Suara.com - Ketahanan pangan Indonesia menghadapi tekanan yang semakin besar di tengah perubahan iklim dan laju urbanisasi. Wilayah peri-urban yang selama ini menjadi penyangga pangan kota besar kini mulai terancam oleh penyusutan lahan pertanian dan menurunnya produktivitas petani.
Peneliti dari The University of Queensland, Prof. Ammar Abdul Aziz, mengungkapkan terdapat dua tantangan utama yang mengancam ketahanan pangan Indonesia, yakni kesenjangan hasil produksi petani dan penyusutan lahan pertanian akibat urbanisasi.
Dalam forum Knowledge and Innovation Exchange Jakarta Summit 2026, Ammar menjelaskan wilayah peri-urban atau daerah penyangga kota kini berada dalam tekanan besar akibat ekspansi perkotaan yang terus meningkat. Di sisi lain, wilayah tersebut tetap memegang peran penting sebagai pemasok pangan bagi kota-kota besar.
Menurut Ammar, kesenjangan hasil produksi membuat sebagian petani belum mampu mencapai produktivitas optimal, sehingga berdampak langsung pada pendapatan dan keberlanjutan sektor pertanian. Kondisi ini diperparah oleh alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan permukiman dan pembangunan kota.
“Kami melakukan pemodelan dinamika sistem hingga 20 tahun ke depan. Jika tantangan ini tidak diatasi, ketahanan pangan akan menjadi persoalan yang semakin serius,” kata Ammar.
Penelitian kolaborasi Australia-Indonesia tersebut menggunakan teknologi geospasial untuk memetakan perubahan penggunaan lahan dan tekanan terhadap wilayah pertanian. Hasil riset menunjukkan urbanisasi yang tidak terkendali dapat mempercepat hilangnya lahan produktif dan meningkatkan kerentanan pangan di masa depan.
Sebagai solusi, tim peneliti mendorong pengembangan kapasitas petani melalui produksi pangan bersertifikasi ramah lingkungan. Strategi ini dinilai mampu menjaga keberlanjutan ekologi sekaligus meningkatkan nilai ekonomi hasil pertanian.
Anggota tim riset dari Universitas Negeri Malang, Ike Sari Astuti, mengatakan tren konsumsi produk berkelanjutan terus meningkat sehingga membuka peluang pasar baru bagi petani.
Di tengah tekanan urbanisasi dan perubahan iklim, para peneliti menilai perlindungan lahan pertanian dan penguatan kapasitas petani menjadi langkah penting untuk menjaga ketahanan pangan Indonesia di masa depan.
Baca Juga: Riset Soroti Dampak Krisis Iklim terhadap Ketahanan Pangan di NTT dan Flores
Penulis: Natasha Suhendra
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP dengan Baterai 7000 mAh Terbaik 2026, Anti Lowbat Seharian Cocok untuk Ojol
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Sering Mati Listrik? Ini 4 Genset Mini 1000 Watt yang Irit dan Tidak Berisik
Pilihan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
PAM Jaya Siapkan Ribuan Toren Gratis, Warga Jakarta Diminta Tak Tunggu Kemarau Datang
-
Kerry Dibebani Rp13,4 Triliun, Pengacara Sebut Hakim Pakai Analisis LSM yang Tak Berwenang
-
Putusan Banding Dianggap Janggal, Kerry Riza Ajukan Kasasi ke MA
-
Kepercayaan Polri Tembus 82,4 Persen, Habiburokhman: Jangan Puas Diri, Terus Berbenah
-
Prabowo Tanya Akademisi: Kenapa 81 Tahun RI Tidak Bisa Bikin Mobil Buatan Sendiri?
-
Sikat Parkir Liar di Cawang, 250 Personel Gabungan Derek Mobil yang Nekat Bandel!
-
Perempuan Didorong Jadi Aktor Utama Ekonomi Restoratif, Tak Lagi Sekadar Penerima Manfaat
-
Terkuak! Ini Pemicu Longsor Petamburan: Dari Abrasi Kali BKB hingga Bangunan di Sempadan
-
Sekjen Partai Buruh Ferri Nuzarli Mundur! 1,3 Juta Anggota ORI Kompak Tinggalkan Partai
-
Prabowo Singgung Kegaduhan Usai Pemilu, Istana Langsung Klarifikasi