- Guru Besar UGM, Amalinda Savirani, menyatakan sepuluh tahun kepemimpinan Jokowi menyebabkan kemunduran demokrasi dan penyempitan ruang sipil di Indonesia.
- Direktur CELIOS, Bhima Yudhistira, menyoroti kebijakan hilirisasi nikel dan ketimpangan ekonomi ekstrem yang memicu pemiskinan struktural bagi masyarakat.
- Para pakar menyerukan penguatan solidaritas masyarakat sipil sebagai langkah strategis melawan otoritarianisme yang terus berkembang hingga masa mendatang.
Ia menilai kepemimpinan Jokowi telah menciptakan situasi di mana masyarakat sipil yang kritis justru harus berhadapan dengan kelompok ormas yang tidak jarang digerakkan untuk membungkam gerakan mahasiswa dan bantuan hukum.
"Jadi yang kita lihat hari ini adalah kekayaan sumber daya alam dikeruk, ketimpangan semakin ekstrem," ujarnya.
"Kalau kita lihat reaksioner kanan meningkat berbasiskan agama pada zaman Jokowi, itu adalah hasil dari ketimpangan," imbuhnya.
Ditambahkan Amalinda, pentingnya konsolidasi masyarakat sipil untuk menghadapi ketidakpastian politik di masa depan. Terutama dalam kepemimpinan ke Prabowo-Gibran hingga ke 2029 mendatang.
Amalinda menyerukan perlunya memperkuat ekosistem perlawanan warga guna menahan laju otoritarianisme yang terus merayap secara perlahan.
"Memang yang akan kita hadapi itu sesuatu yang sangat berat. Oleh karena itu solidaritas, saling bertemu, saling berjejaring, saling membentuk ekosistem itu adalah kunci bagi masyarakat sipil," pungkas Amalinda.
Berita Terkait
-
Reformasi Setengah Hati: Peneliti Soroti Tren Remiliterisasi dari Era SBY hingga Prabowo
-
Sebut JK Idola, Pakar Komunikasi: Gibran Sudah Belajar Banyak, Tak Lagi Terpancing Kritik Pedas
-
Guru Besar UGM Ingatkan Pemerintah Hati-hati soal Wacana Tarif Selat Malaka
-
Warisan Jokowi Buat RI Kebagian Duit Rp147 Triliun Dalam 3 Bulan
-
Jusuf Kalla di Pusaran Kasus Ijazah Jokowi, Murni Hukum atau Manuver Politik?
Terpopuler
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- 5 HP Infinix Rp3 Jutaan Spek Dewa untuk Gaming Lancar
- Tak Terima Dideportasi, WNA Cina di Sumsel Bongkar Dugaan Kejanggalan Proses Imigrasi
- 5 Pilihan Jam Tangan Casio Anti Air Mulai Rp100 Ribuan, Stylish dan Awet
- 5 Rekomendasi HP All Rounder 2026, Spek Canggih, Harga Mulai 2 Jutaan
Pilihan
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
-
Terungkap Jalur Gelap 10 Ton Pupuk Subsidi di Sumsel, Dijual ke Pihak Tak Berhak
Terkini
-
Tragedi PRT Lompat dari Lantai 4 Kos Benhil, Polisi Endus Dugaan Tindak Pidana
-
BNI Ingatkan Nasabah Waspadai Vishing dan Phishing, Tekankan Pentingnya Jaga Data Pribadi
-
AHY Dorong Model Penataan Kampung Mrican Sleman Jadi Percontohan Nasional
-
Benyamin Netanyahu Menderita Kanker Prostat
-
Nekat Olah Ikan Sapu-Sapu untuk Bahan Siomay, 5 Pria Diciduk Petugas Satpol PP
-
Tak Percaya Peradilan Militer, Pihak Andrie Yunus Tolak Hadiri Persidangan 29 April
-
Modus Gila Debt Collector Tipu Ambulans dan Damkar Demi Tagih Utang, DPR: Harus Dipidana!
-
Isu Kas Negara Menipis Dibantah, Menkeu: Uang Kita Masih Banyak!
-
J.J Rizal Soroti Warisan Soeharto, Sebut Aktor Lama Masih Dominan
-
Klarifikasi JK Soal Ceramah UGM Dianggap Tak Nyambung, GAMKI Tegaskan Laporan Polisi Tetap Lanjut