-
Lima warga sipil tewas ditembak pasukan Amerika saat mengangkut barang dari Oman menuju Iran.
-
Amerika Serikat kerahkan 15.000 personel militer dan ratusan pesawat melalui Operasi Project Freedom.
-
Iran membantah klaim Amerika mengenai serangan terhadap kapal perang dan mengklaim balik serangan rudal.
Kondisi di lapangan semakin simpang siur setelah muncul laporan mengenai serangan rudal terhadap armada perang milik Amerika Serikat.
Stasiun televisi IRIB melaporkan bahwa pihak Teheran sempat melakukan tindakan preventif untuk menghalau kapal Amerika masuk ke Selat Hormuz.
Militer Iran mengklaim telah berhasil menghantam satu unit kapal perang Amerika Serikat dengan menggunakan dua buah rudal.
Klaim serangan rudal Iran tersebut langsung mendapatkan bantahan keras dari pihak Komando Pusat Amerika Serikat di hari yang sama.
Situasi kian mencekam dengan adanya ancaman terbuka dari pemimpin tertinggi Amerika Serikat terhadap kedaulatan Iran di wilayah laut.
Trump juga mengancam Iran dengan konsekuensi menghancurkan apabila Teheran berupaya menyerang kapal-kapal Amerika di dekat Selat Hormuz.
Narasi ancaman ini mempertegas posisi Amerika yang siap menggunakan kekuatan penuh demi mengamankan kepentingan mereka di perairan tersebut.
Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda deeskalasi meskipun jatuh korban dari kalangan sipil dalam peristiwa penembakan di rute Khasab.
Ketegangan di Selat Hormuz diprediksi akan terus meningkat seiring dengan penempatan belasan ribu personel militer Amerika Serikat.
Baca Juga: AS Dituding Peras Suporter! Ongkos Transport Piala Dunia 2026 Naik 1170 Persen
Kawasan ini tetap menjadi titik api paling berbahaya yang mengancam stabilitas keamanan dan ekonomi di wilayah Timur Tengah.
Ketegangan di Selat Hormuz kembali memanas setelah Amerika Serikat meluncurkan Operasi Project Freedom untuk mengawal lalu lintas kapal di perairan tersebut.
Langkah ini merupakan respons Washington terhadap hambatan pelayaran yang diklaim akibat gangguan dari pihak Iran.
Sebaliknya, Teheran menganggap kehadiran armada militer AS dalam jumlah besar sebagai ancaman terhadap kedaulatan dan keamanan regional mereka.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP dengan Baterai 7000 mAh Terbaik 2026, Anti Lowbat Seharian Cocok untuk Ojol
- Siapa Ginka Febriyanti yang Dituding Ikut Demo Bayaran dan Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Sering Mati Listrik? Ini 4 Genset Mini 1000 Watt yang Irit dan Tidak Berisik
Pilihan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Sekjen Partai Buruh Ferri Nuzarli Mundur! 1,3 Juta Anggota ORI Kompak Tinggalkan Partai
-
Prabowo Singgung Kegaduhan Usai Pemilu, Istana Langsung Klarifikasi
-
Sentil Pihak yang Suka Gaduh Usai Pemilu, Prabowo: Saya Kalah 4 Kali Tak Pernah Ribut
-
Penolakan JC Sony Sonjaya Dinilai Hambat Pengungkapan Nama-Nama Penting di Kasus MBG
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Dishub DKI Siapkan Shelter hingga Relaksasi Parkir bagi Ojek Online
-
Jejak Sadis Taufik Hidayat: 4 Indekos Jadi Saksi Bisu Yuvita Dibuat Buta hingga Lumpuh
-
Polisi Bongkar Home Industri Narkoba, Kamar Apartemen Disulap Jadi Tempat Produksi
-
Sekap dan Siksa Yuvita Pakai Helm, Sajam hingga Rokok: Taufik Hidayat Ternyata Penjahat Kambuhan!
-
Jokowi Safari Pakai Kemeja PSI, Golkar Santai Tak Khawatir Pemilih Migrasi