News / Internasional
Senin, 27 April 2026 | 10:47 WIB
Iran waspada serangan AS dan siap membalas penyitaan kapal kargo di Teluk Oman segera. (GEMINI AI)
Baca 10 detik
  • Serangan militer AS dan Israel pada 28 Februari 2026 terhadap Iran terbukti gagal mencapai tujuan strategisnya.
  • Perlawanan Iran selama 40 hari berhasil mematahkan dominasi militer AS serta memperkuat posisi tawar diplomatik Teheran.
  • Ketidakefektifan agresi militer memaksa Washington mempertimbangkan kembali jalur diplomasi untuk menyelesaikan konflik nuklir dan regional.

Suara.com - Keberhasilan Iran bertahan dari agresi militer besar-besaran Amerika Serikat (AS) memunculkan pertanyaan tentang efektivitas kekuatan militer dalam mencapai tujuan politik di Timur Tengah.

Perlawanan Teheran selama 40 hari setelah pembunuhan pemimpin tertingginya menunjukkan bahwa kekuatan militer AS memiliki batas, terutama saat menghadapi negara dengan ideologi perlawanan yang kuat.

Ketidakmampuan Washington memaksakan kehendak melalui serangan udara dan drone menjadi sinyal bahwa dominasi militer saja tak lagi cukup di kawasan tersebut.

Analisis program The Bottom Line Al Jazeera menyoroti bagaimana Iran mampu meruntuhkan narasi supremasi militer AS di Timur Tengah.

Vali Nasr, profesor hubungan internasional di Universitas Johns Hopkins, menilai kampanye militer yang dilancarkan pemerintahan Donald Trump bersama Israel gagal mencapai tujuan strategisnya.

"Anda tidak datang ke meja perundingan untuk menuntut penyerahan diri. Pihak lawan tidak akan menyerah karena mereka belum kalah. Jadi, Anda harus mencapai kesepakatan," ujar Nasr dalam wawancara dengan Steve Clemons.

Strategi Militer AS Dinilai Gagal

Asap membubung di Teheran, Iran duga dari serangan rudal Israel dan Amerika Serikat pada Sabtu (28/2/2026). [X/Vahid Online]

Sejumlah analis menilai pemerintahan Trump meremehkan ketahanan sistemik Iran serta dukungan rakyat terhadap kedaulatan nasional.

Strategi "tekanan maksimum" yang berkembang menjadi agresi militer terbuka justru menemui jalan buntu ketika Iran membalas dengan kekuatan yang tak diduga.

Baca Juga: AS Perketat Aturan Kartu Hijau, Pemohon yang Mendukung Palestina akan Ditolak

AS kini menghadapi dilema: melanjutkan perang dengan biaya besar atau kembali ke meja perundingan.

Menurut Nasr, tujuan utama Iran adalah menunjukkan kepada AS dan Israel bahwa perang melawan Teheran bukan perkara mudah.

"Tujuan Iran adalah memastikan AS dan Israel memahami bahwa perang dengan Iran itu tidak mudah," tegas Nasr.

Tekanan militer Washington justru memperkuat posisi tawar Iran, termasuk tuntutan penarikan pasukan asing dari Timur Tengah.

Diplomasi Jadi Jalan Akhir

Krisis ini menegaskan bahwa penggunaan kekuatan oleh negara adidaya memiliki batas yang jelas.

Load More