News / Nasional
Jum'at, 24 April 2026 | 18:25 WIB
Ilustrasi Kebakaran Lahan (Pexels/Kelly)

Suara.com - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) masih menjadi persoalan lingkungan yang berulang di Indonesia. Ancaman tersebut semakin serius seiring adanya peringatan bahwa fenomena El Nino diperkirakan akan melanda Indonesia pada Juli hingga September 2026, sebagaimana dilaporkan oleh BMKG (24/4/2026). 

El nino sendiri merupakan sebuah fenomena meningkatnya suhu permukaan laut di samudra pasifik yang berdampak berbeda di setiap wilayah.

Di Indonesia, fenomena ini berdampak umumnya menyebabkan kekeringan dan penurunan curah hujan. Kondisi tersebut berpotensi memicu kemarau panjang, sehingga meningkatkan kerentanan lahan dan hutan terhadap kebakaran. 

Menghadapi potensi tersebut, Kementerian Kehutanan bersama BMKG resmi menjalin kerja sama strategis untuk memperkuat upaya mitigasi. 

Operasi Modifikasi Cuaca 

Pernah mendengar istilah hujan buatan ?  Inilah salah satu strategi yang digunakan pemerintah dalam mengatasi fenomena El Nino. Dalam istilah formal, upaya ini dikenal sebagai Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), yaitu bentuk intervensi manusia untuk mengubah kondisi cuaca secara sengaja melalui pendekatan ilmiah.

OMC  dilakukan melalui metode cloud seeding atau penyemaian awan. Proses ini dapat dianalogikan seperti menyemai benih tanaman, di mana awan ditaburi garam pada titik yang telah ditentukan agar dapat mempercepat proses pembentukan hujan, sebagaimana dilaporkan oleh BPBD Pontianak (24/4/2026). 

Metode ini dinilai relatif aman karena tidak mengandung zat-zat berbahaya dan hanya digunakan dalam upaya mitigasi bencana. Saat ini, pelaksanaan OMC telah dilakukan dio beberapa daerah, seperti Kalimantan Barat dan Riau. 

Sukses pada Percobaan Sebelumnya 

Baca Juga: Indonesia Hasilkan 1,9 Juta Ton E-Waste: Mengapa Pengelolaannya Tertinggal?

OMC kembali diterapkan karena dinilai efektif berdasarkan pengalaman sebelumnya dalam menekan angka karhutla. 

"Mencegah itu jauh lebih baik daripada mengobati. Mencegah karhutla jauh lebih baik daripada memadamkan api. Kita terus pantau tinggi muka air tanah, terutama di lahan gambut. Jika sudah di bawah 40 cm, kita segera lakukan OMC untuk re-wetting atau pembasahan kembali guna menjaga cadangan air tanah," ujar Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni. 

Ia juga menekankan bahwa penanganan karhutla di Indonesia terus mengalami perkembangan dari tahun ke tahun. Hal ini dapat dibuktikan dengan angka luas kebakaran terus menurun secara signifikan dari tahun 2019 hingga 2025. 

"Secara kolektif, bangsa kita adalah bangsa pembelajar. Data karhutla terus menurun. Namun, tahun ini tantangannya lebih besar karena adanya ancaman El Nino. Intervensi kita, seperti ketepatan data dan OMC, akan sangat menentukan," ucapnya. 

Senada dengan hal tersebut, Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menegaskan bahwa kerja sama ini berfokus pada upaya pencegahan, terutama dalam menghadapi musim kemarau yang diperkirakan akan datang lebih cepat dan berlangsung lebih lama dari biasanya. 

"Tugas BMKG adalah mendukung Kementerian Kehutanan dalam hal pengendalian kebakaran hutan, lahan, serta kekeringan. Kita mengupayakan agar tahun ini kita lebih siap memitigasi. Kami tidak hanya bekerja secara kuratif saat api sudah menyala, tapi memperkuat aspek preventif melalui integrasi data untuk memprediksi titik rawan," jelasnya.  

Load More