News / Nasional
Rabu, 29 April 2026 | 15:16 WIB
Terdakwa kasus penyiraman air keras kepada aktivis KontraS Andrie Yunus, Lettu Sami Lakka (kanan), Kapten Nandala Dwi Prasetya (kedua kanan), Lettu Budhi Hariyanto Cahyono (ketiga kanan) dan Serda Edi Sudarko (keempat kanan) menjalani sidang pembacaan dakwaan di Pengadilan Militer II-08, Jakarta, Rabu (29/4/2026). [ANTARA FOTO/Fauzan/tom]
Baca 10 detik
  • Empat anggota BAIS TNI melacak keberadaan aktivis Andrie Yunus di sekitar Monas hingga Jakarta Pusat pada Maret 2026.
  • Kapten Nandala Dwi Prasetyo menginstruksikan anak buahnya untuk memberi pelajaran kepada target setelah melacak aktivitas rutin melalui internet.
  • Para terdakwa berhasil membuntuti korban yang keluar dari kantor YLBHI pada pukul 23.00 WIB sebelum melakukan penyiraman air keras.

Suara.com - Empat anggota intelijen TNI (BAIS) terungkap sempat melakukan pencarian terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus hingga ke acara Kamisan sebelum peristiwa penyiraman terjadi pada 12 Maret 2026.

Terdakwa I Sersan Dua Edi Sudarko memulai pelacakan dengan mencari informasi melalui mesin pencari Google terkait aktivitas rutin Andrie sehari sebelum rencana eksekusi.

Hasil pencarian digital tersebut menunjukkan bahwa Andrie kerap menghadiri aksi rutin bertajuk Kamisan di kawasan Monas, Jakarta Pusat.

Mendengar informasi tersebut, Terdakwa III Kapten Nandala Dwi Prasetyo langsung memberikan instruksi kepada rekan-rekannya untuk segera bertindak.

"Ya sudah, kalau begitu besok kita ke lokasi dan memberi pelajaran kepada Saudara Andrie Yunus," bunyi potongan kalimat Kapten Nandala dalam dakwaan yang dibacakan oditur di Pengadilan Militer II-08 Jakarta hari ini, Rabu (29/4/2026).

Seperti yang sudah direncanakan, para terdakwa sempat mendatangi lokasi aksi dengan pakaian bebas demi menyamarkan identitas mereka.

Upaya pencarian di Monas ternyata nihil lantaran mereka tidak menemukan keberadaan Andrie di tengah kerumunan massa aksi.

Para anggota BAIS tersebut kemudian melanjutkan pencarian ke arah Tugu Tani, hingga akhirnya membagi tim menjadi dua kelompok berbeda.

Kelompok pertama yang terdiri dari Kapten Nandala Dwi Prasetyo dan Letnan Satu
Sami Lakka bergerak untuk menyisir area kantor YLBHI.

Baca Juga: Empat Prajurit TNI Didakwa Kasus Air Keras Andrie Yunus, Terancam 12 Tahun Penjara

Sementara itu, Letnan Satu Budhi Hariyanto Widhi dan Sersan Dua Edi Sudarko menyisir kawasan Kwitang hingga memantau situasi di sekitar kantor Kontras.

Sekitar pukul 18.30 WIB, Kapten Nandala dan Lettu Sami sempat menepi di sebuah warung kopi daerah Cikini untuk berbuka puasa, sebelum melanjutkan pengintaian.

Keduanya kemudian mondar-mandir di depan kantor YLBHI dengan jarak sekitar 50 hingga 100 meter, demi memastikan pergerakan target.

Pencarian baru membuahkan hasil saat jarum jam menunjukkan pukul 23.00 WIB, ketika mereka melihat Andrie keluar dari kantor YLBHI menggunakan sepeda motor kuning.

Dari situ, aksi pembuntutan hingga proses eksekusi penyiraman air keras terhadap Andrie akhirnya benar-benar terjadi.

Load More