- Komisi X DPR RI merespons kasus kekerasan terhadap 53 anak di Daycare Little Aresha, Yogyakarta, yang terbongkar pada April 2026.
- Polresta Yogyakarta menetapkan 13 tersangka atas tindakan kekerasan fisik dan verbal terhadap puluhan anak di tempat penitipan tersebut.
- Komisi X DPR RI akan memanggil Mendikdasmen untuk mengevaluasi sistem pengawasan serta memperketat regulasi operasional daycare secara nasional.
Suara.com - Komisi X DPR RI bereaksi keras atas terungkapnya kasus kekerasan massal terhadap anak di Daycare Little Aresha, Kota Yogyakarta.
Sebagai langkah konkret, Komisi X memastikan akan segera memanggil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap standar operasional dan pengawasan tempat penitipan anak di Indonesia.
Wakil Ketua Komisi X DPR RI dari Fraksi PKB, Lalu Hadrian Irfani, menegaskan, bahwa pihaknya ingin memastikan Kemendikdasmen memperketat regulasi guna menjamin keselamatan anak-anak.
"Kami akan panggil dinas pendidikan. Kita minta Kemendikdasmen memperketat standar pendidikan dan pengasuhan di Daycare," kata Lalu saat dikonfirmasi di Jakarta, Selasa (28/4/2026).
Politisi asal Nusa Tenggara Barat ini menekankan bahwa Kemendikdasmen melalui dinas pendidikan di daerah memiliki tanggung jawab besar dalam pembinaan, pengawasan operasional, serta penyusunan kurikulum layanan pengasuhan anak usia dini.
Ia menegaskan tidak boleh ada celah bagi tindakan kekerasan dalam institusi pendidikan dan pengasuhan.
"Pengawasan harus diperketat dan standar layanan daycare harus benar-benar ditegakkan. Tidak boleh ada kompromi terhadap keselamatan dan perlindungan anak," tegas Ketua DPW PKB NTB tersebut.
Lalu juga menyampaikan rasa prihatin yang mendalam atas temuan di Daycare Little Aresha.
Ia mengutuk keras fakta bahwa tempat yang seharusnya menjadi perlindungan justru berubah menjadi lokasi penganiayaan.
Baca Juga: Jerit Orang Tua Korban Daycare Little Aresha: Anak Diikat, Stunting, hingga Dugaan Kekerasan Seksual
"Kami sangat prihatin dan mengutuk keras dugaan kekerasan terhadap anak di lingkungan daycare. Tempat yang seharusnya menjadi ruang aman justru menjadi lokasi terjadinya tindakan yang tidak manusiawi," ujarnya.
Lebih lanjut, Lalu mendorong agar peristiwa tragis ini menjadi titik balik bagi pemerintah untuk membenahi sistem pengawasan secara nasional.
Menurutnya, negara harus memberikan jaminan keamanan maksimal bagi setiap anak yang dititipkan di fasilitas daycare.
"Kasus di Daycare Little Aresha harus menjadi momentum perbaikan menyeluruh, termasuk penguatan sistem pengawasan dan perlindungan anak. Negara harus hadir memastikan setiap anak mendapatkan perlindungan maksimal," pungkasnya.
Untuk diketahui, kasus ini mencuat setelah kepolisian melakukan penggerebekan pada Jumat (24/4/2026) menyusul laporan mantan karyawan yang menyaksikan praktik tidak manusiawi di lokasi tersebut.
Polresta Yogyakarta kini telah menetapkan 13 orang sebagai tersangka. Dari data kepolisian, tercatat 103 anak pernah dititipkan di daycare tersebut, dengan 53 anak di antaranya terverifikasi mengalami kekerasan fisik maupun verbal.
Berita Terkait
-
Berapa UMR Jogja? Pengasuh Daycare Little Aresha Cuma Digaji Rp2 Jutaan Per Bulan
-
Oknum Hakim Terseret Kasus Daycare Little Aresha Yogyakarta, Diduga Masuk Struktur Yayasan
-
Kasus Daycare Little Aresha: Polisi Dalami Dugaan Pemberian Obat Penenang dan Kekerasan Seksual!
-
Jerit Orang Tua Korban Daycare Little Aresha: Anak Diikat, Stunting, hingga Dugaan Kekerasan Seksual
Terpopuler
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
- Peluang Baru Terbuka, Kehidupan 4 Shio Ini Diprediksi Semakin Membaik Mulai 10 Juni 2026
- Beredar 24 Nama Terseret Kasus BGN, Kuasa Hukum Sony Sonjaya: Nama Itu Sudah Diserahkan ke Penyidik
Pilihan
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
-
'Kalau Semua Diam, Siapa yang Akan Bicara?' Alasan Zaskia Adya Mecca Dukung Aksi Mahasiswa
-
Silakan Tabrak Kami! Polisi Tantang Massa Mahasiswa UI yang Nekat ke Bundaran HI
-
Mahasiswa Belum Muncul, Begini Kondisi Terkini Bundaran HI Jelang Aksi 12 Juni
Terkini
-
Imbau Daerah Gelar Nobar Piala Dunia 2026, Mendagri Optimistis Bakal Gerakkan Perekonomian
-
'Tak Ada Penangkapan!' Kapolres Jaksel Bantah Tudingan Represif di Aksi Mahasiswa GMNI Pancoran
-
Gangguan Akses CCTV Publik Saat Aksi Unjuk Rasa di Sudirman Bukan dari Sistem Pemprov DKI
-
Massa di Sudirman Bubar: Mahasiswa Mundur Pertama, Disusul Kelompok 'Baju Hitam'
-
Mahasiswa Sudah Pergi, Siapa Massa Berbaju Hitam yang Masih Bertahan di Sudirman?
-
Mendagri Tito Dorong DKPP Tingkatkan Integritas Penyelenggara Pemilu
-
KPK Selidiki Dugaan Perintangan Penyidikan Kasus Bea Cukai, Pendiri IAW Diperiksa
-
Mengapa Pertamax Naik? Teddy Indra Wijaya Ungkap 3 Alasannya
-
Triana ke Mahasiswa: Jangan Lupakan Reformasi Agraria, Tanpa Itu Indonesia Tak Akan Berubah
-
Kenapa Polisi 'Ngotot' Larang Mahasiswa Demo di Kawasan Bundaran HI?