- Indonesia mencatat ribuan kasus kekerasan anak selama 2025 yang menuntut perhatian serius terkait perlindungan hak-hak dasar generasi muda.
- Anak-anak Indonesia menyuarakan isu perkawinan anak dan kekerasan seksual daring dalam forum regional di Antipolo, Filipina, pada 2025.
- Partisipasi anak bertujuan merancang solusi perlindungan yang akan dipresentasikan pada konferensi tingkat menteri di Manila pada November 2026.
Suara.com - Kekerasan terhadap anak masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Mulai dari perkawinan usia anak hingga kekerasan seksual daring, berbagai ancaman terus membayangi tumbuh kembang anak di tengah perkembangan sosial dan digital yang semakin cepat.
Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat terdapat 2.031 kasus pelanggaran hak anak sepanjang 2025. Sementara Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI-PPA) Kementerian PPPA mencatat 16.249 kasus kekerasan terhadap anak hingga pertengahan 2025.
Tingginya angka tersebut mendorong anak-anak Indonesia untuk menyuarakan langsung pengalaman dan keresahan mereka dalam forum internasional “Violence Ends With Us: Asia Pacific Regional Youth-Led Summit on Ending Violence Against Children” di Antipolo, Filipina.
Forum yang mempertemukan anak-anak dari berbagai negara Asia Pasifik itu menjadi ruang bagi generasi muda untuk menyampaikan persoalan kekerasan terhadap anak sekaligus merancang solusi bersama yang nantinya akan dibawa ke forum tingkat menteri di Manila pada November 2026.
Dalam forum tersebut, anak-anak dampingan Wahana Visi Indonesia (WVI) dari Jakarta dan Lombok membawa tiga isu utama yang dinilai sudah tak bisa lagi diabaikan, yakni perkawinan anak, dampak panjang kekerasan terhadap masa depan anak, serta maraknya kekerasan seksual daring.
Perkawinan Anak Dinilai Masih Dianggap Lumrah
Siti, anak perempuan asal Lombok Timur, mengungkapkan bahwa praktik perkawinan usia anak masih kerap dianggap wajar di lingkungannya, salah satunya melalui tradisi merariq kodeq.
Menurutnya, tekanan ekonomi keluarga dan kuatnya norma sosial membuat banyak anak perempuan kehilangan hak untuk menentukan masa depan mereka sendiri.
“Tantangan yang kami alami saat mencoba menyuarakan pendapat adalah minimnya dukungan dan perhatian dari orang dewasa. Mereka memandang kami sebelah mata,” ujar Siti.
Baca Juga: Rumah yang Tak Pernah Selesai Dibangun: Catatan Luka Seorang Anak Perempuan Fatherless
Ia mengatakan, bersama Wahana Visi Indonesia, anak-anak mulai menggandeng tokoh masyarakat dan pemuka agama untuk menyampaikan pentingnya perlindungan anak dan hak anak atas pendidikan.
“Kami juga memberikan edukasi kepada teman sebaya untuk meningkatkan kesadaran bahwa anak-anak punya hak untuk menentukan kehidupannya sendiri,” lanjutnya.
Anak-anak dalam forum tersebut juga menyoroti dampak jangka panjang dari perkawinan usia anak. Banyak anak yang akhirnya kehilangan akses pendidikan, mengalami tekanan mental, hingga rentan terhadap kekerasan dalam rumah tangga.
Tak hanya itu, mereka menilai perkawinan anak turut memperpanjang rantai kemiskinan karena kesempatan memperoleh pekerjaan yang layak menjadi semakin terbatas.
Kekerasan Seksual Online Jadi Ancaman Baru
Selain perkawinan anak, isu kekerasan seksual daring atau online child sexual exploitation and abuse (OCSEA) juga menjadi sorotan utama.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Skenario Jahat Zionis Israel Terkuak! Ciptakan Krisis Malnutrisi di Gaza
-
Viral Tampilan Sederhana Sultan Brunei Saat Wisuda Anak, Netizen: Tapi Jamnya Rp2,3 Miliar
-
Era Baru Dimulai, Robot Rp234 Juta Disumpah Jadi Biksu Buddha
-
Hantavirus Tewaskan 3 Orang, Bakal Jadi Pandemi? Ini Penjelasan Resmi WHO
-
Menuju Pemilu 2029 yang Berbeda, Titi Anggraini Soroti Potensi Keragaman Calon Pemimpin Nasional
-
33 Tahun Tragedi Marsinah, Aksi Kamisan ke-907 Soroti Militerisasi
-
Hantavirus: Antara Risiko Global di MV Hondius dan Kesiagaan di Pintu Masuk Indonesia
-
Jelaskan Istilah Mitra dengan Homeless Media, Bakom RI Beri Kronologi Pertemuan bersama INMF
-
Kaesang Lantik Pengurus DPW PSI Papua Tengah, Nama Jokowi Diteriakkan
-
Ada Kasus Pencabulan Anak di Balik Kasus Narkoba Etomidate WNA China