-
Zelensky menuduh Israel sengaja menampung gandum hasil jarahan Rusia di pelabuhan domestik.
-
Israel membantah tuduhan tersebut dan menuntut bukti hukum yang kuat dari pihak Ukraina.
-
Uni Eropa mengancam sanksi bagi entitas yang memfasilitasi perdagangan ilegal hasil perang Rusia.
Laporan investigasi media Haaretz mengungkap bahwa skandal ini bukan pertama kalinya terjadi di pelabuhan Israel.
Setidaknya terdapat empat pengiriman gandum ilegal Rusia yang berhasil bersandar di pelabuhan Israel tahun ini.
Data menunjukkan praktik serupa telah berlangsung sejak 2023 dengan total pengiriman mencapai lebih dari 30 kali.
Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha, langsung memanggil Duta Besar Israel di Kyiv untuk memprotes keras.
Kyiv merasa Israel tidak merespons peringatan diplomatik yang telah disampaikan melalui saluran rahasia selama ini.
Uni Eropa kini ikut memantau perkembangan kasus ini dan meminta klarifikasi resmi dari otoritas Israel.
Eropa memperingatkan bahwa mereka siap menjatuhkan sanksi kepada entitas di negara ketiga yang membantu Rusia.
“Kami mengutuk semua tindakan yang membantu mendanai upaya perang ilegal Rusia dan menghindari sanksi Uni Eropa dan tetap siap untuk menargetkan tindakan tersebut dengan mencantumkan individu dan entitas di negara ketiga jika diperlukan,” ujar juru bicara Uni Eropa.
Langkah ini diambil untuk menutup celah penyelundupan hasil bumi Ukraina yang dijual ke pasar global.
Baca Juga: Ukraina Terancam Krisis Senjata Akibat Amerika Serikat Terlalu Fokus Urus Perang Iran
Ukraina mengeklaim memiliki bukti adanya praktik sistematis dalam memfasilitasi aktivitas ekonomi ilegal Rusia.
Sejak invasi besar-besaran dimulai empat tahun lalu, Rusia secara konsisten dituduh menjarah sumber daya pertanian Ukraina.
Hubungan Israel dan Ukraina terus menegang karena Israel enggan mengirimkan bantuan senjata militer kepada Kyiv.
Tel Aviv memilih tetap menjaga hubungan dengan Moskow demi kepentingan keamanan mereka di kawasan Timur Tengah.
Ukraina kini mulai memposisikan diri sebagai penyedia teknologi pertahanan bagi rival-rival Rusia di berbagai wilayah.
Di sisi lain, bantuan kemanusiaan non-letal menjadi batas maksimal yang diberikan Israel kepada Ukraina sejauh ini.
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
- 5 Lipstik Rekomendasi Fuji yang Tahan Lama, Tidak Kering dan Anti Pecah-Pecah
Pilihan
-
Aliansi Rakyat Memanggil Kritik Sederet Program Pemerintah, Tuntut Prabowo-Gibran Lengser
-
Hasil Piala Dunia 2026: Hajar Paraguay, Start Sempurna Amerika Serikat
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
Terkini
-
Sebut Bukan Insiden Kebetulan, Nandang Sutisna Desak Evaluasi Program Makan Bergizi Gratis
-
Tiyo Ardianto Respons Viral Aksi Penolakan di UGM, Singgung Kondisi Mahasiswa 'Terpaksa' Demo
-
Aksi Bersih & Penghijauan dalam Memperingati HLH 2026, NHM Ajak Masyarakat Jaga Lingkungan Bersama
-
Wamendagri Bima Arya Tekankan Penguatan Karakter Generasi Muda Berbasis Nilai Budaya
-
Bukan Ancaman, Anis Matta Sebut Demo Justru 'Picu' Pemerintah Kerja Lebih Baik
-
Massa Bertahan di Gejayan Meski Aksi Selesai, Bunyi Klakson - Seruan Turunkan Prabowo Terus Menggema
-
Soal TNI-Komcad Dikerahkan di Demo Mahasiswa, Ini Reaksi Komisi I DPR
-
Turun Aksi di Jogja, Cholil ERK Tegaskan Gerakan Masyarakat Jangan Mengempis
-
Benarkah Jokowi Segera Jadi Ketua Dewan Pembina? PSI Kasih 'Kode Keras' Begini
-
Jawab Tuntutan Mahasiswa, Bakom RI Sebut Kebijakan Presiden Prabowo Hemat Anggaran Rp300 Triliun!