-
Serangan udara AS-Israel hancurkan 25 fasilitas medis dan produsen obat vital di Iran.
-
Pasien diabetes dan jantung kesulitan mendapatkan obat akibat kelangkaan stok serta lonjakan harga.
-
Apoteker Iran membangun jaringan informasi darurat untuk membantu distribusi obat kepada pasien kritis.
Suara.com - Sektor kesehatan Iran kini berada di titik nadir setelah gelombang gempuran militer Amerika Serikat dan Israel melumpuhkan infrastruktur produksi obat-obatan vital secara sistematis.
Kehancuran puluhan fasilitas farmasi ini memicu krisis kemanusiaan baru dengan hilangnya akses masyarakat terhadap obat-obatan esensial yang sebelumnya sudah sulit didapat.
Dikutip dari Sputnik, keadaan darurat ini tidak hanya menghambat penanganan luka perang tetapi secara langsung mengancam nyawa pasien pengidap penyakit degeneratif yang membutuhkan pengobatan berkelanjutan.
Pemerintah setempat mencatat agresi tersebut telah menargetkan setidaknya 25 titik strategis industri kesehatan yang tersebar di berbagai wilayah negara.
Pabrik yang memproduksi obat kanker, penyakit kardiovaskular, hingga zat anestesi kini tidak lagi mampu beroperasi secara normal akibat kerusakan fisik yang parah.
Institut Pasteur Teheran yang menjadi tulang punggung produksi vaksin nasional turut menjadi korban dalam rangkaian serangan udara yang terorganisir tersebut.
Kondisi ini memperparah defisit stok obat untuk penyakit saraf seperti multiple sclerosis yang sangat bergantung pada produksi domestik di bawah tekanan sanksi.
Apoteker di lapangan melaporkan bahwa pasien harus menghadapi kenyataan pahit dengan kosongnya rak-rak obat di apotek perkotaan maupun pedesaan.
Dr. Pejman Naim mengungkapkan kondisi ini menciptakan kepanikan bagi warga yang memiliki ketergantungan tinggi pada regimen obat harian untuk bertahan hidup.
Baca Juga: Amerika Serikat Protes Keras Iran Jadi Pemimpin Sidang Nuklir NPT, Menghina Perjanjian Internasional
“Beberapa obat, seperti untuk diabetes dan penyakit kardiovaskular, sangat langka di pasaran. Obat-obatan ini sebenarnya sudah terbatas selama perang, dan warga kesulitan mendapatkannya baik sebelum maupun selama konflik. Kini, kelangkaannya semakin parah,” kata Naim.
Meskipun infrastruktur fisik hancur, tenaga medis profesional di Iran berupaya menjaga sistem pelayanan tetap bernapas melalui metode pengelolaan darurat.
Pemerintah secara resmi mengaktifkan layanan saluran siaga bagi penduduk untuk melacak ketersediaan sisa stok obat yang masih tersebar di beberapa titik.
Para apoteker secara mandiri membangun integrasi informasi untuk mengarahkan pasien menuju lokasi yang masih memiliki sediaan medis yang dibutuhkan.
Inisiatif swadaya ini menjadi satu-satunya harapan bagi pasien jantung dan penderita penyakit kronis lainnya yang tidak boleh putus mengonsumsi obat.
Dr. Pejman Naim memberikan pandangan optimis bahwa upaya kolektif ini merupakan cara terbaik untuk memitigasi dampak agresi militer saat ini.
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 HP Murah Memori 128 GB dan Kamera Bening di Bawah Rp1,5 Juta untuk Multitasking
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 9 Rekomendasi Lipstik Tahan Lama yang Cocok untuk Kulit Sawo Matang
Pilihan
-
Hukum Tak Mampu Meyakinkan Publik, Main Hakim Sendiri Jadi Jalan Pintas
-
Rupiah Jebol ke Rp18.083 per Dolar AS, Terpuruk Paling Dalam di Asia usai Perry Warjiyo Mundur
-
Adik Kim Jong un ke Indonesia Cs: Hei Antek-antek Asing, Stop Jadi Corong Bayaran AS
-
Melania Trump Hendak Dibunuh saat Belanja Baju, Ada 'Orang Dalam' Berkhianat
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
Terkini
-
Pertamina EP Adera Sambung Harapan Anak Putus Sekolah Lewat Program Sekolah Kembali
-
Apa Itu Aplikasi AMPERA 24/7? Kini Warga Palembang Bisa Akses Layanan Polisi dari Ponsel
-
Murid Mengeluh Sepatunya Mengganjal saat Dipakai Sekolah, Isinya Diduga Paket Sabu
-
5 Fakta Mahasiswa KKN Tenggelam di Sungai Rawas, Perahu Terbalik Usai Tabrak Kayu
-
Ada Apa di Kejari Kabupaten Bogor? Kasi Pidsus Mendadak Dipanggil Kejagung
-
Pemenuhan Gizi Jadi Fondasi Tumbuh Kembang Anak, Ini yang Harus Diketahui Orang Tua
-
Dari Gudang hingga Rumah, Begini Perjalanan Produk Sebelum Sampai ke Tangan Konsumen
-
Ancaman Belum Usai: Sosiolog UNJ Ingatkan Bentrokan Matraman Rawan Dibajak Isu SARA
-
Tuntas Uji Coba 3 Bulan, Pemkab Bogor Godok Rute Baru Bus Listrik Bojong Gede - Exit Tol Citeureup
-
Ditahan KPK, Moch Mahrus Suap Anggota DPR Rp1,5 Miliar demi Raih Hibah Pokmas Jatim