News / Nasional
Selasa, 12 Mei 2026 | 16:02 WIB
Anggota Komisi X DPR RI fraksi PKB, Habib Syarief Muhammad. (tangkapan layar/Bagaskara)
Baca 10 detik
  • Anggota Komisi X DPR RI, Habib Syarief, mendesak MPR RI mengevaluasi total sistem penjurian Lomba Cerdas Cermat di Kalimantan Barat.
  • Polemik muncul karena perbedaan penilaian dewan juri terhadap substansi jawaban identik dari SMAN 1 Pontianak dan SMAN 1 Sambas.
  • Habib mengusulkan penggunaan perangkat audio berkualitas dan rekaman video sebagai bukti otentik untuk menjamin transparansi serta akuntabilitas penilaian lomba.

Suara.com - Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PKB, Habib Syarief Muhammad, memberikan respons tegas terkait polemik yang terjadi dalam Final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 Tingkat Provinsi Kalimantan Barat.

Habib mendesak Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI untuk segera membenahi mekanisme penjurian guna menjaga keadilan dan kredibilitas ajang tersebut.

Desakan ini muncul setelah viralnya insiden di mana dewan juri memberikan nilai berbeda terhadap jawaban yang secara substansi identik dari dua sekolah yang berbeda. Habib menilai inkonsistensi ini sangat merugikan mentalitas pelajar yang tengah berkompetisi.

“Adanya perbedaan penilaian terhadap jawaban yang sama dari dua peserta menunjukkan mekanisme penjurian perlu dievaluasi total. Kami berharap ini menjadi insiden terakhir. Sistem penilaian harus objektif, adil, dan transparan agar kredibilitas lomba tetap terjaga,” ujar Habib Syarief di Jakarta, Selasa (12/5/2026).

Polemik tersebut melibatkan Grup C (SMAN 1 Pontianak) yang dijatuhi nilai minus lima, sementara Grup B (SMAN 1 Sambas) mendapatkan nilai 10 untuk substansi jawaban yang serupa mengenai proses pemilihan anggota BPK.

Juri berdalih adanya ketidakjelasan penyebutan "DPD" oleh Grup C, meskipun peserta merasa telah memberikan jawaban yang lengkap.

Habib menegaskan bahwa pihak panitia tidak boleh menutup mata terhadap kekurangan teknis yang terjadi di lapangan.

"Sesuai petunjuk pelaksanaan, panitia seharusnya memonitor setiap tahapan. Evaluasi pasca-seleksi penting untuk mengidentifikasi kekurangan dan memberikan rekomendasi perbaikan agar tidak terjadi kesalahan pendengaran atau persepsi juri,” katanya.

Sebagai solusi agar kejadian serupa tidak terulang, Habib mengusulkan dua terobosan teknis bagi para dewan juri. Pertama, juri disarankan menggunakan headset atau earphone berkualitas tinggi untuk memastikan jawaban peserta terdengar secara presisi.

Baca Juga: LCC MPR RI Butuh VAR? Warganet Usul Teknologi untuk Hindari Kecurangan Juri

Kedua, penyediaan rekaman audio-visual di setiap sesi untuk menjadi bukti otentik jika terjadi perbedaan pendapat.

“Kalau ada perdebatan, rekaman audio bisa diputar ulang. Ini penting demi akuntabilitas penilaian,” tambahnya.

Meski menyayangkan insiden tersebut, Habib Syarief justru memberikan apresiasi kepada para siswa yang berani melayangkan protes secara kritis.

Ia menilai sikap kritis tersebut adalah wujud nyata dari pemahaman nilai-nilai kebangsaan yang diajarkan dalam Empat Pilar. Ia berharap semangat para pemuda untuk mendalami ideologi negara tidak surut akibat peristiwa ini.

Load More