gara Putar Balik, Sopir Truk Ini Kena Tilang Polisi Rp 22 Juta
-
Bukan Hoaks! 9 Warga Papua Termasuk Balita Tewas Ditembak saat Operasi Militer TNI
Terkini
-
Kemenlu RI Pastikan Sama Sikap dengan Malaysia dan Singapura Soal Tarif Selat Malaka
-
Kasus DKJA, KPK Panggil Dirjen Integrasi Transportasi dan Multimoda Kemenhub
-
Kabar Gembira! Besok Naik Transportasi Umum di Jakarta Cuma Bayar Rp1
-
Soal Kasus Guru Atun Dihina Siswa di Kelas, Komisi X DPR: Ini Tamparan Keras Dunia Pendidikan
-
Daya Beli Terancam Gegara Harga Naik, DPR Minta Pemerintah Gelar Operasi Pasar Minyak Goreng
-
Nekat Pungut Biaya? Sekolah Swasta Gratis di Jakarta Terancam Sanksi Tegas!
-
KPK Usul Masa Jabatan Ketum Parpol Maksimal 2 Periode: Demi Cegah Korupsi dan Dinasti Politik?
-
Peluang Juara Persija Semakin Kecil, Mauricio Souza Beberkan Masalah Tim
-
Saiful Mujani Kembali Dipolisikan Soal Makar, Kuasa Hukum Bilang Begini
-
Cetak Pemimpin Antikorupsi, Gubernur Lemhannas Bawa Peserta P4N Belajar Langsung ke KPK