- Sekjen KPA Dewi Kartika mengkritik kinerja pemerintah yang dinilai tidak maksimal dalam menangani konflik agraria saat audiensi di DPR.
- Data menunjukkan 211 hari pasca pembentukan pansus, kekerasan, penganiayaan, dan penangkapan terhadap petani serta masyarakat adat masih terus terjadi.
- KPA mendesak DPR memberikan tekanan politik kepada pemerintah dan segera membentuk badan pelaksana reforma agraria guna menjamin distribusi lahan.
Suara.com - Sekretaris Jenderal Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) dari aliansi GEBRAK, Dewi Kartika, melontarkan kritik tajam terhadap kinerja pemerintah saat audiensi aliansi GEBRAK dengan pimpinan DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, dalam rangka May Day, Jumat (1/5/2026).
Dalam forum tersebut, Dewi menyebut para menteri di pemerintahan tidak menjalankan fungsi secara maksimal dalam menangani persoalan agraria yang terus berulang.
“Perlu saya sampaikan kepada pimpinan DPR, menteri-menteri yang ada tidak berfungsi. Kalau eksekutif kedap, maka kami hanya bisa menyampaikan aspirasi di DPR. Dan ini selalu berulang,” kata Dewi.
Ia mengungkapkan, hingga saat ini belum terlihat perubahan signifikan sejak DPR membentuk panitia khusus (pansus) penyelesaian konflik agraria.
Menurut catatannya, sudah 211 hari sejak pansus dibentuk, namun berbagai kasus kekerasan terhadap petani dan masyarakat adat masih terjadi.
Dewi memaparkan, dalam periode Desember 2025 hingga April 2026, setidaknya 22 petani dan masyarakat adat menjadi korban penembakan. Selain itu, 272 orang mengalami penganiayaan akibat pendekatan represif aparat, baik dari unsur TNI, kepolisian, maupun pihak keamanan perusahaan swasta.
Tak hanya itu, sebanyak 450 petani, masyarakat adat, dan aktivis juga dilaporkan ditangkap saat mempertahankan hak atas tanah mereka.
“Artinya sejak dibentuknya pansus, kami masih menunggu perubahan. Apa yang sebenarnya didorong untuk memastikan tidak ada lagi kriminalisasi dan kekerasan terhadap petani dan masyarakat agraris,” ujarnya.
Dewi menilai, berulangnya kasus kekerasan tersebut menunjukkan belum efektifnya mekanisme penyelesaian konflik agraria di tingkat pemerintah.
Baca Juga: Kado May Day untuk Ojol! Dasco: Potongan Aplikator Bakal Dipangkas Jadi 8 Persen
Karena itu, ia mendesak DPR RI untuk memberikan tekanan politik kepada pemerintah agar agenda reforma agraria benar-benar dijalankan.
“Kalau tidak ada tekanan politik dari DPR, maka reforma agraria tidak akan berjalan. Selalu ada alasan klasik kenapa tanah tidak kunjung sampai kepada petani dan buruh tani,” ucapnya.
Selain itu, Dewi juga mendorong percepatan pembentukan badan pelaksana reforma agraria sebagai langkah konkret untuk memastikan distribusi lahan yang lebih adil bagi masyarakat.
Berita Terkait
Terpopuler
- Aliansi BEM Bersatu: Mobil Fortuner Tiyo Ardianto Tercatat Milik Adik Letjen Purn Setyo Sularso
- Milk Cleanser Viva untuk Umur Berapa? Ini Penjelasan dan 5 Pilihan Variannya
- 6 Sepatu Adidas Samba Lagi Diskon 50 Persen di Website Resmi, Kesempatan Langka Separuh Harga
- 4 Cushion Terbaik untuk Usia 40 Tahun ke Atas, Anti Crack Samarkan Garis Halus Seharian
- Merasa Dibohongi, Elza Syarief Mundur sebagai Pengacara Tersangka Korupsi MBG Sony Sonjaya
Pilihan
-
'Sempurna Hanya Milik Allah!' Massa Gelar Aksi Damai Minta MBG Lanjut dan Sikat Koruptornya!
-
Demo Pakai Daster ke Istana, Aliansi Perempuan Tuntut Prabowo Turunkan Harga BBM dan Setop MBG
-
BREAKING NEWS: Kantor Dinas Pendidikan Sulsel Digeledah Kejati
-
Prediksi Argentina vs Aljazair: Head to Head, Susunan Pemain dan Fakta Menarik
-
Aksi di DPR Memanas! Peserta Demo Cipayung Menggugat Ngaku Dianiaya Polisi usai Ditangkap
Terkini
-
PT USU Diduga Redam Kasus Pemerkosaan Buruh Tuli, Korban Di-PHK dan Pelaku Dipindah ke Luar Provinsi
-
Polisi Disebut Sulit Memahami Korban, Kasus Pemerkosaan Buruh Tuli di Madina Berlarut-larut
-
Biar Nggak 'Minta-minta' di Jalan, DPR Minta Polri Hidupkan Lagi Dana Patroli
-
Sindir Polisi 'Ngumpet' di Lampu Merah, DPR Usul Dana Patroli Dihidupkan: Biar Nggak Nyetop Lagi!
-
Diperkosa di Tempat Kerja, Buruh Tuli di Sumatra Kini Menganggur dan Hidup dalam Trauma
-
'Sempurna Hanya Milik Allah!' Massa Gelar Aksi Damai Minta MBG Lanjut dan Sikat Koruptornya!
-
Diperkosa Saat Bekerja di Kebun Sawit, Buruh Tuli Justru Di-PHK dan Pelaku Belum Ditangkap
-
Dijaga LPSK! Andrie Yunus Belum Bisa Muncul ke Publik
-
Sikapi Demo Mahasiswa, Said PDIP Minta Pemerintah Jadi Pendengar yang Baik
-
BEM Bersatu Ternyata Mahasiswa Palsu? Deretan Kampus yang 'Diseret' Konpers Beri Klarifikasi Keras