- Nilai tukar rupiah melemah ke level Rp17.423 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Selasa, 5 Mei 2026, ketika BPS mengumumkan pertumbuhan ekonomi 5,61 persen.
- Penyebab utama pelemahan adalah ketegangan di Timur Tengah serta kenaikan harga minyak mentah dunia yang signifikan.
- Bank Indonesia berkomitmen melakukan intervensi pasar untuk menjaga stabilitas rupiah meskipun pertumbuhan ekonomi mencapai 5,61 persen.
Suara.com - Nilai tukar rupiah kembali jatuh pada penutupan perdagangan Selasa sore (5/5/2026). Kini butuh Rp17.423 untuk mendapatkan satu dolar Amerika Serikat.
Dengan demikian nilai tukar rupiah turun sebesar 0,23 persen dibandingkan penutupan pada Senin kemarin di level Rp17.394. Sedangkan kurs Jisdor BI, rupiah masih lemas ke level Rp17.425.
Anjloknya rupiah ini terjadi ketika Badan Pusat Statistik (BPS) pada Selasa mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tumbuh 5,61 persen - jauh di atas estimasi sejumlah lembaga dan analis.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menilai turunnya nilai tukar rupiah lebih banyak disebabkan oleh ketegangan di Timur Tengah yang terus berlanjut. Apalagi, harga minyak mentah terus mengalami kenaikan membuat mata uang Garuda terus melemah.
"Rupiah dan mata uang regional umumnya melemah terhadap dolar AS di tengah kekuatiran akan eskalasi di Timur Tengah dan harga minyak mentah dunia yang masih di atas 100 dolar AS," katanya saat dihubungi Suara.com.
Dia menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia yang 5,61 persen memang belum bisa memulihkan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Lantaran, tekanan Timur Tengah yang masih memanas.
"Data PDB kuartal pertama Indonesia dirilis lebih kuat dari perkiraan dan menahan perlemahan yang lebih besar, tapi perlemahan rupiah diperkirakan masih bisa berlanjut karena akan didikte oleh perkembangan di Timur Tengah dan harga minyak dunia," jelasnya.
Sementara itu pelemahan rupiah juga diikuti oleh beberapa mata uang Asia lainnya. Salah satunya, rupee India mencatat pelemahan terdalam yakni 0,31 persen, disusul ringgit Malaysia yang melemah 0,18 persen. Lalu, baht Thailand melemah 0,07 persen, dolar Hong Kong melemah 0,05 persen, yen Jepang melemah 0,01 perse dan dolar Singapura melemah 0,01 persen.
Sedangkan mata uang Asia lainnya menguat terhadap dolar AS sore ini adalah Won Korea menguat 0,34 persen, yuan China menguat 0,16 persen. Diikuti oleh dolar Taiwan menguat 0,05 persen dan peso Filipina menguat 0,03 persen terhadap dolar AS.
Baca Juga: Rupiah Terlemah Sepanjang Sejarah RI Berdiri, BI Tunjuk Biang Keroknya
Selain itu, indeks dolar yang mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang Utama dunia ada di 98,45, naik dari sehari sebelumnya yang ada di 98,37.
BI: Tren Rupiah Sejalan Negara Mata Uang Negara Berkembang
Sebelumnya pada Selasa pagi Bank Indonesia menjelaskan pergerakan nilai tukar rupiah sejak awal konflik di Timur Tengah hingga saat ini yang menembus level Rp17.400 per dolar AS, masih sejalan dengan mayoritas mata uang emerging market lainnya.
“Philippine peso melemah sebesar 6,58 persen, Thailand baht melemah 5,04 persen, India rupee melemah 4,32 persen, demikian pula dengan Chile peso (-4,24 persen), Indonesia rupiah (-3,65 persen), dan Korea won (-2,29 persen),” kata Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset BI, Erwin Gunawan Hutapea dalam pernyataan tertulis di Jakarta, Selasa.
BI menyatakan akan terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan nilai fundamentalnya.
Bank sentral juga terus mengoptimalkan intervensi di pasar valuta asing melalui transaksi non-deliverable forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan domestic non-deliverable forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Tag
Berita Terkait
-
Jumlah Pengangguran di Indonesia Berkurang 35.000 Orang
-
Rupiah Terlemah Sepanjang Sejarah RI Berdiri, BI Tunjuk Biang Keroknya
-
Apa Saja Dampak Pelemahan Rupiah?
-
Pertumbuhan Ekonomi RI Q1 2026 Capai 5,61 Persen, Purbaya Akui Sempat Tak Bisa Tidur
-
Konsumsi Pemerintah di Triwulan I 2026 Tumbuh 21,81 Persen, Kontribusi ke PDB Terbatas
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
Mosi Tidak Percaya! Jajaran Wakasek dan Guru SMPN di Subang Mundur Massal
-
Lolos ke Final Usai Singkirkan Persija, Lucho Keluhkan Lapangan Dipta yang Keras dan Kering
-
Singkirkan Arema FC, Persebaya Tantang Persib di Final Piala Presiden 2026
-
Apa Itu Registration Ban FIFA? Ini Penyebab Klub Sriwijaya FC Bisa Dilarang Daftar Pemain
-
Jejak Kasus Haji Halim Ali, Dari Pengusaha Besar hingga Ahli Waris Kembalikan Rp127 Miliar
-
Modus Penimbun Pertalite Terbongkar, Isi BBM Berulang Pakai Barcode Berbeda di SPBU
-
Geger Temuan Mayat Mutilasi dalam Karung Beras di Pancoran Mas Depok
-
Jelang HUT ke-81 RI, Masjid Indonesia Pertama di Kanada Barat Resmi Berdiri
-
Diduga Bawa Kabur Kamera Rp200 Juta, DJ Wanita dan Suaminya Dipolisikan di Bogor
-
5 Perubahan Contact Center di Era Generative AI, Tak Lagi Sekadar Layanan Pengaduan