- Presiden Prabowo Subianto menunjuk Jumhur Hidayat sebagai Menteri Lingkungan Hidup untuk melawan praktik oligarki perusak lingkungan di Indonesia.
- Rekam jejak Jumhur sebagai aktivis dinilai mampu memutus pola kolaborasi antara korporasi besar dengan elit politik dan aparatur.
- Langkah tersebut berisiko memicu resistensi internal serta eksternal karena posisi Jumhur dinilai rentan tanpa dukungan politik yang memadai.
Suara.com - Langkah Prabowo Subianto menunjuk Jumhur Hidayat sebagai Menteri Lingkungan Hidup dinilai bukan sekadar perombakan kabinet biasa. Keputusan itu dibaca sebagai sinyal keras menghadapi jaringan korporasi perusak lingkungan atau “oligarki hitam”.
Analis politik dan militer Universitas Nasional, Selamat Ginting, menilai pilihan Prabowo itu sebagai strategi untuk menghadirkan figur “outsider” yang bebas dari kepentingan bisnis sumber daya alam.
“Jumhur itu kan tidak terikat secara langsung dengan kepentingan bisnis besar. Dia aktivis, nggak ada kaitannya dengan perusahaan-perusahaan besar,” ujar Selamat Ginting dalam podcast Madilog di kanal YouTube Forum Keadilan TV, dikutip Rabu (29/4/2026).
Selamat menyebut persoalan lingkungan di Indonesia selama ini kerap buntu karena kuatnya relasi antara korporasi besar dengan elite politik dan aparat negara.
Dalam konteks itu, rekam jejak Jumhur sebagai aktivis dinilai menjadi modal penting untuk menghadapi apa yang disebutnya sebagai “mafia lingkungan”.
“Jadi mungkin pesan Presiden Prabowo yang tidak secara eksplisit, tugas Jumhur adalah menghadapi dalam tanda petik atau tidak pakai tanda petik mafia lingkungan itu. Ini istilah yang bisa merujuk pada ada relasi kuasa yang kompleks dan terinstitusionalisasi terlembagakan dengan siapa dengan elit-elit aparatur negara,” jelasnya.
Selamat juga menilai, penunjukan ini sekaligus memberi keuntungan politik ganda bagi Prabowo: merangkul basis buruh sekaligus menempatkan figur berani di garis depan melawan oligarki.
“Mengambil Jumhur menurut saya, Prabowo mendapatkan dua poin. Buruh bisa dia kendalikan, kemudian juga dia bisa memasang Jumhur untuk menghadapi oligarki-oligarki lingkungan hidup, oligarki hitam,” ujarnya.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa problem lingkungan di Indonesia bukan sekadar soal regulasi, melainkan telah menyatu dalam struktur kekuasaan. Karena itu, pendekatan konvensional dinilai tidak lagi memadai.
Baca Juga: Bakal Hadiri May Day 2026 di Monas, Prabowo Subianto Siapkan 'Kejutan' untuk Buruh
“Menurut saya kehadiran figur seperti Jumhur bisa dibaca sebagai usaha Prabowo memutus pola lama. Pola lama ya artinya jaringan yang dulu berkolaborasi dengan pemerintahan lama akan diputus,” tambahnya.
Namun, langkah ini juga menyimpan risiko. Selamat mengingatkan gaya konfrontatif seorang aktivis berpotensi memicu resistensi, baik dari dalam pemerintahan maupun dari kekuatan eksternal.
“Sanggup nggak Jumhur berhadapan dengan situasi yang tidak mudah ini? Gaya konfrontatifnya figur aktivis seperti Jumhur ini menurut saya ini berisiko juga menimbulkan resistensi bagi pemerintahan Prabowo Subianto,” ujarnya.
Selain itu, minimnya basis partai politik dan dukungan finansial besar membuat posisi Jumhur dinilai rentan tanpa sokongan kekuatan politik yang memadai.
“Keberanian seorang Jumhur aja tidak cukup. Dia harus juga kita backup. Tantangan utama yang dihadapi Jumhur adalah betul-betul ada fakta persoalan lingkungan hidup ini menjadi bagian dari struktur kekuasaan tersendiri,” pungkasnya.
Reporter: Dinda Pramesti K
Berita Terkait
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
Pilihan
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
-
Survei SMRC Juli 2026: Elektabilitas Prabowo Anjlok Drastis, Disalip Dedi Mulyadi
-
Malaysia Dikit Lagi Resmi Berstatus Negara Maju, Pendapatan Warga Rp 250 Juta per Tahun
Terkini
-
BI Luncurkan Layanan Baru Penukaran Uang Rusak, Warga Sumsel Kini Punya Lebih Banyak Pilihan
-
Dicap Menteri Problematik, Menhut Raja Juli Dikecam Usai Prioritaskan Hutan untuk TNI
-
Tol Akses Patimban Capai 68 Persen, Pemerintah Kebut Konektivitas ke Pelabuhan Strategis Nasional
-
Metodologi Audit BPKP Dinilai Tak Konsisten, Pakar Desak Evaluasi Total
-
Ada Jejaring Kolektif, Pakar Ungkap Kekayaan Negara Bocor Puluhan Tahun ke Kantong Pribadi
-
Truk Hantam Motor Scoopy di Cileungsi, Penjaga Warung Madura Tutup Usia di Tempat?
-
Perempuan Kini Tak Hanya Menabung, Tapi Juga Mulai Memilih Investasi yang Berdampak
-
Stop Jadi Beban Jalanan, Jasa Raharja-Korlantas Polri Perangi Budaya Melawan Arus
-
Industri Hiburan Indonesia Naik Kelas, Teknologi Jadi Senjata Baru di Balik Pengalaman Spektakuler
-
Bale by BTN Permudah Masyarakat Miliki Rumah Lewat Kolaborasi dengan Rumah123