News / Nasional
Jum'at, 01 Mei 2026 | 12:52 WIB
Buruh Perempuan Cirebon di peringatan Hari Buruh Internasional. (Suara.com/Adiyoga)
Baca 10 detik
  • Ratusan buruh asal Cirebon melakukan aksi unjuk rasa di Jakarta pada Jumat, 1 Mei 2026, menuntut pemenuhan hak-hak dasar pekerja.
  • Para buruh perempuan menuntut kenaikan upah dan kesejahteraan karena gaji Rp2,8 juta dianggap tidak mencukupi kebutuhan pokok serta perawatan diri.
  • Kesenjangan ekonomi memaksa buruh bekerja lembur demi memenuhi biaya hidup sehari-hari agar tetap mampu bertahan di tengah kenaikan harga barang.

Suara.com - Ratusan buruh dari Cirebon, Jawa Barat memadati Jakarta untuk menyuarakan aspirasi mereka tepat pada peringatan Hari Buruh Internasional, Jumat (1/5/2026).

Di tengah riuhnya massa, sosok buruh perempuan bernama Vania bersama rekan-rekannya ikut dalam rombongan yang memperjuangkan nasib para pekerja.

Kehadiran mereka di ibu kota bukanlah tanpa persiapan, melainkan hasil mobilisasi besar-besaran dari para pekerja beberapa perusahaan.

"Satu busnya tuh 30-an lebih lah. Semua PT 900, satu PT 350 orang," ungkap Vania.

Tujuan utama mereka menempuh perjalanan jauh adalah demi menuntut pemenuhan hak-hak dasar yang selama ini dirasa masih terabaikan.

Vania menekankan, fokus perjuangan kali ini menitikberatkan pada problematika yang kerap dihadapi oleh kaum hawa di dunia kerja.

"Mungkin lebih ke hak-hak para pekerja sih. Khususnya perempuan, banyak yang belum dapet. Kayak hari libur, terus kenaikan gaji juga," terangnya.

Persoalan kesejahteraan menjadi semakin pelik ketika membahas mengenai kecukupan upah minimum yang mereka terima di daerah asal, di kisaran Rp2,8 juta.

Diskusi mengenai besaran gaji kemudian mengerucut pada fenomena menarik tentang kebutuhan gaya hidup buruh perempuan masa kini.

Baca Juga: Ambisi Baru Prabowo: Bangun Kota Buruh Terintegrasi, Hunian hingga Transportasi Disubsidi

Bagi mereka, produk perawatan wajah atau skincare bukan lagi sekadar kemewahan, melainkan kebutuhan yang harus dihitung dengan cermat.

Rekan Vania, Elly, mengungkapkan fakta pahit bahwa kenaikan harga barang pokok sering kali membuat anggaran untuk perawatan diri menjadi tergerus.

"Kurang ah, setiap tahun kan skincare nambah mahal. Apalagi ditambah bahan pokok juga, buat perawatan kurang," keluhnya.

Kesenjangan antara pendapatan dan tuntutan hidup yang kian mencekik, memaksa para buruh memutar otak dalam mengelola keuangan.

Elly menambahkan, pengelolaan uang hasil jerih payah mereka di Cirebon harus dilakukan dengan sangat disiplin agar tidak terjadi defisit.

"Kami juga harus pintar-pintar mem-budget," tuturnya.

Load More