News / Nasional
Selasa, 12 Mei 2026 | 14:31 WIB
Ilustrasi perlintasan kereta api di dekat Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (30/4/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • Penjaga perlintasan kereta liar di pinggiran kota menerapkan sistem organisasi profesional dengan jadwal kerja dan hierarki yang teratur.
  • Anak-anak usia SMP mengikuti tradisi ngadal sebagai masa magang untuk belajar menjaga rel dari para senior secara turun-temurun.
  • Sistem pembagian waktu dan penghasilan yang ketat antarwarga mampu mencegah konflik serta memberikan pendapatan ekonomi bagi para penjaganya.

Keteraturan tersebut membuat pekerjaan sebagai penjaga rel liar dianggap cukup menjanjikan secara ekonomi. Menurut Al, seseorang yang sudah memiliki jadwal tetap dan bekerja penuh seharian bisa memperoleh penghasilan hingga Rp500 ribu per hari.

Namun, untuk mencapai posisi itu, seseorang biasanya harus melewati fase ngadal terlebih dahulu sebagai proses pembuktian kemampuan dan kesabaran di pinggir rel.

Fenomena ngadal memperlihatkan bagaimana budaya ekonomi informal tumbuh kuat di kawasan bantaran rel. Sebuah pekerjaan berisiko tinggi dijalankan dengan sistem tradisi tersendiri, bahkan melibatkan anak-anak di bawah umur, di tengah minimnya pengawasan dan keterbatasan pilihan ekonomi masyarakat sekitar.

Reporter: Tsabita Aulia 

Load More