-
Donald Trump menolak proposal damai Iran dan menyebutnya sebagai tawaran yang tidak dapat diterima.
-
Iran menegaskan tidak akan menyerah dan menuntut ganti rugi serta kedaulatan Selat Hormuz.
-
Harga minyak dunia melonjak tajam akibat ancaman keamanan jalur energi dan kegagalan negosiasi.
Suara.com - Kebuntuan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran mencapai titik nadir setelah tawaran perdamaian dari pihak Iran ditolak secara sepihak.
Langkah ini memastikan perang sepuluh minggu di Timur Tengah akan terus berlanjut dengan risiko gangguan energi yang semakin nyata.
Dikutip dari CNBC, sikap keras kedua negara kini mempertaruhkan stabilitas ekonomi global akibat tersendatnya jalur logistik minyak di Selat Hormuz.
“Saya baru saja membaca tanggapan dari pihak yang disebut sebagai 'Perwakilan' Iran. Saya tidak menyukainya — SANGAT TIDAK DAPAT DITERIMA!” ujar Trump dalam unggahan Truth Social pada hari Minggu.
Teheran memandang persyaratan yang diajukan Amerika Serikat bukan sebagai jalur damai melainkan sebuah paksaan untuk bertekuk lutut.
Pihak Iran menuntut ganti rugi kerusakan perang, kedaulatan penuh atas Selat Hormuz, serta pembebasan aset-aset mereka yang dibekukan.
Tuntutan ini menjadi tembok besar bagi upaya deeskalasi yang diharapkan banyak pihak bisa mendinginkan suasana di kawasan Teluk.
Donald Trump secara tegas menilai poin-poin tersebut sebagai penghinaan terhadap posisi tawar Amerika Serikat dalam konflik ini.
“Kami tidak akan pernah menundukkan kepala di hadapan musuh, dan jika muncul pembicaraan mengenai dialog atau negosiasi, itu bukan berarti menyerah atau mundur,” tegas Presiden Iran Masoud Pezeshkian di platform X.
Baca Juga: Nasib Pasokan Energi Global Kini di Tangan Xi Jinping, Harga Minyak Sudah Melambung Tinggi!
Benjamin Netanyahu juga menyatakan bahwa misi militer belum berakhir karena Iran belum sepenuhnya melucuti kemampuan pengayaan uranium mereka.
Pasar minyak langsung bereaksi negatif terhadap kegagalan negosiasi ini dengan kenaikan harga Brent mencapai kisaran 105 dolar AS.
Kekhawatiran akan penutupan total Selat Hormuz membuat para pelaku pasar bersiap menghadapi skenario terburuk pasokan energi dunia.
Meski sebuah kapal tanker Qatar sempat diizinkan melintas, hal itu dianggap hanya sekadar gestur simbolis yang tidak merubah keadaan.
“Minyak tetap sangat sensitif terhadap berita utama, dengan pasar terjebak di antara harapan deeskalasi dan risiko bahwa bentrokan sporadis tetap menanamkan premi risiko energi dalam valuta asing dan suku bunga,” jelas Christopher Wong, pakar strategi mata uang di OCBC Bank.
Ketidakpastian ini diperparah dengan serangan drone Iran ke beberapa negara tetangga seperti Uni Emirat Arab, Qatar, dan Kuwait.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP dengan Baterai 7000 mAh Terbaik 2026, Anti Lowbat Seharian Cocok untuk Ojol
- Siapa Ginka Febriyanti yang Dituding Ikut Demo Bayaran dan Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Sering Mati Listrik? Ini 4 Genset Mini 1000 Watt yang Irit dan Tidak Berisik
Pilihan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
PAM Jaya Siapkan Ribuan Toren Gratis, Warga Jakarta Diminta Tak Tunggu Kemarau Datang
-
Kerry Dibebani Rp13,4 Triliun, Pengacara Sebut Hakim Pakai Analisis LSM yang Tak Berwenang
-
Putusan Banding Dianggap Janggal, Kerry Riza Ajukan Kasasi ke MA
-
Kepercayaan Polri Tembus 82,4 Persen, Habiburokhman: Jangan Puas Diri, Terus Berbenah
-
Prabowo Tanya Akademisi: Kenapa 81 Tahun RI Tidak Bisa Bikin Mobil Buatan Sendiri?
-
Sikat Parkir Liar di Cawang, 250 Personel Gabungan Derek Mobil yang Nekat Bandel!
-
Perempuan Didorong Jadi Aktor Utama Ekonomi Restoratif, Tak Lagi Sekadar Penerima Manfaat
-
Terkuak! Ini Pemicu Longsor Petamburan: Dari Abrasi Kali BKB hingga Bangunan di Sempadan
-
Sekjen Partai Buruh Ferri Nuzarli Mundur! 1,3 Juta Anggota ORI Kompak Tinggalkan Partai
-
Prabowo Singgung Kegaduhan Usai Pemilu, Istana Langsung Klarifikasi