News / Internasional
Selasa, 28 April 2026 | 16:08 WIB
Little Aresha (Suara.com)
Baca 10 detik
  • Polisi menggerebek daycare Little Aresha Yogyakarta atas dugaan penganiayaan massal terhadap puluhan balita.

  • Sebanyak 13 pengelola ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus kekerasan anak yang tidak berizin.

  • Orang tua korban menuntut keadilan setelah menemukan bukti anak-anak mereka disekap dan diikat.

Namun kenyataan pahit muncul ketika ia menyadari adanya luka-luka fisik yang selama ini ditutupi dengan alasan kecelakaan saat bermain.

"Di balik semua ini, kami tidak menyangka bahwa anak-anak di tempat penitipan anak akan diperlakukan seburuk itu," tutur Noorman dengan penuh penyesalan.

Kecurigaan sebenarnya sempat muncul saat Noorman menemukan memar di tangan dan luka di dagu anak perempuannya beberapa waktu lalu.

Orang tua lain, Budiyanto, juga mengalami hal serupa saat melihat benjolan di dahi anaknya namun percaya pada dalih pengasuh.

Anak-anak korban juga menunjukkan tanda-tanda kelaparan ekstrem meski orang tua telah membekali mereka dengan makanan bergizi setiap hari.

Anak laki-laki Noorman bahkan didiagnosis menderita pneumonia dan mengalami kesulitan kenaikan berat badan selama berada di daycare tersebut.

"Mengapa setiap hari saat pulang ke rumah, ia selalu mengeluh masih lapar, minta makan, minum, susu," ungkap Noorman saat menyadari sinyal bahaya tersebut.

Kekejaman ini tidak hanya meninggalkan bekas luka fisik, tetapi juga trauma psikologis yang mendalam bagi para korban kecil tersebut.

Sebuah video viral menunjukkan seorang anak yang bercerita bahwa mulutnya disumpal agar tangisannya tidak terdengar oleh sang ibu.

Baca Juga: Berapa UMR Jogja? Pengasuh Daycare Little Aresha Cuma Digaji Rp2 Jutaan Per Bulan

Erika Rismay, ibu dari anak tersebut, hanya bisa memohon maaf melalui unggahan media sosialnya atas apa yang menimpa buah hatinya.

"Oh Allah, anakku, maafkan aku," tulis Erika dalam takarir video yang menyentuh hati ratusan ribu netizen tersebut.

Ia baru menyadari mengapa anaknya selalu menangis histeris setiap kali akan diantar ke tempat penitipan anak yang tidak berizin itu.

Noorman dan orang tua lainnya mendesak agar proses hukum berjalan transparan dan para pelaku diberikan hukuman seberat-beratnya.

"Ini tidak manusiawi. Kami telah mempercayakannya kepada pusat tersebut," tegas Noorman merujuk pada pengkhianatan kepercayaan yang mereka alami.

Ia menekankan bahwa korban bukan hanya anaknya, melainkan puluhan balita lain yang mendapatkan perlakuan serupa.

Load More