-
Blokade Selat Hormuz memicu krisis energi dunia yang lebih parah dibanding pandemi.
-
Perusahaan global beralih dari strategi efisiensi ke penumpukan stok barang demi keamanan.
-
Relokasi pabrik ke wilayah stabil menjadi solusi utama menghindari titik rawan konflik.
Kapal-kapal tanker terpaksa melakukan perjalanan jauh memutar melewati Tanjung Harapan di Afrika Selatan demi keamanan kargo.
Dampak nyata dari kelangkaan energi ini diprediksi baru akan muncul sepenuhnya dalam beberapa bulan ke depan saat stok menipis.
"Dampak dari kelangkaan ini masih merambat melalui rantai pasok multitier perusahaan ... dan akan memakan waktu berbulan-bulan bagi efek penuhnya untuk muncul dan bagi rantai pasok untuk stabil setelah Selat dibuka sepenuhnya," Janssen menunjukkan.
Survei terhadap 6.000 perusahaan menunjukkan mayoritas pelaku usaha khawatir terhadap keberlanjutan produksi mereka akibat lonjakan biaya komoditas.
Fenomena reshoring atau pemindahan pabrik ke wilayah yang lebih dekat dengan konsumen kini menjadi tren utama, terutama di Eropa.
"Salah satu cara untuk menghindari titik sumbat utama adalah dengan mendekatkan manufaktur ke tempat pelanggan berada," kata Anderson kepada DW.
Perubahan Permanen Pola Dagang
Strategi produksi "just-in-time" yang mengutamakan efisiensi kini mulai digantikan oleh pendekatan "just-in-case" yang mengandalkan cadangan stok.
Indeks Volatilitas Rantai Pasok Global mencatat bahwa penumpukan stok pengamanan saat ini mencapai level tertinggi dalam tiga tahun terakhir.
Baca Juga: Sekolah Iran di Tengah Perang: Tanpa Telepon, Internet Mati dan Kelas Hancur
Banyak perusahaan mulai menerapkan skema diversifikasi dengan menambah negara mitra baru di luar China untuk meminimalisir risiko.
Negara-negara seperti Indonesia, India, dan Vietnam menjadi target utama relokasi rantai pasok di tengah ketegangan geopolitik yang memanas.
Vulnerability saat ini bukan lagi soal ketergantungan semata, melainkan tentang ketangguhan sistem yang saling terhubung secara global.
Konflik di Iran yang berujung pada penutupan Selat Hormuz terjadi di tengah upaya dunia pulih dari disrupsi logistik pasca-pandemi dan kebijakan tarif dagang.
Jalur ini merupakan urat nadi energi dunia yang jika terganggu akan langsung memicu krisis biaya hidup secara global akibat kenaikan harga bahan bakar dan logistik.
Berita Terkait
Terpopuler
- Sepeda Dewasa Merek Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Pilihan Terbaik untuk Harian
- 7 Pilihan Lipstik yang Awet 12 Jam, Anti Pudar Terkena Air dan Minyak
- Begini Respons Kopassus Usai Beredar Isu Orang Istana Digampar Pangkopassus
- 5 Parfum Indomaret dengan Wangi Segar Tahan Lama, Cocok Dipakai saat Cuaca Panas
- 12 Promo Makanan Hari Kartini 2026, Diskon Melimpah untuk Rayakan Momen Spesial
Pilihan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
-
Terungkap Jalur Gelap 10 Ton Pupuk Subsidi di Sumsel, Dijual ke Pihak Tak Berhak
-
Garap Kasus Haji, KPK Panggil Ustaz Khalid Basalamah Hari Ini
-
Merantau ke Kota Kecil, Danu Tetap Sulit Cari Kerja: Sampai Melamar Pawang Satwa
-
Purbaya Copot Febrio dan Luky dari Dirjen Kemenkeu
Terkini
-
Aiptu YS Diduga Jadi Broker Proyek Rp16 M di Bekasi, IPW Desak PTDH dan Tersangka
-
Singgung Kasus Rocky Gerung, Todung Tak Yakin Saiful Mujani Berakhir di Pengadilan
-
Perintah 'Tembak Mati' Donald Trump: Selat Hormuz di Ambang Perang Terbuka!
-
Kejagung Tetapkan 3 Tersangka Baru Kasus Dugaan Korupsi Penyimpangan dan Pengelolaan Tambang
-
Bantargebang di Ambang Kolaps, DPRD DKI Desak Strategi Pengelolaan Sampah Segera Dieksekusi
-
Dikaitkan dengan Kasus Kuota Haji, Khalid Basalamah Tegaskan Tak Pernah Interaksi dengan Gus Yaqut
-
Gus Lilur Gaungkan 'Abuktor' di Muktamar NU 2026: Syarat Mutlak Pemimpin PBNU Bebas Korupsi
-
Hari Bumi: BNI Rehabilitasi 50 Hektare Mangrove di Banyuwangi, Berikan Dampak Ekonomi ke 5.000 Warga
-
KPK: Bukan Hanya Khalid Basalamah, Sejumlah PIHK Juga Kembalikan Uang Kasus Haji
-
Resmi! Seskab Teddy Emban Tugas Baru Sebagai Duta Sekolah Rakyat