-
Piala Dunia 2026 terancam oleh cuaca ekstrem seperti panas tinggi dan badai petir.
-
FIFA menerapkan jeda pendinginan wajib guna melindungi kesehatan para atlet di lapangan.
-
Kelembapan tinggi dan kebakaran hutan menjadi faktor tambahan yang mengancam kelancaran turnamen.
Suara.com - Risiko cuaca ekstrem di Amerika Utara menjadi ancaman serius bagi kelancaran agenda besar Piala Dunia 2026.
Kombinasi suhu menyengat, kelembapan tinggi, hingga ancaman asap kebakaran hutan menghantui tiga negara tuan rumah.
Dikutip dari BBC, fisik para pemain akan diuji melampaui batas normal akibat fenomena alam yang sulit diprediksi ini.
Penyelenggara kini berfokus pada mitigasi dampak kesehatan bagi atlet yang bertanding di bawah terik matahari.
Langkah ini diambil setelah evaluasi mendalam terhadap kondisi iklim di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
FIFA secara resmi menetapkan kebijakan jeda pendinginan selama tiga menit pada setiap babak pertandingan.
Kebijakan ini merupakan bagian dari komitmen federasi internasional tersebut dalam menjaga kesejahteraan dan keselamatan para pemain.
Pengalaman pahit terjadi tahun lalu saat enam laga Piala Dunia Antarklub terganggu oleh badai dan panas.
Insiden keterlambatan laga selama dua jam antara Chelsea dan Benfica menjadi alarm keras bagi penyelenggara.
Baca Juga: Profil Timnas Mesir: Raja Afrika Berburu Pembuktian di Level Piala Dunia
Kondisi tersebut memicu Enzo Maresca, manajer Chelsea saat itu, untuk mengatakan bahwa Amerika Serikat "mungkin bukan tempat yang tepat untuk mengadakan kompetisi."
Mayoritas kota penyelenggara di wilayah selatan Amerika Serikat dan utara Meksiko sudah terbiasa dengan suhu ekstrem.
Rata-rata panas siang hari di wilayah tersebut sering menyentuh angka 30 hingga 40 derajat Celcius.
Tingkat kelembapan yang tinggi membuat proses pendinginan alami tubuh manusia menjadi jauh lebih sulit.
Para ahli kini menyoroti Wet Bulb Globe Temperature (WBGT) sebagai ukuran stres panas fisik pada tubuh.
Batas aman bagi atlet elit biasanya berada pada angka 28 derajat Celcius untuk menghindari risiko fatal.
Berita Terkait
Terpopuler
- Xiaomi 17 Jadi Senjata Baru Konten Kreator, Laura Basuki Tunjukkan Hasil Foto Leica
- 5 Bedak Lokal yang Awet untuk Kondangan, Tahan Hingga Belasan Jam
- 6 Rekomendasi Sepeda 1 Jutaan Terbaru yang Cocok untuk Bapak-Bapak
- 5 Bedak Tabur Translucent Lokal yang Bikin Makeup Tampak Halus dan Tahan Lama
- Awal Keberuntungan Baru, 4 Shio Ini Akhirnya Bebas dari Masa Sulit pada 11 Mei 2026
Pilihan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
-
Review If Wishes Could Kill: Serial Horor Korea yang Bikin Kamu Mikir Sebelum Buat Permintaan!
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
Terkini
-
Skakmat Rocky Gerung, Jaksa Ungkap Nadiem Sengaja 'Tutup Telinga' ke Dirjen demi Gol-kan ChromeOS
-
Balas Rocky Gerung Soal Grup WhatsApp Nadiem, Jaksa: Apa Tak Ada Orang Pintar di Kemendikbudristek?
-
Modus Adonan Tepung, WNA India Sembunyikan Emas Rp700 Juta di Celana Dalam
-
Sodorkan Konsep MLPR, Pakar UMY Ridho Al-Hamdi Usulkan 'Omnibus Law Politik' yang Terbuka
-
Sebut White Collar Crime, Jaksa Heran Harta Nadiem Naik Rp4,8 T Saat GoTo Rugi
-
Soroti Kematian Anak dan Warga Sipil di Dogiyai, Mahasiswa Papua Ajukan 19 Tuntutan ke Pemerintah
-
Polda Jambi Bongkar Peredaran Narkoba Jumbo, 20 Kg Sabu dan Ribuan Ekstasi Disita
-
Selly Gantina Soroti Temuan 11 Bayi di Sleman, Minta Negara Utamakan Perlindungan Anak
-
Nama Dirjen Bea Cukai Terseret Kasus Blueray, KPK Diminta Jalankan Perintah Presiden
-
Bermula dari Area Parkir, Polisi Bongkar Penyimpanan 1.000 Butir Ekstasi di Apartemen Greenbay Jakut