- Kontak senjata antara TPNPB-OPM dan aparat pada 11 Oktober 2025 memicu pengungsian ratusan warga di Kabupaten Teluk Bintuni.
- Sebanyak 206 warga masih bertahan di pengungsian akibat kehilangan tempat tinggal, mata pencaharian, serta akses kebutuhan dasar.
- MPSI mendesak pemerintah pusat segera melakukan intervensi komprehensif untuk menjamin keamanan dan pemulihan kondisi psikososial masyarakat terdampak.
Suara.com - Krisis pengungsian di Distrik Moskona Utara dan Moskona Utara Jauh, Kabupaten Teluk Bintuni, dinilai membutuhkan perhatian serius dari pemerintah pusat.
Tim Peneliti dan Advokasi Merah Pusaka Strategik Indonesia (MPSI) menyebut dampak pascaserangan kelompok separatis telah meluas ke berbagai aspek kehidupan warga.
Ketua tim MPSI, Hendrik Arwam, mengatakan situasi di Moskona tidak bisa ditangani secara biasa.
Ia menegaskan diperlukan intervensi langsung pemerintah pusat karena krisis telah menyentuh aspek kemanusiaan, sosial, hingga keamanan.
“Situasi di Moskona ini tidak bisa ditangani secara biasa. Ini membutuhkan intervensi langsung dan serius dari pemerintah pusat,” ujar Hendrik.
Ia menjelaskan, kontak senjata antara kelompok TPNPB-OPM dan aparat keamanan pada 11 Oktober 2025 memicu kepanikan massal. Ratusan warga terpaksa meninggalkan kampung halaman dan hidup di pengungsian hingga lebih dari enam bulan.
Menurut Hendrik, saat ini sedikitnya 206 warga masih bertahan di pengungsian di wilayah perkotaan Teluk Bintuni.
Mereka kehilangan tempat tinggal, mata pencaharian, serta akses terhadap kebutuhan dasar yang memadai.
“Serangan ini menciptakan efek domino besar. Bukan hanya soal keamanan, tetapi juga menghancurkan tatanan kehidupan masyarakat sipil,” katanya.
Baca Juga: Kisah Siswa Pulau Batang Dua Tempuh Ujian Kelulusan di Tenda Pengungsian
MPSI menilai respons pemerintah daerah masih terbatas, sehingga dibutuhkan langkah lebih kuat dari pemerintah pusat.
Hendrik mendorong adanya kebijakan afirmatif dan langkah luar biasa untuk menangani krisis pengungsian tersebut.
Sementara itu, tim advokasi MPSI, Malkin Kosepa, menyoroti belum adanya pendataan menyeluruh terhadap kerusakan infrastruktur di kampung asal warga.
Ia menyebut banyak rumah dilaporkan rusak atau terbakar, yang menghambat proses pemulihan.
Selain kerusakan fisik, trauma psikologis juga menjadi penghalang utama bagi warga untuk kembali. Rasa takut terhadap potensi konflik susulan masih kuat di tengah masyarakat.
“Ini bukan sekadar soal relokasi atau bantuan logistik. Yang dibutuhkan adalah jaminan keamanan dan pemulihan psikososial,” ujar Malkin.
Berita Terkait
-
Kisah Siswa Pulau Batang Dua Tempuh Ujian Kelulusan di Tenda Pengungsian
-
Klaim 100 Persen Rampung di Aceh: Keberhasilan Nyata atau Tabir Pencitraan?
-
3 Langkah Taktis Dasco soal Krisis Penonaktifan BPJS PBI
-
Terima Aspirasi Amnesty, DPD RI Dorong Penyelesaian Damai Konflik dan Penguatan HAM di Papua
-
Momen Pramono Tertawa Lepas di Rakornas, Terpikat Kelakar Prabowo Soal '2029 Terserah'
Terpopuler
- 6 Pilihan HP Flagship Paling Murah, Spek Sultan Harga Teman
- 5 HP 5G Terbaru RAM 12 GB, Spek Kencang untuk Budget Rp3 Juta
- 5 Pilihan Sepatu Lari Hoka Murah di Sports Station, Harga Diskon 50 Persen
- 5 Parfum Aroma Segar Buat Pesepeda, Anti Bau Badan Meski Gowes Seharian
- 5 Sepeda Listrik Jarak Tempuh Terjauh, Tahan Air dan Aman Melintasi Gerimis
Pilihan
-
7 Sabun Mandi Cair Wangi Mewah yang Bikin Rileks Setelah Pulang Kerja, Ada yang Mirip Aroma Spa
-
Mantan Istri Andre Taulany Dilaporkan ke Polisi, Diduga Aniaya Karyawan
-
Stasiun Bekasi Timur akan Kembali Beroperasi Lagi Siang Ini
-
Truk Tangki BBM Meledak Hebat di Banyuasin, 4 Pekerja Terbakar saat Api Membumbung Tinggi
-
RS Polri Berhasil Identifikasi 10 Jenazah Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Ini Nama-namanya
Terkini
-
Studi CISDI: 9 dari 10 Makanan Kemasan di Indonesia Tinggi Gula, Garam, dan Lemak
-
KPK 'Skakmat' Ancaman Gugatan Rp300 Triliun Noel: Fokus Sidang, Jangan Membangun Opini!
-
Periksa Suami Fadia Arafiq, KPK Telusuri 'Jalur Panas' Uang di Perusahaan Keluarga
-
Lawan KPK, Noel Ancam Gugat Rp 300 Triliun: 'Tak Ambil Satu Rupiah Pun, Semua untuk Buruh!'
-
KPK Bidik Peran Suami Fadia Arafiq di Pusaran Korupsi Proyek Outsourcing Pekalongan
-
Usut Tragedi Bekasi Timur: Usai Sopir Taksi Green SM, Besok Giliran Masinis Diperiksa Polisi
-
Kenapa Banyak Bajak Laut di Somalia? Kapal Honour 25 Berisi 4 WNI Disandera Perompak
-
Kilas Balik Misi Berdarah TNI Bebaskan Kapal Sinar Kudus dari Cengkeraman Perompak Somalia
-
10 Jam Terjepit Dalam Kereta, Kisah Endang Melawan Maut Usai Sempat Dikira Tim SAR Meninggal
-
Orang Tua Korban Daycare Little Aresha Ajukan Perlindungan dan Restitusi ke LPSK