-
Sambaran petir menewaskan 14 orang di Bangladesh termasuk seorang anak berusia sepuluh tahun.
-
Deforestasi menjadi penyebab utama meningkatnya angka kematian akibat hilangnya pelindung alami pohon tinggi.
-
Sebagian besar korban merupakan petani yang sedang bekerja di area terbuka tanpa perlindungan.
Suara.com - Gelombang sambaran petir yang mematikan baru saja merenggut nyawa sedikitnya 14 orang di berbagai wilayah Bangladesh.
Fenomena mematikan ini bukan sekadar faktor alam murni melainkan dampak nyata dari penggundulan hutan secara masif.
Dikutip dari Skynews, ketiadaan pohon-pohon tinggi di area terbuka membuat tubuh manusia menjadi titik tertinggi yang rentan disambar muatan listrik.
Seorang bocah berusia sepuluh tahun menjadi salah satu korban tragis yang kehilangan nyawa saat berada di luar rumah.
Angka kematian ini menyoroti betapa rentannya penduduk di pedesaan terhadap perubahan lanskap lingkungan yang tidak terkendali.
Mayoritas korban yang tewas merupakan para petani dan buruh lapangan yang sedang beraktivitas di area terbuka.
Kondisi lapangan yang gundul tanpa vegetasi pelindung membuat mereka tidak memiliki tempat berlindung saat badai tiba.
Media lokal mengabarkan bahwa anak laki-laki tersebut tewas bersama dua orang lainnya akibat satu sambaran tunggal.
Hujan deras dan badai intens yang melanda ibu kota Dhaka hingga pelosok desa memperparah situasi keselamatan warga.
Baca Juga: Tragedi PRT Lompat dari Lantai 4 Kos Benhil, Polisi Endus Dugaan Tindak Pidana
Beberapa warga lainnya dilaporkan masih dalam kondisi kritis di rumah sakit akibat luka bakar yang parah.
Pakar lingkungan menegaskan bahwa hilangnya pohon-pohon besar telah menghilangkan konduktor alami yang menjauhkan petir dari manusia.
Tanpa adanya pohon tinggi, petir akan langsung menyasar objek apa pun yang berada di permukaan tanah yang lapang.
Deforestasi telah mengubah peta risiko bencana di negara tersebut menjadi jauh lebih berbahaya bagi masyarakat sipil.
Perubahan iklim yang diikuti dengan kelembapan tinggi menciptakan ketidakstabilan cuaca yang memicu munculnya petir dalam jumlah banyak.
Pemerintah terus memantau situasi medis para korban luka yang saat ini sedang berjuang melewati masa kritis.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Apa Itu Sepatu Hybrid? Ini 5 Rekomendasi Buatan Lokal Terbaik dan Serbaguna
- Soal TNI-Komcad Dikerahkan di Demo Mahasiswa, Ini Reaksi Komisi I DPR
- Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
- Motor Mirip Harley-Davidson Harga Rasa Matic: Mending Morbidelli C252V atau QJ Motor SRV250?
Pilihan
-
Aksi di DPR Memanas! Peserta Demo Cipayung Menggugat Ngaku Dianiaya Polisi usai Ditangkap
-
Wasit Liga Indonesia 'Berulah', FIFA Investigasi Kemenangan Timnas Jerman vs Curacao
-
Mahasiswa Gelar Demo di DPR, Tagih Janji 19 Juta Lapangan Kerja dan Desak Hentikan MBG
-
Mau Aksi di Patung Kuda, Mahasiswa UBK Sempat Dihadang di Tugu Tani
-
Anggaran Kunjungan Luar Negeri Prabowo Tembus Rp1,1 T! Lebih Besar dari TKD Satu Kabupaten di NTB
Terkini
-
7 Poin Penting di Balik Tuntutan Soal BBM dan Program MBG
-
Nanik S Deyang Tunjuk Agustina Arumsari sebagai Juru Bicara BGN
-
Peran BGN Terlalu Luas, Komnas HAM Desak Revisi Perpres MBG
-
Polisi hingga DPR Kelola SPPG, Guru Ngeluh Kesulitan Mengadu soal MBG
-
BGN Akui Motor Listrik Masih Menumpuk, Semua Aset Era Dadan Hindayana Akan Dimaksimalkan
-
Cek Langsung Penerima BSPS di Jakbar, Mendagri Dorong Pemda Perluas Dukungan Bedah Rumah lewat APBD
-
Prabowo Terima Utusan Qatar, Kerja Sama Investasi dan Pembangunan Jadi Fokus Pembahasan
-
Siapa Perwakilan Mahasiswa Demo yang Temui Gibran Hari Ini
-
Anggaran MBG 2027 Tembus Rp270 Triliun, Masih Pakai Dana Pendidikan dan Kesehatan
-
Tak Lagi Flat Rp6 Juta, BGN Ubah Aturan Insentif SPPG, Begini Skemanya